301208 Catatan Akhir Tahun : Ponsel China Makin Berkibar

hp-tvPada tahun lalu, penjualan Telepon seluler (ponsel) di seluruh dunia mencapai angka 1,15 miliar unit. Angka tersebut meningkat 16 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 990,9 juta unit.

Memasuki 2008, Gartner Research Center memprediksi bahwa penjualan ponsel tidak akan lagi mampu menyamai angka tersebut seiring dengan perkembangan pasar yang mulai stabil.

Lembaga riset ini memperkirakan pada 2008 penjualan ponsel akan meningkat sekitar 11 persen atau menjadi 1,28 miliar unit akhir tahun nanti. Pada kuartal pertama tahun ini penjualannya telah mencapai 294,3 juta unit.

Sementara pada kuartal kedua penjualan ponsel mencapai 300 hingga 305 juta unit. Dari tren penjualan tersebutlah diperkirakan untuk total penjualan ponsel selama tahun 2008 akan mencapai 1,28 miliar unit.

Indonesia sebagai salah satu negara yang dianggap sedang berkembang, penjualan ponsel tetap menunjukkan angka yang menggembirakan. Dapat dikatakan, penjualan produk ini tak lekang oleh krisis ekonomi alias semangat berhalo-halo masih kencang di negeri ini.

Padahal, di Indonesia grafik penjualan ponsel berjalan anomali dengan penjualan kartu perdana milik para operator. Jika operator mampu menjual kartu perdana secara total bisa di atas lima jutaan dalam waktu satu bulan, tidak demikian dengan ponsel. Rata-rata penjualan ponsel di Indonesia hanya sekitar 1,3 juta unit setiap bulannya.

Pada tahun lalu tercatat ponsel yang terjual di Indonesia sebanyak 18 juta unit, tentunya tidak sebanding dengan pertumbuhan pelanggan seluler yang menembus angka puluhan juta.

Berbanding terbaliknya penjualan ponsel ini karena frekuensi masyarakat Indonesia berganti nomor lebih tinggi dibanding membeli ponsel. Lihat saja tingkat pindah layanan (churn rate) kartu prabayar yang bisa mencapai 20 persen. Tentu itu membuat perputaran penjualan kartu perdana lebih cepat dibandingkan penjualan ponsel.

Merek yang menguasai pasar saat ini adalah Nokia menguasai 50 persen pangsa pasar, diikuti Sony Ericcson 20 persen, selanjutnya Samsung, dan Motorolla, serta ponsel dari negeri China. Para produsen ponsel di negeri ini menyakini tahun ini penjualan akan naik hingga 30 persen atau sekitar 23 juta unit pada akhir tahun nanti.

Ponsel China

Pertumbuhan sebesar itu akan besar dikontirbusi dari jenis ponsel kategori low end atau ponsel seharga satu jutaan rupiah. Diperkirakan akan ada sebanyak 50 persen ponsel yang dijual datang dari segmen tersebut.

Besarnya pasar low end inilah yang dimanfaatkan oleh produsen ponsel dari negeri Tirai Bambu alias China untuk menggoda pasar. Lembaga riset GfK mengungkapkan hingga triwulan pertama 2008, ponsel China di Indonesia telah menguasai pangsa pasar hingga 9 persen.

Keberhasilan dari merek China tersebut kuncinya terletak pada keberanian menawarkan harga murah dengan fitur yang menggoda ke pelanggan. Dan adanya strategi bundling dari operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) ketika melakukan penetrasi pasar.

Fitur ponsel China yang menjadi killer application adalah TV Turner dan dual mode system. Hal itu terlihat dari keberhasilan salah satu merek China, Hitech, yang mampu menjual 20 ribu unit ponsel TV Turner hanya dalam waktu empat bulan.

Inovasi lainnya yang berani dilakukan ponsel China adalah menawarkan fitur yang lain sama sekali dengan merek terkenal. Lihat saja, merek Mito yang menawarkan fitur ponsel sebagai alat bantu dengar. Fitur-fitur yang unik ini membuat masyarakat tergoda mencoba merek dari China tersebut.

Sedangkan untuk strategi bundling, tak dapat dipungkiri menopang kinerja penjualan ponsel merek China setahun belakangan ini. Merek-merek yang banyak digunakan untuk bundling umumnya yang telah memiliki nama di negeri asalnya seperti Huawei, ZTE, dan Haier.

Kualitas

Merek terkenal tersebut dipilih para operator tentunya untuk menjaga agar namanya tidak

tercemar di mata konsumen. Sudah bukan rahasia lagi, kalau sebenarnya di luar merek besar di atas, ponsel China yang datang ke Indonesia adalah hasil home industry.

Ponsel jenis ini biasanya tidak memiliki layanan purna jual yang jelas kecuali dari toko atau distributornya melalui beberapa outlet. Hal ini tak dapat dilepaskan dari tren di China dimana importir berpeluang menjadi seolah-olah produsen ponsel di negerinya.

Praktiknya adalah, importir disyaratkan untuk membeli ponsel dalam jumlah ribuan untuk mencantumkan merek yang disukainya. Karena itu jangan kaget, ada puluhan merek ponsel yang mengklaim diri ponsel buatan anak negeri. Padahal kenyataannya ponsel itu hasil impor dari China , hanya casing dan merek yang dibuat di Indonesia .

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) pun telah menengarai adanya perilaku tak sehat ini dari kalangan importir tersebut. Pada tahun lalu ada sejumlah nama ponsel asalh China yang berhasil dibuktikan oleh Ditjen Postel tidak sesuai dengan kualitas sertifikasi yang dikeluarkan. Sayangnya, gebrakan merazia pasar itu tak dilakukan lagi oleh regulator tahun ini.

Banyak pihak mengkhawatirkan, jika pelaku bisnis di Indonesia tetap intens mengimpor ponsel dari China , maka mimpi untuk mewujudkan adanya ponsel asli buatan dalam negeri tak akan pernah terwujud.

Pertengahan tahun lalu, secercah harapan disiratkan oleh Departemen Perindustrian yang sedang melakukan kajian bersama Direktorat Bea dan Cukai, dan Asosiasi Importir Telepon Seluler Indonesia . Departemen tersebut telah mencium ulah dari investor ponsel di Indonesia yang enggan menanamkan investasinya secara langsung di Indonesia .

Untuk itu dibuatlah regulasi tentang tata niaga ponsel. Beleid tersebut akan mengatur tentang impor ponsel. Nantinya aktifitas impor ponsel hanya diperbolehkan untuk importir terdaftar. Rencananya akhir tahun 2008 regulasi itu selesai dibahas dan tahun depan diimplementasikan.

Jika memang beleid tersebut benar akhirnya dikeluarkan, semoga tahun depan tidak ada lagi merek ponsel yang mengaku buatan dalam negeri tetapi sebenarnya impor dari China . Dan jika produk dari China memang semakin berkibar, semoga itu adalah hasil produsen yang memiliki nama sehingga kualitasnya terjamin dan masyarakat tidak dirugikan.[doni ismanto]

2 Komentar

  1. loh, razia bukannya masih ada, don? beberapa minggu lalu, ditjen postel nemu label yg gak sesuai sertifikasi. itu bukannya hasil razia?

    • Rin, setahu aku Mas Gatot bilang razia itu terakhir dilakukan tahun lalu. Kalau memang ada razia, kenapa tidak ada diumumkan di situs? memang rencananya bakal ada razia lagi. mungkin yang kamu maksud yang kemarin.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s