150109 ATDI Kaji Penurunan Tarif Angkutan Barang

angkot1JAKARTA—Asosiasi Transporter Darat
Indonesia (ATDI) bersama Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) sedang
mengaji penurunan tarif angkutan barang seiring turunnya  harga Bahan Bakar Minyak
(BBM) jenis premium
dan solar pada Kamis (15/1).

“Kami sedang mendiskusikan penurunan tarif setelah adanya
revisi harga BBM oleh pemerintah ketiga kalinya pada 15 Januari nanti. Pada
Sabtu (17/1) akan diumumkan,” ujar Sekjen ATDI, Desril Muchtar kepada Koran
Jakarta, Rabu (14/1).

Diungkapkannya, berdasarkan kajian sementara penurunan
tarif akan disesuaikan dengan jarak tempuh untuk mengangkut barang karena
parameter perhitungan mempertimbangkan komponen tingkat index konsumsi BBM.

Jika semakin jauh jarak tempuh, kemungkinan penurunan dari tarif
angkutan barang sekitar 4 hingga 5 persen. Sedangkan jika jarak tempuh jarak
dekat, penurunan bisa mencapai 10 hingga 12 persen.

Dicontohkannya, jika barang yang diangkut dari Pulo Gadung
ke Blok M, maka tarif yang biasanya mencapai 500 ribu rupiah kemungkinan besar
terpotong sebesar 12 persen. Sementara untuk barang yang dibawa dari Jakarta ke Medan
yang biasanya dikenakan ongkos sebesar 15 juta rupiah kemungkinan didiskon
tarifnya sebesar tujuh persen.

“Perhitungan yang kami buat memang berbeda dengan
regulator. Kita hanya menghitung dampak konsumsi BBM. Karena ada komponen
lainnya yang mempengaruhi seperti suku cadang, retribusi, dan lainnya,”
jelasnya sambil menambahkan penurunan ini hanya berlaku untuk angkutan barang.

Tarif Penumpang

Pada kesempatan lain, pemerintah dan   Organda
menyepakati penurunan tarif angkutan

ekonomi antarkota antarprovinsi (AKAP) sebesar 7 persen.

Ketua Organda Bidang Angkutan dan Prasarana Rudy
Thehamihardja mengatakan, penurunan 7 persen terjadi setelah pertemuan antara Direktur
Jenderal Perhubungan Darat Dephub Suroyo Alimoeso dan Ketua Umum Organda Pusat
Murphy Hutagalung dengan jajarannya.

“Setelah dihitung-hitung, dengan penurunan harga
premium dan solar seperti sekarang, jatuhnya tarif akan turun sebesar 7 persen. Ini
telah disepakati,” kata Rudy.

Dengan penurunan tarif sebesar 7 persen,   tidak
akan berpengaruh terhadap tarif ekonomi yang diterapkan oleh bus-bus AKAP sekarang
ini. Pasalnya, perusahaan-perusahaan otobus yang mengoperasikan bus ekonomi
sekarang ini telah menerapkan tarif yang sangat murah jauh sebelum ada
penurunan harga BBM.

Rudy menjelaskan, operator bus ekonomi telah menurunkan
tarif hingga 20 persen di bawah tarif batas bawah. Karenanya, penurunan tarif
ini tidak akan mempengaruhi lagi harga tiket bus-bus ekonomi yang ada sekarang.

Dijelaskannya, bus-bus ekonomi mendapatkan perlakukan yang
tidak sama dengan bus non ekonomi atau pun travel. Bila bus kelas ekonomi diharuskan
masuk ke terminal, bus non ekonomi saat ini sudah mempunyai banyak pool,
sehingga tak perlu lagi masuk terminal.

Sedangkan dengan travel, lebih kalah bersaing lagi. Pasalnya kendaraan travel
dibebaskan
memasuki tengah kota
bahkan mengantar penumpang ke tempat yang diinginkan.

Berdasarkan catatan,   tarif
bus AKAP  telah disesuaikan terakhir
tanggal 1 Juni 2008. Kebijakan pemerintah jitu sudah disesuaikan dengan
dinamika serta laju inflasi saat itu. Kebijakan tersebut tertuang dalam
Peraturan Menteri Perhubungan No. KP 288 Tahun 2008 Tentang Tarif Batas Atas
dan Bawah Angkutan AKAP Ekonomi di Jalan dan Bus Umum.

