220109 Indonesia Ferry Merasa di Jalur Benar

ferryJAKARTA—PT Indonesia Ferry merasa sudah berada di jalur yang benar terkait dengan pengaturan kembali jadwal kapal dalam rangka perbaikan layanan angkutan penyeberangan.

“Kami sudah mendapat dukungan penuh dari Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimoeso, untuk melakukan pengaturan itu semua. Jadi, jika ada pihak-pihak yang mempertanyakan hal tersebut, sebaiknya membaca kembali regulasinya,” tegas Direktur Utama PT Indonesia Ferry Bambang Soerjanto, di Jakarta, Rabu (21/1).

Menurut dia, wewenang pengaturan jadwal tersebut dipayungi oleh Keputusan Menteri Perhubungan No.11/2002 tentang pelaksanaan kegiatan pemerintah di pelabuhan penyeberangan yang diusahakan.

“Kami melakukan hal ini untuk memberikan pemerataan kesempatan berusaha bagi perusahaan lain sehingga tidak terjadi praktik monopoli. Dan sebenarnya isu ini sangat simple. Wong selama ini memang pengaturan jadwal kacau, makanya kita tertibkan,” tegasnya.

Dia menjelaskan selama ini jadwal perjalanan di lintasan Padangbai-Lembar mengalami kekacauan karena adanya kapal yang tidak mematuhi jadwal.

Dalam aturan, kapal yang mengalami kerusakan langsung digantikan oleh kapal yang terdepan di antrian stan by, namun di lapangan penggantinya harus dari perusahaan yang sama.

Hal tersebut menyebabkan jadwal terganggu. Apalagi perusahaan dengan jumlah kapal terbanyak sering ngetem menunggu penumpang penuh.

Dirjen Perhubungan Darat Dephub Suroyo Alimoeso menjelaskan tidak ada kewajiban dalam aturan tersebut bahwa kebijakan pemegang amanat harus atas persetujuan Gapasdap.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Angkutan Danau, Sungai, dan Penyeberangan (Gapasdap) Sjarifuddin Mallarangan,

menuduh Indonesia Ferry telah melakukan pelanggaran KM No 11/2002 dengan mengubah jadwal kapal tanpa persetujuannya, mengacu pada pasal 7 poin a dan b di lintasan Lembar-Padangbai.

“Pengaturan jadwal selama ini tidak ada masalah, PT Indonesia Ferry mengacaukannya,” ujar Ketua Umum Gapasdap Sjarifuddin Mallarangan.

Pasal 7 poin a menyatakan pengaturan jadwal yang dilakukan oleh kepala cabang pelabuhan penyeberangan setempat berdasarkan atas persetujuan pengoperasian kapal angkutan penyeberangan pada lintas tersebut.

Poin b menyatakan pertimbangan pelayanan angkutan dan ketaatan terhadap jadwal yang telah ditetapkan sesuai jumlah trip per hari dan jumlah kapal yang diizinkan melayani lintas bersangkutan.

Sayangnya, Gapasdap mengabaikan poin c, di mana pengaturan jadwal berdasarkan pemerataan kesempatan untuk masing-masing perusahaan pelayaran yang beroperasi di pelabuhan penyeberangan sesuai dengan persetujuan pengoperasian yang diberikan.

Pada tahun lalu, di lintasan Lembar-Padangbai lima perusahaan melayani rute tersebut. Jembatan Madura tercatat sebagai pemilik pendapatan terbesar ( 106 miliar rupiah) dengan 7 kapal. Sedangkan Indonesia Ferry hanya meraih pendapatan sebesar 17,19 miliar rupiah dengan 2 kapal. Ketua umum Gapasdap tercatat sebagai Direktur Utama dari Jembatan Madura. [dni]

1 Komentar

  1. perusahaan pelayaran ferry:
    1.Indonesia ferry(pesero)
    2.SP Ferry
    3.Dharma Lautan Utama
    4.Jembatan Madura
    5.Jemla
    6.GSS
    7.Sindhu Utama Line
    8.Adhi swadarma
    mestinya harus adil masing-masing perusahaan mengoperasikan 3 kapal ferryx8 perusahaan=24 kapal ferry untuk lintas Lembar-Padangbai.
    tinggal mengatur jadwal pengoperasian kapal dan jadwal perawatan untuk kapal(of line )..tentunya bisa adil …..ya khan?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s