020209 Nilai Bisnis Wimax Capai Rp 3,6 Triliun

JAKARTA—Nilai bisnis dari jasa internet berbasis teknologi Worldwide interoperability for Microwave Access (Wimax) dalam tahun pertamanya di Indonesia bisa mencapai dua hingga 3,6 triliun rupiah.

“Angka tersebut bisa diraih jika dalam waktu satu tahun perjalanannya di Indonesia sejak ditender ada satu juta pelanggan yang diraih oleh penyelenggara,” ujar Chairperson Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana, kepada Koran Jakarta, Minggu (1/2).

Dia optimis, jumlah pelanggan sebesar itu dapat dicapai karena frekeunsi dibagi berdasarkan 15 zona di seluruh Indonesia . Seandainya di setiap zona dapat diraih sekitar 60 ribu pelanggan, maka target yang dicanangkan tentu menjadi realistis.

Wimax merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar dengan kecepatan akses hingga 70 Mbps yang ditunjang jangkauan luas. Pada pertengahan Januari lalu, pemerintah telah mengeluarkan keputusan menteri komunikasi dan informatika sebanyak empat buah terkait penataan teknologi pita lebar.

Keluarnya empat peraturan tersebut membuat peluang dibukanya tender wimax terbuka lebar pada April nanti. Telkom dan Indosat sudah menyaakan diri berminat untuk mengikuti tender tersebut.

Diungkapkannya, berdasarkan riset yang dilakukan pada pengguna internet di Bandung dan Jakarta belum lama ini, terbukti masyarakat sudah memiliki pengetahuan (awareness) terhadap layanan Wimax .

“Dari 150 responden, sebanyak 63 persen sudah mengetahui tentang teknologi ini. tetapi mereka ingin mengetahui dulu keampuhan dari teknologi tersebut sebelum mencobanya,” tuturnya.

Kabar lain yang menggembirakan, lanjut Dimitri, responden siap membayar 200 ribu-300 ribu rupiah per bulan dengan skema pembayaran adalah bebas menggunakan setiap bulan (time based).”Nah, karena itu saya bisa katakana pasar dari layanan berbasis teknologi ini lumayan besar,” katanya.

Selanjutnya Dimitri mengingatkan, kondisi ideal di atas dapat tercapai jika pemenang tender tidak dikuasai oleh satu operator besar untuk mencapai skala ekonomis . “Pada dasarnya ide pemerintah membagi frekuensi dalam 15 zona adalah bagus. Ini untuk pemerataan. Tetapi saya khawatir jika pemenangnya adalah operator besar. Yang terjadi pembangunan secara bertahap untuk memenuhi lisensi modern, bukan membangun akses internet secara massal,” katanya.

Selain itu, hal lain yang mengkhawatirkan adalah kesiapan perangkat lokal dalam menyediakan infrastruktur. Angka satu juta perangkat dikhawatirkan tidak tercapai karena hanya ada dua pemain lokal yakni Harif dan TRG. Idealnya ada 10 hingga 15 pemain lokal.

“Jika pemain lokal bisa memenuhi permintaan operator akan perangkat tentu akan baik sekali. Operator tentunya ingin mengembalikan investasi dari pembelian frekuensi dan salah satunya dari ketersedian perangkat pengguna,” katanya.

Untuk diketahui, pemerintah memang memiliki aturan yang ketat tentang konten lokal dari produk wimax. Pemerintah mewajibkan pemenuhan konten lokal sekurang-kurangnya tetap 30 persen untuk Subscriber Station (SS) dan 40 persen bagi Base Station.

Berdasarkan catatan, PT Hariff Daya Tunggal Engineering disinyalir sanggup memproduksi hingga 20 ribu unit base station pemancar Wimax dan 200 ribu unit untuk perangkat pengguna hingga akhir tahun ini.

Secara terpisah, Presiden Direktur TRG Sakti Wahyu Trenggono mengaku siap memenuhi kebutuhan nasional bersama Hariff. “Kami siap karena sebentar lagi mau mendirikan pabrik,” tegasnya tanpa menyebut kapasitas produksi yang dimiliki.

Pada kesempatan lain, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, pihaknya sedang mengaji untuk ikut tender pita lebar yang akan diselenggarakan pemerintah.

“Kita sedang mengaji dulu, kemungkinan Indosat maju sendiri atau bekerjasama dengan perusahaan lain untuk menyelenggarakan teknologi ini. Hal ini karena pada prinsipnya teknologi ini hanya komplimentary bagi kami yang berbisnis inti di komunikasi mobile,” jelasnya.

Guntur mengingatkan, kunci sukses dari menyelenggarakan bisnis berbasis Wimax adalah pada model bisnis yang ingin diciptakan. “Teknologi ini masih baru, jika belum apa-apa pemerintah sudah menarik pungutan biaya frekuensi yang tinggi, dijamin harapan untuk meningkatkan penetrasi internet tak akan tercapai karena operator memilih membangun di wilayah yang memberikan keuntungan besar ketimbang rural area,” tuturnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s