Tarif Batas Atas Wilayah I (Sumatera, Jawa, dan Bali) dikenakan 150 rupiah per  km
per penumpang dan tarif bawah
sebesar 92 rupiah per  km per penumpang. Tarif batas atas sebesar 165 rupiah per km
per
penumpang diberlakukan kepada Wilayah II (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara,
Maluku, dan Papua) dan tarif bawah sebesar 101 rupiah per  km.per penumpang.[dni]

150109 PDA Merek Lokal : Sekadar Menaikkan Gengsi

mito-mobileGerah dengan anggapan hanya mampu menawarkan ponsel untuk segmen menengah bawah, salah satu ponsel merek lokal, Mito Mobile, mulai merambah ke segmen menengah atas.

Tak tanggung-tanggung. Pasar yang disasar langsung penikmat smartphone. Untuk memikat segmen ini, importir tersebut meluncurkan Mito 9000 Power Duo yang menawarkan fitur dual on GSM dengan sistim operasi Windows Mobile 6.0.

“Ini memang salah satu upaya kami menaikkan gengsi ponsel merek lokal. Selama ini kan anggapannya kita hanya mampu menawarkan ponsel untuk segmen menengah bawah. Sekarang kita langsung main di kelas atas,” ujar Marketing Manager Mito Mobile Shirley Imanata, di Jakarta, Selasa (13/1).

Dikatakannya, untuk tahap awal, Mito telah mengimpor dua ribu PDA tersebut langsung dari Taiwan . Sedangkan Mito sendiri seperti biasanya tinggal menempel merek agar gadget tersebut berubah baju seolah-olah keluaran produk lokal dan menyiapkan purna jualnya.

“Perbedaan kami dengan pemain lainnya adalah Mito membuka layanan purna jual. Jadi, kami memiliki tanggung jawab moral dengan barang yang diimpor,” katanya.

Untuk diketahui, saat ini beredar 70 hingga 80 merek ponsel yang diklaim keluaran dalam negeri. Padahal sebenarnya impor dari negeri Tirai Bambu alias China . Kabarnya, hanya dengan modal seratus juta rupiah, maka pedagang bisa membawa sekoper ponsel yang siap ditempeli dengan merek sesuai selera nusantara. Sedangkan masalah kualitas dan purna jual, ditangung sendiri oleh konsumen.

Pemerintah sendiri sudah gerah dengan praktik semacamini dan sedang membahas regulasi tentang tata niaga ponsel. Regulasi tersbut akan mengatur tentang ketentuan menjadi importir ponsel.

Selanjutnya Shirley menegaskan, keseriusan Mito bermain di pasar PDA dibuktikan dengan menggandeng Microsoft Windows sebagai Operating System (OS) dari perangkatnya.

Technology Manager For Southeast Asia Microsoft Deddy Kristiady mengatakan, keunggulan dari OS yang dimilikinya adalah memiliki platform terbuka ketimbang kompetitor sejenis, khususnya untuk pengoperasian layanan push email.

“Jika kompetitor diharuskan terikat dengan gadget tertentu atau operator tertentu. Kami bisa dengan gadget apa saja. Karena itu pangsa pasar kami mencapai 35 persen di segmen PDA,” katanya.

Ketika diminta pendapatnya tentang spesifikasi segmen PDA yang akan disasar, Shirley mengaku masih gelap. ”Segmen ini banyak berasal dari komunitas. Tentang berapa dan bagaimana cara menggarapnya nanti dilihat sambil jalan,” katanya.

Tangkisan Shirley ini seperti menegaskan kembali pernyataanya di atas bahwa Mito hanya ingin menaikkan gengsi merek di mata konsumen. Sedangkan jualan utama tetaplah ponsel kelas murah meraih alias low end.

Kenapa begitu? Sesuai pakem ilmu pemasaran produsen haruslah memiliki analisa pasar khususnya tentang segmen dan ceruk pasar yang akan diraih. Apalagi berbicara PDA dimana sebelum membeli, sejumlah pertimbangan banyak dilakukan oleh para konsumen.

Jika merujuk pada data tahun lalu, terjual 21 juta unit ponsel di Indonesia . Sebanyak 15 persen adalah smartphone dimana PDA termasuk di dalamnya.

