271208 Industri Pariwisata Harus Berbasis Komunitas

panorama-in-bali-3JAKARTA—Pemerintah diingatkan
untuk membangun industri pariwisata berbasis kepada masyarakat daerah
(Community base) ketimbang mengutamakan pada target mendatangkan wisatawan
mancanegara (Wisman) ke Indonesia.

”Harus diingat industri
pariwisata itu adalah perekat bangsa ini. Jika tujuan utamanya menjadi mencari
devisa tetapi melupakan pembangunan masyarakat sekitar, maka semua akan
sia-sia,” ujar  pengamat pariwisata I
Gede Ardika kepada Koran Jakarta, Jumat (26/12).

Gede mengingatkan, jika
komunitas suatu daerah tidak diikutsertakan dalam memajukan industri
pariwisata, maka yang terjadi adalah komunitas tersebut merasa tidak ada
gunanya sektor tersebut di daerahnya karena dampak ekonomi tidak dirasakan.

Kondisi seperti itu pernah
dirasakan oleh masyarakat Bali pada sekitar tahu 90-an, dimana rakyat disana
mempertanyakan keberadaan industri pariwisata di daerahanya. ”Nah, sekarang
pemerintah ingin melanjutkan kembali tahun kunjungan wisata. Sebaiknya jangan
digemabr-gemborkan dulu jumlah wisman yang akan datang. Tetapi berdayakan dulu
masyarakat untuk sadar akan kegunaan industri pariwisata,” katanya.

Jika itu dilakukan, lanjutnya,
dampak berganda (multiplier effect) dari pariwisata akan dapat dirasakan
langsung oleh masyarakat daerah seperti ekonomi yang makin maju dan ujungnya
tambahan devisa bagi negara.

Mantan Menbudpar Joop Ave
menambahkan, sebagai industri yang secara tidak langsung paling banyak menyerap
tenaga kerja, pemerintah sudah sewajarnya memberikan perhatian lebih untuk
mengembangkannya.

“Memang benar jika
dikatakan pemerintah jangan hanya mengungkapkan berapa jumlah wisman yang
datang dan devisa yang masuk, tetapi yang paling penting dari itu adalah berapa
jumlah penduduk yang hidupnya langsung atau tidak bergantung pada industri
ini,” ujar Joop.

Dengan demikian, lanjutnya,
sudah sewajarnya  sektor pariwisata bukan
hanya tanggung jawab

Satu departemen yakni
Budpar,   tetapi semua unsur negara harus
mendukung.

Pada kesempatan lain, Menbudpar
Jero Wacik mengungkapkan, program tahun kunjungan wisata (Visit Indonesia Year/
VIY) akan dilanjutkan tahun depan. Tema yang diambil adalah pariwisata berbasis
kelautan
(marine tourism), dan jasa meeting, incentive, convention, and exhibition
(MICE).

Jero
mengharapkan, dilanjutkannya program tersebut akan mendatangkan wisman sebanyak
6,4-6,5 juta jiwa pada tahun depan. Angka tersebut tak berbanding jauh dengan
raihan wisman tahun ini sebesar 6,4 juta jiwa yang mendatangkan devisa  sekitar
7,65 miliar dolar AS. rata-rata pengeluaran wisman per orang per
kunjungan mencapai 1.178 dolar AS, naik dari tahun 2007 sekitar 970 dolar AS.

Jero menjelaskan, dipilihnya tema tersebut karena negeri ini
memiliki pesona wisata kelautan yang sangat menakjubkan untuk menarik  kedatangan
wisatawan asing melakukan kegiatan wisata
dalam bentuk olahraga air (marine sport tourism).  Sedangkan wisata berbasis MICE
didukung
dengan kesiapan infrastruktur seperti resort, padang golf berkelas dunia.

Selin itu, kata Jero,
indutri pariwisata nasional tetap
tidak mengesampingkan promosi pariwisata lainnya secara umum termasuk pengembangan
wilayah daerah tujuan (destinasi) wisata, serta dalam memperkenalkan wisata
alam, pengenalan wisata nilai budaya melalui pengelolaan keragaman budaya, dan
pengelolaan kekayaan budaya.

Ia menjelaskan, berbagai hal yang masih harus dibenahi dan
sekaligus menjadi tantangan industri pariwisata pada tahun 2009 antara lain peningkatan
kualitas layanan di bandara-bandara kedatangan wisman mulai tingkat keamanan
dan kenyamanan pesawat, layanan imigrasi yang tidak mempersulit para tamu
asing, hingga perlunya menjaga kebersihan

toilet yang bagi sebagian orang dapat dijadikan cermin suatu
negara.

Adapun langkah-langkah pengembangan pariwisata dari sisi
promosi yang harus dilakukan untuk menghindari dampak krisis global tahun
depan, meliputi pemeliharaan pasar wisata dengan meningkatkan jumlah penerbangan
langsung, memperbanyak promosi pencitraan Indonesia sebagai tujuan wisata,
melakukan kerjasama promosi dengan industri terkait pariwisata, dan menggalakan
kegiatan-kegiatan khusus.

Sedangkan dari sisi layanan, perlunya penyediaan sistem
informasi pariwisata, kepastian pelayanan di objek-objek wisata, penyediaan moda
transportasi yang aman dan nyaman, melibatkan pemda seputar wilayah objek
wisata.

Sementara dari sisi peningkatan keterjangkauan lokasi wisata
yang harus dilakukanadalah menambah jalur penerbangan termasuk peningkatan
jumlah kapasitas penumpuang, dan mempercepat pembangunan infratruktur.

Menanggapi langkah pemerintah
tersebut, Gede Ardika mengingatkan,   pemerintah harus berhati-hati menjadikan Mice
sebagai andalan mendatangkan wisman karena kepastian dari satu kegiatan
dilaksanakan telah direncanakan dua tahun sebelumnya.

”Rasanya aneh kalau menjadikan
Mice sebagai tema pada tahun depan. Ini kan berarti promosi baru dijalankan
tahun depan dan hasilnya belum tentu diraih instan,” jelasnya.

Ardika menyarankan, ketimbang
sibuk memikirkan datangnya wisman, lebih baik pemerintah memberikan perhatian
kepada wisatwan nusantara (wisnus).”Wisnus terbukti sebagai penyelamat Bali
seusai pemboman. Begitu juga ketika krisis. Yang datang ke daerah wisata itu
semuanya wisnus,” katanya.

Berdasarkan catatan, pergerakan wisatawan nusantara pada
2008 sebesar 223 juta perjalanan meningkat 4,95 persen dari tahun 2007 sebanyak
211 juta perjalanan.

Dari
sisi pengeluaran atau belanja perjalanan wisatawan nusantara tahun 2008
tercatat 107,1 triliun rupiah atau   naik
dari tahun sebelumnya sebesar 102 triliun rupiah.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s