060109 Berakhirnya Era SMS Gratis Lintas Operator

mobile phone with SMS #2Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menjelang tutup tahun 2008 lalu mengeluarkan keputusan yang mengagetkan industri melalui kebijakannya melarang operator menawarkan SMS gratis lintas operator bagi pelanggannya.

Bagaimana tidak mengagetkan. Beleid tersebut dikeluarkan sehari menjelang tutup tahun dimana jasa pesan singkat alias SMS tentunya akan banyak digunakan oleh pelanggan untuk mengucapkan selamat tahun baru kepada kerabatnya.

Beberapa operator pun sejak dua bulan sebelum tutup tahun sudah meluncurkan program yang menawarkan bonus SMS lintas operator gratis guna menggaet pelanggan baru menjelang tutup tahun. Operator yang memiliki program tersebut adalah Smart Telecom, XL, Indosat, dan Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT).

Umumnya para operator ini memberlakukan SMS gratis lintas operator setelah pelanggan mengirimkan SMS dalam jumlah tertentu untuk satu hari atau melakukan registrasi terlebih dahulu.

“Kami tidak bisa membiarkan praktik ini berlangsung karena cenderung menyuburkan praktik persaingan tidak sehat,” ujar Ketua BRTI Basuki Yusuf Iskandar di Jakarta menjelang tutup tahun 2008 lalu.

Dijelaskannya, selama ini konsep dari pembagian pendapatan layanan pesan singkat alias SMS masih menggunakan konsep Sender Keep All (SKA). Dalam konsep ini rupiah akan dipegang oleh operator pengirim. Sementara operator penerima berharap pelanggannya melakukan balasan dan untuk mendapatkan nilai rupiah yang sama.

Jika SMS lintas operator digratiskan, tentunya yang mendapatkan rupiah hanya operator pengirim karena biasanya untuk mendapatkan SMS gratis pelanggan disyaratkan mengirim SMS dalam jumlah tertentu.

Singkatnya, operator pengirim telah menyimpan rupiah terlebih dulu, sementara operator penerima hanya digunakan jaringannya untuk mengirim SMS karena belum tentu pelanggannya melakukan balasan jika menganggap SMS yang dikirim adalah informasi sampah.

Jasa SMS selama ini berkontribusi sebesar 30 persen bagi total pendapatan operator. Sedangkan biaya produksi untuk SMS menurut kajian dari regulator sekitar 100 rupiah. Namun operator masih menerapkan harga 150 rupiah dengan alasan adanya tambahan biaya retail.

Menurut Basuki, jika praktik tersebut dibiarkan akan terjadi pengiriman SMS berisi informasi sampah oleh pelanggan yang memiliki SMS gratis sehingga membebani jaringan operator penerima.

“Di Indonesia jika ada sesuatu yang berbau gratisan biasanya akan memacu penggunaan berlebihan. Nah, jika diberikan SMS gratis kasihan jaringan operator penerima. Padahal, akibat murahnya trafik suara, jaringan telah semakin padat kapasitasnya,” ujarnya.

Dia mengibaratkan perilaku operator yang melakukan strategi promosi itu seperti bermain di taman orang lain. “Jelas sekali ini tidak fair play. Kebanyakan yang melakukan ini operator medioker. Tetapi jika operator besar membalas perlakuan mereka, bisa bubar tuh jaringan operator kecil disiram SMS puluhan juta dari operator besar. Kalau sudah begini yang dirugikan adalah pelanggan,” tegas Basuki.

Siap Menjalankan

Menanggapi kebijakan yang diambil oleh regulator, GM Corporate Communication XL Myra Junor mengaku siap menjalankan larangan dari operator.

Myra menegaskan, SMS bukanlah mainan utama dari XL untuk memikat pelanggan sejak menjadi pionir tarif murah di jasa suara. Hal itu bisa dibuktikan pada Tahun baru lalu dimana jumlah SMS terkirim mencapai 130 juta, tetapi trafik suara berada jauh diatasnya yakni mencapai 470 juta percakapan.

Direktur Pemasaran Telkom I Nyoman G Wiryanata mengaku adanya program SMS gratis tersebut memang mengancam jaringan incumbent dan menimbulkan adanya persaingan tidak sehat. “Kami tidak masalah jika pesaing mau gila-gilaan tarifnya jika tidak langsung menganggu jaringan. Tetapi kalau begini kan sepertinya mengacak-acak ‘ladang’ incumbent,”sesalnya.

