050109 IPP Direct Vision Kemungkinan Besar Dicabut

JAKARTA—Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) milik PT
Direct Vision (DV) kemungkinan besar akan dicabut pada 20 Januari 2009 nanti
karena setelah tiga bulan dihentikan siarannya tidak ada kemajuan berarti yang
ditunjukkan oleh perusahaan tersebut guna mempertahankan lisensinya.

“Sesuai prosedur, tiga bulan setelah dihentikan harus ada
langkah kongkrit yang dilakukan oleh pemerintah. Dan jika hingga batas waktu
ditentukan belum ada kemajuan, tentu IPP-nya kita cabut,” tegas  Dirjen Sarana
Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI)
SKDI Depkominfo, Freddy Tulung kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Untuk diketahui, Direct Vision adalah penyelenggara TV
berbayar yang sebelumnya bekerjasama dengan Astro Malaysia. Terhitung sejak 20
Oktober 2008 pukul 00.00 WIB sampai batas waktu yang tidak ditentukan, DV
menghentikan siarannya karena  tidak
diperpanjangnya trade mark license agreement penggunaan brand Astro. Hal itu
berujung kepada  dihentikannya berbagai
layanan Astro Malaysia
kepada  DV seperti pasokan channel dan
transmisi satelit.

Saham DV dimiliki oleh PT Ayunda Prima Mitra (49 persen)
dan Silver Concord Holdings Limited (51 persen). Keduanya merupakan entitas
usaha milik Lippo Group.

Regulator pada
akhir Oktober lalu telah  memberikan
peringatan secara tertulis kepada kedua perusahaan  (PT. Ayunda Prima dan PT. Silver
Concord)  untuk memenuhi kewajiban
terhadap publik (pelanggan) dalam bentuk pengembalian hak-haknya (refund). Dan
melakukan pengkajian kembali terhadap perizinan yang dikeluarkan pada PT.
Direct Vision dan pihak-pihak yang terafialiasi.

Astro Malaysia
sendiri  pindah ke lain hati yakni PT
Karya Megah Adijaya (KMA) yang menjadi pemilik merek dagang Aora TV.

“Hingga
sekarang tidak ada kemajuan berarti dari peringatan tertulis yang kita berikan.
Misalnya masalah refund. Sampai sekarang tidaka da kemajuan berarti. Karena itu
kita akan panggil pada awal Januari ini untuk meminta kejelasan,” katanya.

Senior Corporate Affair PT Direct Vision Halim Mahfudz ketika
dikonfirmasi tentang hal ini tidak membalas pesan singkat yang dikirim oleh
Koran Jakarta. Namun, pada akhir Oktober lalu, Halim mengungkapkan, dana
operasional perusahaannya hanya mampu menopang kegiatan selama satu bulan ke
depan untuk membayar gaji para karyawan.

Meskipun
kondisi perusahaan sedang merana,  DV mengaku
telah menyediakan uang standby untuk membayar 36.000 pelanggan yang telah
mendepositkan uangnya selama ini untuk berlangganan siaran DV. Dana yang
disiapkan sebesar 1,4 juta dollar AS tersebut
sudah disiapkan sejak siaran dihentikan 20 Oktober lalu. Namun,  tidak bisa
dicairkan  karena belum mendapatkan izin dari para pemegang
saham

Anggota Komisi I DPR RI Deddy Djamaluddin menilai langkah
pemerintah membereskan karut marut yang diakibatkan oleh DV sudah tepat karena
regulator punya andil atas keberadaan DV.

“Sejak DV itu
beroperasi sudah menimbulkan kontroversi di tanah air. Komisi I pun sudah
berulang kali mengingatkan Menkominfo. Sekarang mereka (Depkominfo) harus
mempertanggungjawabkan hasil ngeyel-nya tersebut,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, sejak awal DV sudah dipermasalahkan tentang
tidak dipenuhinya asas resiprokal berkaitan dengan hak labuh satelit dari Malaysia.
Belum
lagi adanya isu tentang pemberian izin yang disinyalir banyak  aksi patgulipat.

“Tetapi waktu itu kan
Depkominfo yakin sekali dengan langkahnya. Nah, sekarang mereka harus
membereskan karut marut tersebut,” tegasnya.

Sedangkan, Anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) Sudaryatmo menilai sudah sepantasnya regulator turun tangan mengatasi
kasus DV mengingat ada kepentingan publik di dalamnya.

Sudaryatmo meminta, DV dalam memberikan kompensasi ke
pelanggannya tidak membeda-bedakan pelanggan dan menjamin hak pelanggan kembali
ke mereka.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s