Jika Mito tidak fokus mengolah data, dapat dikatakan upaya menaikkan gengsi ini akan seperti menabur garam ke laut. Dan jika mental seperti ini berlanjut terus, dijamin Indonesia akan tetap menjadi negara importir ponsel tanpa pernah menghasilkan produk tersebut.[doni ismanto]

150109 Kaum Medioker Masih Menggeliat

axisIndustri telekomunikasi khususnya nirkabel pada
tahun ini diyakini tetap akan tumbuh positif. Para punggawa operator
memprediksi angka pertumbuhan sekitar 10 hingga 20 persen.

Operator incumbent seperti Telkomsel tetap menargetkan
pertambahan pelanggan  sebesar  10 juta nomor baru, disusul XL (4 juta nomor),
dan Bakrie Telecom (3,5 juta nomor).

Telkomsel saat ini memiliki sekitar 65 juta
pelanggan, XL (25,5 juta pelanggan), dan Bakrie Telecom (7,5 juta pelanggan)

Jika ditelisik, angka yang ditetapkan oleh pemain
lama itu cenderung moderat alias menyesuaikan dengan kondisi pasar. Hal ini
karena pada tahun lalu para raksasa itu  berani menargetkan pertambahan pelanggan
lebih
besar ketimbang angka di atas.

Apabila para raksasa mencoba realistis dengan
kondisi pasar, tidak demikian dengan kaum medioker. Geliat untuk bersaing masih
disemburkan oleh para operator dengan jumlah pelanggan di bawah 5 juta nomor
ini.

Hutchison
CP Telecom Indonesia (HCPT) sebagai pemilik merek dagang 3 (Baca: Three)
menargetkan meraih pelanggan sama dengan tahun lalu. Pada 2008, HCPT
diperkirakan meraih lebih dari 3,2 juta pelanggan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Natrindo Telepon
Seluler (NTS) yang mengusung merek
dagang Axis. NTS  berani menargetkan
pertumbuhan pelanggan hingga 100 persen ketimbang tahun lalu alias meraih tiga
juta pelanggan.

Sedangkan Smart Telecom yang usianya telah
melewati satu tahun juga menargetkan pertumbuhan yang sama yakni meraih pelanggan
baru sebanyak 1,5 juta pelanggan alias setara dengan raihan hingga akhir 2008
lalu.

”Kami tetap menargetkan pertumbuhan yang tinggi.
Hal ini karena pasar masih belum optimal digarap,” ujar Head of Commercial
Marketing Smart Telecom Ruby Hermanto kepada Koran Jakarta, Rabu (13/1).

Presiden Direktur Natrindo Telepon Seluler, Erik
Aas mengungkapkan, di Indonesia pada tahun lalu terjadi peningkatan penggunaan
SIM Card sebesar 72 persen ketimbang 2007. angkanya dari 103 juta nomor menjadi
172 juta nomor.

Dari kartu SIM yang terjual itu, angka kategori
sebagai pelanggan sebanyak 91 juta nomor alias meningkat 38 persen ketimbang
2007.

”Jika melihat penetrasinya seperti itu, pasar
sesungguhnya belum tergarap secara optimal. Hal yang wajar sebagai operator
baru NTS menargetkan raihan tiga juta pelanggan baru tahun ini,” katanya.

Untuk mencapai tujuannya, NTS mempersiapkan
belanja modal sekitar 500 juta dollar AS guna membangun tiga ribu BTS di 30
kota baru. Belanja modal itu merosot hingga 50 persen ketimbang tahun lalu
dimana NTS menggelontorkan dana sebesar 1 miliar dollar AS untuk membangun tiga
ribu BTS.

Sepertiga dari BTS tersebut berupa Node B (BTS 3G)
yang akan melayani seribuan pelanggan data NTS.

”Tahun lalu semua di-set up dari awal. Tahun ini
meneruskan yang sudah dibangun. Belum lagi ada program menara bersama yang
membuat kami menjadi efisien. Karena itu belanja modal mengalami penurunan,”
kata Erik.

Dijelaskannya, jika pada tahun lalu komposisi BTS
yang menggunakan menara bersama sekitar 50 persen, maka pada tahun ini akan
ditingkatkan menjadi 75 persen. Tidak hanya itu, guna meningkatkan citra
sebagai perusahaan yang ramah lingkungan, NTS juga akan mengoperasikan 100 BTS
bertenaga Surya di wilayah Sumatera.

Apabila NTS dan Smart hanya membutuhkan hitungan
bulanan meraih pelanggan di atas satu juta nomor, maka tidak demikian dengan
HCPT. Layanan 3 menembus angka lebih dari 3,2 juta pelanggan setelah hampir dua
tahun beroperasi di Indonesia. Sedangkan NTS hanya membutuhkan waktu 10 bulan
guna meraih tiga juta pelanggan.