Sementara Head of Commercial Marketing Smart Telecom Ruby Hermanto menilai putusan yang dikeluarkan regulator minim konsultasi maupun sosialisasi. “Kami baru terima pada 30 Desember 2008, saat semuanya sedang libur,” katanya.

Kerugian Pelanggan

Pengamat Telematika Ventura Elisawati juga menyetujui langkah yang diambil regulator jika ingin menyehatkan industri. “Memang bagi pelanggan terkesan dirugikan. Tetapi tahukah pelanggan kalau operator penerima tidak dapat apa-apa selain jaringan yang terbebani,” katanya.

Dampak dari program ini tentu level of service dari operator itu menurun. Selain itu juga ada ketidakadilan dimana pelanggan operator kecil dengan gampangnya terkoneksi ke pelangganoperator besar dimana yang menanggung beban adalah operator besar. “Ini kan sama saja incumbent membesarkan yang kecil. Terus dia dapat apa? Jelas sekali tidak adil,” tegasnya.

Sekjen Indonesia Telecommunication Users Group (IDTUG) Muhammad Jumadi Idris mendukung kebijakan yang diambil oleh regulator jika benar alasannya SMS gratis yang dikirim banyak berbau SMS sampah.

“Tetapi kami minta juga operator besar untuk menurunkan tarif SMS. Jangan bisanya minta fair play tetapi tarif yang dikenakan ke pelanggan mencekik leher,” tegasnya.

Selain itu, Jumadi meminta, operator memberikan kompensasi bagi pelanggan yang tidak dapat memanfaatkan bonusnya. “Sudah sewajarnya operator mengeluarkan kompensasi karena pelanggan membeli produk karena ingin menikmati bonus. Tidak pada tempatnya operator berlindung dibalik regulasi,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Myra menjelaskan, program bonus yang diberikan berlaku harian sehingga tidak ada masalah dengan keinginan regulator. Namun Myra mengaku butuh waktu untuk memprogram ulang sistem secara teknis agar tidak mengganggu kenyamanan pelanggan.”Materi iklannya pun secara bertahap kami hentikan. Soal ini kami sudah sampaikan pada regulator,” tuturnya.

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro malah mengaku tidak takut dengan adanya tuntutan pelanggan karena setiap program promosinya selalu tidak berlaku di hari-hari libur. Dengan kata lain jumlah 2,21 miliar SMS yang dikirimkan oleh pelanggan Indosat selama 9 hari libur, murni masuk ke kocek operator yang sahamnya dikuasai oleh Qatar Telecom ini.

Sementara itu, Ruby mengaku bingung jika ada tuntutan pelanggan karena putusan yang keluar dari BRTI hanyalah surat biasa bukan keputusan menteri. Padahal ada undang-undang perlindungan konsumen juga yang harus diikuti oleh operator.

“Masalahnya jika pelanggan menuntut ganti rugi terus kami dilindungi siapa? Padahal kebijakan ini datangnya bukan dari operator,” katanya.

Over Acting

Pada kesempatan lain, praktisi telematika Judith MS justru menilai kebijakan yang diambil oleh regulator sebagai tindakan yang berlebihan alias over acting. “Jelas sekali pelanggan dirugikan dalam hal ini. Kenapa sih, pelanggan tidak dibiarkan menikmati jasa telekomunikasi yang murah,” katanya.

Menurut Judith, dalam setiap membuat program promosi operator tentunya telah melakukan perhitungan akan dampak yang ditimbulkan. “Jadi alasan jaringan terbebani itu tidak masuk akal. Kecuali XL dan Indosat, berapa sih jumlah pelanggan operator yang menawarkan gratis SMS? Dan jika pun incumbent membalas, tentu sudah diantisipasi oleh para operator tersebut,” katanya.

Menurut Judith, keputusan yang diambil oleh BRTI banyak keanehannya mengingat saat ini sedang dilakukan pemilihan anggota baru. Secara etika tentunya masalah ini sebaiknya diserahkan kepada anggota BRTI baru yang terpilih nantinya.

“Kenapa putusan ini keluar mendadak. Apakah ada lobi-lobi agar tidak ada yang rugi ketika trafik tahun baru meningkat? Inilah kenapa saya bilang putusan ini terkesan over acting,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s