Mobile – 8 Tidak Akan Terlalu Ekspansif

JAKARTA–PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) tidak akan terlalu ekspansif mengembangkan jaringannya pada tahun ini akibat belanja modal yang dimiliki tidak sebesar tahun lalu.

Pada 2008, pemilik merek dagang Hepi dan Fren tersebut memiliki belanja modal sebesar 100 juta dollar AS. Sedangkan pada tahun ini diperkirakan terjadi penurunan sebesar 40 persen layaknya yang terjadi di operator lainnya.

“Dapat dipastikan belanja modal kami menurun ketimbang tahun lalu karena adanya krisis ekonomi. Diperkirakan besaran penurunan hampir sama dengan yang terjadi di industri sekarang,’ ujar Dirut Mobile-8 Telecom Witiasmoro Sih Handayanto di Jakarta, Kamis (29/1).

Pemenuhan dari belanja modal tersebut, ungkapnya, akan didapat melalui right issue dan kas internal. “Kapan dilakukan right issue dan berapa besarannya, kita tunggu kondisi ekonomi yang kondusif. Jika dilakukan sekarang, tidak memberikan keuntungan bagi perseroan,” tuturnya.

Diungkapkannya, penurunan belanja modal juga dipicu oleh strategi pengembangan jaringan dari Mobile-8 yang tidak fokus memperluas jangkauan tetapi lebih pada mengisi dan meningkatkan kapasitas.

“Pada tahun lalu kami agresif membangun jaringan hingga berjumlah 1.600 BTS. Infrastruktur itu belum terutilisasi semua. Karena itu tahun ini fokus kita mengisi BTS baru itu terisi trafik,” jelasnya.

Dikatakannya, salah satu cara untuk mencapai tujuan itu dengan menggeber produk baru seperti Sobat yang berisikan empat nomor perdana seluler Fren dalam satu paket penjualan.

“Akhir 2008 diperkirakan pelanggan Mobile-8 berjumlah 3,5 juta nomor. Target kita tahun ini ada pertumbuhan pelanggan sebesar 50 persen dari jumlah akhir tahun tersebut,’ ungkap Direktur Korporasi Mobile-8, Merza Fachys.

Berkaitan dengan adanya tuntutan di pengadilan oleh salah satu Debitur, DB Trustee, Witi mengatakan, pihaknya sedang melakukan negosiasi dengan perusahaan tersebut.

“Sebenarnya tidak ada hal yang luar biasa dengan tindakan mereka (DB Trustee). Hal ini biasa dalam bisnis,” jelasnya.

Dijelaskannya, adanya tuntutan bermula dari berubahnya kepemilikan saham Mobile-8 dimana Media Comm menjual sebagian sahamnya ke Jerash Investment. Saat ini Jerash memiliki 32 persen saham Mobile-8, Media Comm 19 persen, dan sisanya publik.

Akibat perubahan kepemilikan tersebut, DBS Trustee menuntut Mobile-8 membayar hutangnya sebelum jatuh tempo. “Nah, ini yang sedang kita negosiasikan dengan mereka. Masalah dibawa ke pengadilan itu karena mereka perusahaan asing dan ingin menyelesaikan melalui perwakilan di lembaga tersebut,” katanya.

Diungkapkannya, hingga saat ini perseroan belum menunjuk kuasa hukum untuk mewakili perusahaan di pengadilan. “Kita masih memilih jalur negosiasi dulu,” kata Witi.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s