Padahal, dari sisi infrastruktur HCPT lebih maju
karena dalam waktu dua tahun telah memiliki enam ribu BTS.”Kami akan meneruskan
pembangunan infrastruktur hingga Kalimantan. Sedangkan untuk Papua,kita belum
tertarik bermain di sana,” kata  Chief
Marketing Officer HCPT Suresh Reddy sambil menambahkan  HCPT  hadir
di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi

Suresh mengeaskan, dalam melihat prestasi satu
operator tidak selayaknya hanya melihat dari sisi raihan pelanggan, tetapi juga
dari pengembangan jaringan dan inovasi pemasaran.

”Tunjukkan pada saya operator mana di Indonesia
dalam waktu 1,5 tahun sudah mampu menjangkau Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Dan
tak dapat dipungkiri kehadiran kami membuat tarif ritel semakin turun di
Indonesia,” tegas Suresh.

Diragukan

Secara terpisah, pengamat telematika dari
Universitas Indonesia Gunawan Wibisono meragukan operator kaum mampu berbicara
banyak tahun ini. Hal ini karena stimulus yang biasanya digunakan untuk
bersaing sudah hilang.

Stimulus itu  adalah  ketatnya aturan tarif promosi dari regulator.
”Pelarangan SMS lintas operator gratis itu tentu memukul telak kaum medioker.
Nah, kalau aturan main tarif promosi dibikin ketat, apalagi yang bisa mereka
tawarkan ke konsumen? Soal luasnya jaringan dan kualitas itu mainan operator
besar,” katanya.

Menurut Gunawan, kaum medioker hanya akan
menikmati sisa-sisa kue persaingan kompetisi di perkotaan besar, sedangkan
untuk rural area tetap saja dikuasai pemain besar.

”Itu karena pemain baru yang dikuasai investor
asing hanya mengincar segmen perkotaan. Di rural mana mau mereka membangun,
soalnya mahal dan tidak ada menara bersama. Dan jika pun ada yang bilang
menjangkau seluruh pulau itu hanya klaim sepihak alias pasang satu BTS untuk
menunjukkan mereka ada,” tegasnya.

Gunawan juga meragukan jumlah sebenarnya dari
pelanggan pemain baru karena tingkat pindah layanan (churn rate) di Indonesia
lumayan tinggi yakni sekitar 30 persen.

Ketika hal ini dikonfirmasi ke Eric Aas, dia
membantah pelanggannya hanya gelembung semu. ”Tiga juta itu pelanggan aktif.
Hal ini karena NTS melakukan pembersihan nomor setiap tiga bulan dengan churn rate
sekitar 10 hingga 12 persen,” tegasnya.

Pernyataan Eric ini berbeda saat pertengahan
Agutus 2008 dimana saat itu Axis mengklaim telah mengaktivasi satu juta
pelanggan. Eric kala itu menegaskan demi kenyamanan  Axis mengutamakan umur yang
panjang bagi satu
nomor.

”Kami memberikan masa tenggang yang panjang agar
pelanggan bisa terus berkomunikasi,” katanya.

Pada kesempatan lain, Ketua Umum Asosiasi
Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys menyatakan tidak perlu
bagi satu operator mengklaim jumlah pelanggan yang membuat heboh industri.

”Di industri ini yang penting adalah revenue.
Hal  ini karena rezim Average Revenue Per
Users (ARPU) masih berlaku,” tegas Merza.

Rezim ARPU akan membuat jumlah revenue muncul
lebih murni ketimbang klaim raihan pelanggan. Jika pelanggan digelembungkan,
tentu akan membuat ARPU menjadi jelek. ”ARPU operator yang   jelek akan
membuat perusahaan tersebut dicap   beroperasi  tidak efektif dan efisien,”
jelasnya.

Selain itu, Merza menyarankan, operator untuk
lebih kreatif dalam menawarkan program pemasaran tidak hanya bergantung kepada SMS
gratis. ”Memang benar SMS itu  menjadi
daya tarik  memperkuat posisi. Tetapi
sebenarnya mesin keuntungan itu kan di layanan suara. Kalau begini sudah
sepantasnya  operator   mencari
stimulus lain dalam menarik pelanggan,” tuturnya.[dni]