270109 Pelanggan FWA Semakin Dimanjakan

nokia-cdmaBerbahagialah masyarakat yang menjadi pelanggan operator berlisensi Fixed Wireless Access (FWA) pada tahun ini. Hal ini karena regulator sedang berencana membahas kemungkinan digabungkannya Point Of Interconection (POI) dan Point of Charging (POC) dari satu wilayah layanan FWA yang berdekatan.

Seperti diketahui, layanan FWA jika merujuk pada Kepmenhub No. 35/2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas adalah jasa telekomunikasi yang memliki wilayah layanan sesuai dengan kode areanya.

Di Indonesia penyelenggara FWA adalah Telkom Flexi, Indosat StarOne, Bakrie Telecom, Hepi. Terbatasnya wilayah layanan tersebut, diakali oleh operator FWA dengan memberikan layanan roaming ala jasa seluler jika pelanggannya keluar dari kode area. Layanan semacam itu oleh Telkom dinamakan Flexi combo, sedangkan Bakrie Telecom terkenal dengan Esia Go Go.

Jika rencana dari regulator itu terwujud, maka pelanggan yang tinggal di satu wilayah berdekatan seperti Jakarta dengan Bogor atau Jakarta dengan Banten, tidak perlu lagi bersusah payah mengaktifkan jasa roaming semu tersebut karena POC dan POI-nya bergabung dalam satu wilayah.

“Dalam kajian kami tentang pentarifan, kebijakan yang mungkin dilakukan untuk men-triger penurunan tarif adalah penggabungan POC dan POI bagi jasa FWA. Sedangkan untuk seluler tidak mungkin lagi dilakukan karena tahun lalu telah terjadi penurunan tarif yang drastis,” ungkap Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Senin (26/1).

Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Heru, regulator akan merevisi aturan terkait interkoneksi yakni Peraturan Menteri No 8/ 2006.

Heru menjelaskan, penggabungan tersebut tidak hanya akan membuat pelanggan FWA bisa menikmati layanan lebih luas tetapi tarif yang lebih murah.

“Selain itu, kebijakan ini akan membuat penggunaan penomoran oleh operator menjadi semakin efisien,” jelasnya

Terkendala Penomoran

Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi menjelaskan, penggabungan POC dan POI nantinya akan terbentur masalah keterbatasan penomoran, khususnya untuk pelanggan di wilayah padat.

”Di Jakarta saja kami sudah hampir kehabisan blok nomor. Jika masalah ini tidak diselesaikan terlebih dulu, tidak ada gunanya penggabungan tersebut,” katanya.

Menurut Rakhmat, jika fundamental penomoran tidak bisa diselesaikan oleh regulator, solusi lainnya adalah memperluas kode area satu wilayah layanan.

”Sistem kode area yang berlaku sekarang sudah kuno dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Banyak wilayah yang telah bersinggungan satu sama lain karena akses transportasi sudah dibuka,” katanya.

Direktur Korporasi Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengatakan, sebetulnya POI dan POC diatur lebih ditujukan kepada terjadinya iklim interkoneksi yang sehat. Tidak tersedianya POI di setiap area POC untuk FWA mengakibatkan peningkatan biaya interkoneksi lokal bagi operator FWA yang ingin berinterkoneksi dengan operator eksisting yang tidak punya POI.

”Urusan POC dan POI tergantung pengaturan sajalah dan dijalankan konsisten sesuai aturan. Sebenarnya hal ini tidak menjadi terlalu signifikan karena kebanyakan penawaran operator berlaku untuk panggilan ke sesama,” katanya.

Pada kesempatan lain, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengaku tidak iri dengan kebijakan dari regulator yang terkesan memanjakan operator FWA.

”Soal pentarifan seluler dan FWA jika lintas operator (off net) tergantung biaya interkoneksi. Selama ini persepsi tarif murah lebih banyak terjadi pada tarif on net,” katanya.

Dan untuk tarif on nett, lanjutnya, angka yang ditawarkan seluler lebih murah dari FWA. ”Di seluler tarif off net terlihat lebih mahal ketimbang FWA karena biaya interkoneksi seluler masih tetap lebih tinggi dari FWA,” jelasnya.

Sementara itu, Sekjen Indonesia Telecommunication Users Group (IDTUG) Muhammad Jumadi Idris menilai, langkah regulator menggabungkan POC dan POI wilayah layanan FWA yang berdekatan merupakan langkah yang tepat untuk membuka medan persaingan yang seimbang antara FWA dan seluler.

”Kebijakan ini diharapkan membuat operator FWA menurunkan tarifnya agar pengguna merasakan langsung beleid yang akan dikeluarkan oleh regulator tersebut. Karena saya lihat ini seperti soft policy untuk menurunkan tarif, berbeda dengan kebijakan pada April 2008,” jelasnya.[doni ismanto]

2 Komentar

  1. makasih infonya sob…emang pelanggaran ini harus diperbaiki…

  2. sip


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s