100109 Tarif Angkutan Umum Bisa Turun 10%

macet2JAKARTA — Tarif angkutan umum kemungkinan bisa turun mencapai 10 persen dari yang berlaku sekarang jika pada pertengahan bulan ini pemerintah merealisasikan janjinya untuk kembali menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar.

”Saya sudah dipanggil Presiden. Memang ada rencana penurunan BBM. Jika itu terealisir, tentunya ada dampak pada tarif angkutan umum,” ujar Menhub Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Jumat (9/1).

Dikatakannya, regulator telah menumumkan penurunan tarif angkutan umum secara nasional sebesar 5,22 persen, baik untuk antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKDP). Penurunan tersebut diberlakukan paling lambat awal Januari 2009.

Namun, hingga memasuki minggu kedua Januari, para pengusaha angkutan umum, terutama angkutan umum dalam kota , masih memberlakukan tarif lama sebelum turunnya ketentuan tersebut. ”Mungkin setelah BBM turun lagi ada penurunan tarif. Jadi, penurunannya diakumulasi,” ujar Menhub.

Menurut Menhub, masih terdapat sejumlah faktor yang menghambat penurunan tarif angkutan menyusul diturunkanya harga BBM tersebut. Faktor-faktor tersebut, kata Menhub, membuat penurunan harga BBM belum bisa menjadi pendorong utama diturunkannya tarif. Salah satunya adalah mahalnya harga suku cadang kendaraan.

”Seperti ban misalnya, harga produksi dalam negeri saat ini masih jauh lebih mahal dari ban impor. Padahal ban adalah salah satu satu suku cadang yang paling sering diganti,” ujar Menhub. ”Biaya operasional yang harus ditanggung pengusaha angkutan umum di luar BBM memang masih tinggi,” katanya.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, pemerintah kata Mehub, telah meminta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk melobi para produsen suku cadang dalam negeri dan mencari instrumen yang dapat digunakan untuk menurunkan harga suku cadang kendaraan.

Selain masalah suku cadang, lanjut Menhub, kewenangan para pengusaha angkutan yang tidak mau menurunkan nilai setoran terhadap para pengemudi juga memberikan pengaruh terhadap upaya penurunan tarif, terutama tarif angkutan kota .

Untuk menyikapi hal ini, pemerintah daerah diminta berperan aktif melakukan pendekatan kepada para pengusahan angkutan dalam melakukan penyesuaian tarif angkutan kota di masing-masing wilayah. “Beberapa daerah cepat tanggap menyikapi penurunan BBM dengan menghitung angka penurunan tarif angkutan sesuai dengan kewenangannya,” puji Menhub.

Namun, lanjut Menhub, untuk angkutan bus jenis AKAPdan AKDP, dijamin akan langsung turun menyusul penurunan kembali harga BBM. ”AKAP dan AKDP itu bisa turun kalau harga BBM turun,” katanya.

Menurutnya, jaminan itu diperoleh karena tidak ada rintangan untuk penurunan angkutan umum antarprovinsi. Selain itu, selama ini, tarif penumpang kelas ekonomi AKAP sendiri diatur oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

Menhub juga meminta BUMN transportasi segera menurunkan tarif agar menjadi pemicu bagi pihak swasta melakukan hal yang sama. BUMN itu antara lain Damri, Indonesia Ferry (ASDP) dan PT Kereta Api.

“Kalau angkot itu susah diminta turun. Hal ini karena yang berpengaruh biasanya para supir,” paparnya.

Untuk diketahui, pemerintah hingga saat ini telah dua kali melakukan penurunan harga jual BBM untuk jenis premium dan satu kali untuk solar, sejak dinaikkan pada 24 Mei 2008. Penurunan harga premium kali pertama dilakukan pada 1 Desember 2008, dari harga semula 6000 rupiah per liter menjaidi 5.500 rupiah per liter. Kemudian pada 15 Desember 2008, harga jual premium kembali diturunkan menjadi 5000 rupiah per liter.

Sedangkan penurunan terhadap harga jual minyak solar baru sekali dilakukan, yaitu pada 15 Desember 2008 dari 5000 rupiah per liter menjadi 4800 rupiah per liter.[dni]