261208 Pengembangan Jaringan 2009: Lebih Fokus Pada Kapasitas

Tahun depan persaingan di industri telekomunikasi dipastikan tetap akan ketat. Pelakunya tak bisa dilepaskan dari empat pemain besar, tanpa memandang lisensi yang dikantonginya. Keempat operator tersebut adalah Telkom grup, Indosat, XL, dan Bakrie Telecom.

Kenapa hanya empat operator tersebut?. Hal ini karena dari sisi pangsa pasar dan kekuatan modal, keempat pemain inilah yang sebenarnya mengharu biru di pasar. Telkom melalui layanan Fixed Wireless Access (FWA) Flexi menguasai 50 persen pangsa pasar layanan tersebut diikuti oleh Bakrie Telecom.

Sedangkan di seluler, anak usaha Telkom, Telkomsel, nangkring di posisi pertama dengan menguasai 50 persen pangsa pasar, disusul Indosat dan XL.

XL pada tahun depan telah mengisyaratkan akan memiliki belanja modal sebesar 700 juta dollar AS atau turun sekitar 41,6 persen dibandingkan tahun ini yang mencapai 1,2 miliar dollar AS. Sedangkan Bakrie Telecom berencana akan menggelontorkan dana sebesar 200 juta dollar AS .

Sementara Telkom grup memperkirakan akan memliki belanja modal sama dengan tahun ini yakni sekitar 22 hingga 24 triliun rupiah. Sebesar 60 persen akan diserap oleh anak usaha yakni Telkomsel dan sisanya untuk mengembangkan bisnis nirkabel lainnya yakni Flexi dan jasa multimedia lainnya.

Menurut Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), pada tahun depan tingkat pertumbuhan pelanggan hanya sebesar 20 persen, sementara menit pemakaian akan tetap naik empat hingga lima kali lipat dari tahun ini. Sedangkan untuk pertumbuhan pendapatan diperkirakan akan flat layaknya tahun ini.

Angka pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan sebesar 10 persen dibandingkan tahun ini. Pada 2008 penetrasi layanan telekomunikasi di Indonesia menembus angka 65 persen dari total populasi penduduk. Penetrasi itu membuat ada 143 juta nomor aktif yang digunakan oleh penduduk Indonesia hingga akhir 2008.

Ketua Komite Tetap Telematika Kadin Anindya N. Bakrie memperkirakan pada tahun depan total belanja modal sektor telematika mencapai 70 triliun rupiah alias sama dengan tahun ini.

“Belanja modal dari operator akan banyak terserap untuk meningkatkan kapasitas dari jaringan, sedangkan untuk perluasan hanya sesuai dengan kebutuhan pasar,” katanya di Jakarta , belum lama ini.

Biasanya, 85 persen dari belanja modal operator setiap tahunnya untuk perluasan jaringan dan sisanya meningkatkan kapasitas. Maka pada tahun depan kemungkinan besar porsinya akan terbalik.

Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengungkapkan, operator akan lebih menitikberatkan pada peningkatan kapasitas jaringan agar kualitas layanan terjamin.

“Penurunan tarif membuat kualitas layanan dari operator menurun pada tahun ini. Tahun depan itu titik berat operator adalah menjaga pelanggan yang didapat tidak hilang, karena itu kapasitas dinaikkan agar menit pemakaian yang tinggi dapat terpenuhi oleh jaringan,” jelasnya.

Direktur Niaga Telkomsel Leong Shin Loong mengungkapkan, jika induk usaha masih mengalokasikan dana sebesar 15 triliun rupiah bagi perseroan, maka pada tahun depan selain menigkatkan kapasitas, Telkomsel akan tetap serius mengembangkan jaringan ke pelosok desa melalui program “Telkomsel Merah Putih”.

Optimisme yang disemburkan oleh Leong untuk menggarap pasar pedesaan tentu tak dapat dilepaskan dari posisi Telkomsel sebagai kandidat kuat pemenang tender telepon desa untuk kawasan Pulau Sumatera, Laminatan, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa. Dalam proses lelang yang sedang berlangsung, untuk kawasan tersebut, anak usaha Telkom ini melaju sendirian tanpa ada penantang.

Permen QoS

Faktor lain yang membuat operator mulai besar mengalihkan belanja modal pada peningkatan kapasitas jaringan tentunya tak dapat dilepaskan dari keberadaan Peraturan Menteri (Permen) tentang kualitas layanan (Permen Quality Of Services/QOS) yang dikeluarkan pada awal Mei 2008.

Regulasi tersebut dikeluarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Muhammad Nuh untuk menjaga dampak buruk dari turunnya biaya interkoneksi pada bulan sebelumnya.

