060109 Solusinya Adalah Regulasi yang Komprehensif

ngetik-smsPada tahun 2008 lalu, jasa pesan singkat (Short Message Services/SMS) tercatat dua kali merepotkan operator telekomunikasi. Pertama, pada pertengahan tahun dengan keluarnya putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menyatakan adanya kartel SMS dilakukan oleh enam operator telekomunikasi.

Kedua menjelang tutup tahun 2008, dimana sebagian operator menjadi memiliki kesibukan meng-upgrade sistem atau menjelaskan ke pelanggan bahwa program gratis SMS lintas operator tidak berlaku lagi.

Jika ditelisik lebih dalam, sangkarut yang ditimbulkan oleh jasa SMS bagi para operator tak dapat dilepaskan dari belum adanya regulasi yang komprehensif guna mengatur layanan ini Regulasi yang ada barulah Permenkominfo No 9/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Telekomunikasi yang Disalurkan Melalui Jaringan Bergerak Seluler.

Sedangkan tuduhan kartel muncul karena pada periode 2004-2008 dimana tidak ada regulsi sebelumnya yang mengatur SMS karena dianggap jasa tambahan.

Akhirnya, para operator melakukan self regulasi. Hal itu dibuktikan ketika Bakrie Telecom baru muncul melalui Esia menawarkan SMS gratis lintas operator, ditegur oleh operator lainnya karena bisa menimbulkan SMS sampah.

Namun, ketika para operator melakukan hal yang sama pada Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT), manajemennya yang dikuasai oleh para ekspatriat berontak. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pun sebagai bapak yang mengayomi industri bukannya menyelesaikan konflik tersebut, malah membiarkan anak-anaknya (para operator) dihukum oleh KPPU.

Padahal, jika BRTI menjalankan fungsi pembinaan tentunya enam operator yakni PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL), PT Telkomsel, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Bakrie Telecom Tbk (BTel), PT Mobile-8 Telecom Tbk, dan PT Smart Telecom, tidak akan menanggung malu akibat putusan KPPU tersebut.

Seperti belajar dari kesalahan masa lalu, operator incumbent dalam kasus mengatasi kembali maraknya SMS gratis lintas operator mengembalikan masalah ini pada regulator. Hasilnya, regulator mendengarkan dan keluarlah larangan yang terkesan mendadak tersebut dari BRTI sehari menjelang tutup tahun 2008.

“Saya bisa memahami keluhan dari para incumbent. Dan saya rasa menghentikan praktik ini adalah suatu hal yang tepat,” kata ketua BRTI Basuki Yusuf Iskandar di Jakarta belum lama ini.

Seperti menyadari kesalahan yang dilakukan selama ini dimana terkesan selalu mengulur-ulur waktu untuk mengeluarkan regulasi khusus tentang jasa pesan singkat, Basuki menegaskan, akan segera dikeluarkan peraturan tentang SMS bersamaan dengan SMS Premium.

“Nantinya kita akan mengatur tarif batas bawah dari SMS. Sedangkan sistem sender keep all (SKA) akan tetap dipertahankan karena jika digunakan berbasis interkoneksi, layanan SMS bisa menjadi lebih mahal akibat adanya penyesuaian billing system,” jelasnya.

Ketua umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys menegaskan, kebijakan seperti adanya penetapan tarif dan aturan main di dalam organisasilah yang dulunya dianggap oleh KPPU sebagai kartel tarif. “Sekarang dengan turun tangannya BRTI akhirnya semua jelas bahwa jasa SMS ini memang memerlukan regulasi yang komprehensif. Untunglah BRTI cepat sadar,” katanya.

Merza mengakui, kesepakatan harga SMS lintas operator memang diperlukan agar trafik antaroperator bisa tetap sehat dan berimbang.

“Sekarang semua terserah regulator. Berapapun harga yang akan mereka tetapkan akan menjadi filter interkoneksi yang sehat bagi SMS antaroperator,” jelasnya.

Direktur Pemasaran Telkom I Nyoman G Wiryanata meminta, dalam menentukan batas bawah tarif SMS nantinya regulator menyerahkan kepada mekanisme pasar. “Rasanya kalau semua diatur oleh regulator jadinya tidak ada kreatifitas,” katanya.

Pada kesempatan lain, pengamat telematika Ventura Elisawati menilai regulasi yang dikeluarkan oleh regulator selama ini memang tak mampu mengimbangi dinamisnya persaingan di industri. “Perkembangan program dan produk telekomunikasi sangat cepat. Dan lifecycle programnya pun makin pendek (1-2 bulan) alias seperti deret ukur,” katanya

Sementara kecepatan regulasi dalam mengikuti perkembangan tersebut masih tidak seimbang alias seperti deret hitung. “Akibatnya yang terjadi operator harus menghentikan program yang baru diluncurkan karena regulasi tidak siap. Kesimpulannya, regulator lebih banyak menjadi pemadam kebakaran ketimbang mencari dimana sumber potensi munculnya api. Tidak ada kreatifitaslah singkatnya,” katanya.

Sedangkan praktisi telematika Judith MS meragukan akan keluarnya regulasi tentang SMS dan SMS Premium dalam waktu dekat karena banyak kepentingan yang bermain di jasa tersebut, khususnya untuk SMS Premium.

“Jika jasa tersebut diatur dalam satu regulasi yakinlah keluarnya akan lebih lama karena SMS Premium itu sudah menjadi tambang berlian bagi sebagian orang. Hal itu kan bisa dilihat dengan cepatnya keluar keputusan menghentikan SMS gratis lintas operator, sementara penyelenggara SMS Premium banyak yang melakukan penipuan, BRTI terkesan tutup mata,” katanya.

BRTI, menurut Judith, selama ini jika menyangkut penyedia konten yang nakal hanya menghimbau operator tidak memberikan kode akses atau peringatan. Padahal, dengan badan usaha baru, penyedia konten itu bisa mendapatkan kembali kode akses baru.

“Seharusnya kan dilaporkan ke pihak berwajib jika memang ada kerugian pelanggan. Bisa digunakan undang-undang perlindungan konsumen kan . Karena itu saya ragukan keseriusan BRTI mengatur masalah SMS Premium ini,” tegasnya.[doni ismanto]

4 Komentar

  1. Dari arsip di harian suara pembaruan, bukankah mas doni sendiri yg justru mengadukan para oprator ke KPPU dan dunia soal KARTEL SMS

    • Saya yakin yang nulis komen ini bukan Mbah Darmo.Soalnya tidak mungkin komennya akan ecek-ecek seperti ini. Jadi, ini siapa? Tunjukkin dong jati diri,mu

  2. Lho lho kok namaku muncul wong aku tdk kasih komentar apa apa kok..pasti ini sabotage

    • Inilah yang perlu diklarifikasi. Nama besar mbah darmo sudah diacak-acak hahaha


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s