301208 Perangkat TRG Terkontaminasi Kandungan Impor

JAKARTA—Perangkat Wimax milik PT Teknologi Riset Global (TRG) yang digembar-gemborkan sebagai hasil rekayasa anak negeri ternyata tak bisa melepaskan diri dari kontaminasi kandungan impor.

Hal itu dibuktikan dengan dirangkulnya Tranzeo Wireless Technologies oleh TRG untuk mengembangkan perangkat Wimax jenis 802.16d standar yang akan digunakan di spektrum frekuensi 2.3GHz and 3.3GHz. Tranzeo adalah salah satu pengembang teknologi wireless terkenal dari Kanada.

Direktur Utama TRG Sakti Wahyu Trenggono ketika dikonfirmasi tentang hal ini mengatakan, adalah hal yang biasa menggandeng perusahaan asing untuk mengembangkan teknologi di Indonesia .

“Perusahaan kami sedang berusaha untuk melepaskan ketergantungan Indonesia pada produk asing. Berapa pun besarnya biaya akan kami keluarkan untuk mewujudkan hal itu,” katanya kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, ketika diwawancara Koran Jakarta, pada Mei lalu, Pria yang akrab disapa Treng ini menegaskan, perangkatnya 100 persen hasil anak negeri. Treng mengklaim pengembangan software sudah 100 persen lokal, begitu juga untuk PCB.

Anggota Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Wahyu Haryadi menyambut baik langkah TRG yang menjalin kerjasama dengan Tranzeo Wireless Technologies Inc.

“Terjadinya sinergi lokal dan global ini penting karena bagaimanapun juga Indonesia memerlukan pengalaman yang telah dimiliki oleh vendor-vendor global tersebut dalam mengembangkan teknologi WiMAX. Diharapkan, dengan model kerjasama tersebut akan terjadi alih teknologi, “ katanya.

Wahyu memuji, keterbukaan yang dilakukan TRG dimana akhirnya mengakui produknya hasil kerjasama dengan vendor asing. “Kalau kenyataan memang kandungan lokal masih minim, ada baiknya diakui saja. Dan semoga ini menjadi pelajaran bagi regulator dalam membuat kebijakan terkait perangkat Wimax,” katanya.

Sebelumnya, FKBWI mempertanyakan tentang pemberian Type Approval (TA) oleh regulator kepada TRG karena dinilai belum ada peraturan menteri tentang Broadband Wireless Access (BWA) dan perangkatnya tidak melalui uji coba di spektrum 2,3 GHz.

Menanggapi banyaknya tudingan kepada perusahaanya, Trenggono mengaku heran, karena seharusnya jika ada anak bangsa yang ingin memajukan industri dalam negeri didukung bukannya malah balik dimusuhi. “Di luar negeri yang kita lakukan ini didukung bangsanya, bukan malah balik dijegal seperti belakangan ini,” sesalnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s