Aturan tersebut memberikan parameter untuk mengukur kualitas layanan operator mulai dari kinerja perhitungan tagihan, lamanya penyelesaian keluhan pelanggan, jumlah gangguan, jumlah panggilan yang terputus, keberhasilan panggilan, dan lamanya waktu menjawab panggilan pelanggan ke pusat layanan.

Aturan ini berlaku bagi penyelenggara jasa teleponi dasar pada jaringan tetap lokal, jaringan tetap sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), jaringan tetap sambungan internasional, jaringan bergerak seluler, dan jaringan tetap mobilitas terbatas.

Agar lebih bertaring, regulasi ini juga disertakan dengan sanksi denda. Regulator mengajukan denda maksimal 10 miliar rupiah bagi operator yang tidak mampu memenuhi standar kualitas layanan untuk interkoneksi dan sewa jaringan.

Denda yang berlaku bagi kedua hal tersebut adalah jika operator terbukti melakukan manipulasi akses, terlambat mengembangkan titik interkoneksi, mendiskriminasi harga dan akses, serta pemberian informasi yang tidak benar.

Sedangkan untuk kegagalan dalam memenuhi kualitas layanan yang bersangkutan dengan pelanggan seperti lambat menanggapi pengaduan dan lainnya, operator terancam denda mulai 500 ribu rupiah hingga 10 juta rupiah.

Sayangnya, berlakunya sanksi denda tak serta merta dengan disahkannya Permen tersebut. Sanksi denda baru berlaku setelah setelah revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 28/2005 tentang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) selesai dibahas oleh departemen keuangan dan Dephukham. Rencananya, Juli lalu PP PNBP seharusnya sudah selesai, tetapi entah kenapa hingga sekarang tidak ada kabar-kabarinya.

”Denda itu dihitung sebagai PNBP. Karena itu kami merevisi dulu aturan PNBP-nya,” jelas Juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto.

Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja mengatakan, aturan kualitas layanan bukanlah hal yang ditakutkan karena persaingan memang harus digeser dari perang tarif menjadi perang kualitas layanan.

“Kami sangat mendukung keluarnya aturan tersebut karena memang sudah saatnya operator menonjolkan kualitas layanan yang dimiliki,” katanya.

Menurut Kiskenda, penurunan tarif yang dilakukan operator telah membuat tingkat okupansi jaringan operator meningkat sehingga dikhawatirkan kualitas layanan menjadi menurun.”Aturan itu akan membuat operator sadar tidak bisa mengejar jumlah pelanggan tanpa membangun jaringan,” tambahnya.

Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam menambahkan, masalah kualitas layanan merupakan hal yang harus diperioritaskan operator sebagai penyedia jasa. ”Konsumen itu adalah raja. Hukuman paling berat bagi operator ketika pelanggan meninggalkannya. Jadi untuk masalah Qos, kita tidak keberatan menjalankan aturannya,” kata Johnny.

“Penerapan Qos memang dibutuhkan agar masyarakat terlindungi dari praktik merugikan yang dilakukan operator,” kata Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi.

Hasnul menjelaskan, sebenarnya setiap operator telah memiliki standar kualitas masing-masing untuk melayani pelanggan. ”Adanya aturan tentang Qos tentu membuat adanya keseragaman di operator sehingga masyarakat dapat mengukur kualitas layanan yang diterima,” jelas Hasnul.

Menurut Hasnul, meskipun pada prinsipnya aturan tersebut dibutuhkan untuk dijalankan, namun melihat kondisi kompetisi saat ini, sebaiknya dijalankan secara longgar terlebih dulu. ”Operator telekomunikasi ada sebelas. Jika semua dipaksa menjalankan secara ketat, bisa bubar nanti semua operator baru,” katanya.

Para pengguna telekomunikasi yang tergabung dalam Indonesia Telecommunication Users Group (IDTUG) mendukung kebijakan dari operator mulai tahun depan lebih menitikberatkan pada masalah kapasitas jaringan karena selama ini mereka sudah tersiksa oleh menurunnya kualitas layanan operator sejak penurunan biaya interkoneksi pada April lalu.

Sekjen IDTUG Muhammad Jumadi mengungkapkan, sejak tarif murah diberlakukan oleh operator, kualitas layanan yang diberikan cenderung menurun. Tiga operator besar, Telkomsel, Indosat, dan XL, saat jam-jam tertentu sangat buruk kualitas sinyalnya.”Untuk menelepon saja susah. Karena itu kita harapkan secepatnya operator memperbaiki jaringannya,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s