261208 Regulasi Perpasaran Jamin Kelangsungan Industri Nasional

JAKARTA—Regulasi yang diterbitkan oleh departemen perdagangan (Depdag) tentang perpasaran dinilai akan menjamin kelangsungan industri nasional dan pasar tradisional nantinya.

Demikian dikatakan oleh juru bicara aliansi sembilan asosiasi Putri K Wardani dan Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional se-Indonesia (APPSI) Ngadiran, di Jakarta, Rabu (24/12) menanggapi keluarnya Permendag 53/2008 yang merupakan petunjuk pelaksanaan Peraturan Presiden No.112/2007.

Beleid tersebut mengatur secara detail usaha ritel termasuk hubungan antara peritel dan pemasok dalam hal penetapan syarat perdagangan (trading term).

“Regulasi yang dikeluarkan ini memberikan kekuatan bagi industri nasional menghadapi tekanan dari retail modern. Saya rasa ini wujud dari keberpihakan pemerintah terhadap pasar tradisional dan meningkatkan stabilitas dan perekonomian industri nasional,” kata

Putri yang mewakili sembilan organisasi tersebut.

Kesembilan organisasi tersebut adalah Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi), Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI), Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium (Aprogakob), Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Se-Indonesia (Gapmmi), Asosiasi Pemasok Garmen & Aksesoris Indonesia (APGAI), Gabungan Elektronika Indonesia (Gabel), Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim), dan National Meat Processor Association (Nampa)

Menurut Putri, selama ini industri nasional baik manufaktur atau distributor tidak bisa berbuat apa-apa atas trading term yang dibuat oleh peritel modern karena tidak ada regulasi yang mengatur. Akibatnya alokasi dana yang seharusnya dikeluarkan untuk mengembangkan pasar atau produk tersedot untuk mengikuti kemauan dari peritel modern. Inilah salah satu sangkarut kenapa industri nasional tidak bisa tumbuh 30 persen setiap tahunnya.

“Berbisnis dengan peritel modern itu membuat manufaktur mengalami kerugian hingga enam persen. tetapi ini harus kami lakukan, karena konsumen ada di situ. Jika produk tidak berada di situ, kami kalah di pasar,” katanya.

Untuk menutup kerugian di pasar ritel modern tersebut, lanjutnya, biasanya manufaktur akan menggarap pasar tradisional. Sayangnya, pasar tradisional kalah bersaing dari sisi fasilitas dan harga dengan peritel modern. “Jika ditanya, saya maunya masyarakat itu berbelanjalah di pasar tradisional karena ada 13 juta manusia yang menggantungkan hidup di sana ketimbang peritel modern,” tuturnya.

Putri mengharapkan, pengenaan trading term yang dibatasi akan membuat harga produk terkendali sehingga tidak memberatkan konsumen. Hal ini karena setiap tahun nilai trading term naik terus sehingga produsen atau pemasok terpaksa menekan harga jualnya.

Memang dalam beleid terbaru itu secara tegas disebutkan aturan pengenaan potongan harga reguler, potongan harga tetap (fixed rebate), potongan harga khusus (conditional rebate), potongan harga promosi dan biaya promosi.

Khusus untuk fixed rebate dibatasi besarannya maksimum satu persen dari target penjualan selama tiga bulan. Sedangkan untuk conditional rebate dikaitkan dengan target penjualan yang maksimun nilainya 10 persen jika penjualan melebihi 115 persen dari target.

Biaya administrasi pendaftaran barang (listing fee) juga dibatasi untuk setiap jenis kategori pasar dan toko moderen. Untuk kategori hypermarket paling banyak 150.000 rupiah per jenis produk per gerai dan maksimal 10 juta rupiah per jenis produk di semua gerai.

Untuk kategori supermarket paling banyak 75.000 rupiah per jenis produk per gerai dan maksimal 10 juta rupiah per jenis produk di semua gerai. Sedangkan untuk minimarket listing fee dibatasi 5.000 rupiah per jenis produk per gerai dan maksimal 20juta rupiah per produk di semua gerai.

Sementara itu Ngadiran menegaskan, beleid yang dikeluarkan oleh Mendag tersebut tidak bertentangan dengan peraturan Presiden atau Undang-undang dasar. “Beleid ini justru melengkapi dan memperkuat. Jika ada suara-suara yang menentang beleid tersebut berarti tidak peduli dengan kepentingan yang lebih besar yakni masyarakat pasar tradisional,” katanya.

Dia menegaskan, tidak hanya keberlangsungan pasar tradisional yang terpukul selama ini adanya peritel modern, tetapi pemasoknya juga ikut terpukul. Hal ini karena bukan rahasia lagi setiap ritel modern membuka titik layanan memukul kantong usaha tradisional di sekitarnya.

“Di pasar tradisional ini jutaan orang menggantungkan hidupnya. Dan jangan lupa,seandainya pasar tradisional tidak ada maka konsumen juga yang akan dirugikan karena ritel modern berubah menjadi monopoli baru sehingga bisa seenaknya menetapkan harga,” tegasnya.

Bertentangan

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Benjamin Mailool menegaskan, Permendag 53/2008 bertentangan semangatnya dengan Peraturan Presiden 112/2007, sehingga pihaknya akan menyurati Mendag untuk merevisi aturan tentang trading term.

Dalam Perpres tersebut masalah hubungan antara pemasok dan peritel diberikan kebebasan dalam mengatur kontrak dan diserahkan dalam bentuk business to business (B2B).

“Di Permendag tersebut trading term berlaku untuk perusahaan besar bukan hanya Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM). Jika dengan UMKM ada aturan sendiri dan itu kami patuhi. Ini kan urusannya dengan perusahaan besar karena 90 persen kita berurusan dengan mereka, seharusnya dibiarkan bernegosiasi secara B2B,” katanya.

Menurut Benjamin, jika trading term diatur besaran angkanya akan membuat semangat free of trade menjadi hilang dan membuat titik keseimbangan di pasar yang berbasis pada azas kebebasan berkontrak menjadi lenyap.

“Selain itu, saya juga khawatir jika besaran trading term ditentukan akan menimbulkan pungutan liar karena banyak pemasok yang mau memasukkan barang ke peritel sementara besaran trading term sama. Kalau sudah begini tentunya yang bicara deal under the table,” katanya.[dni]


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s