261208 DPR Dukung Bulog Tangani Kebutuhan Pokok

JAKARTADewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendukung niat dari Perum Bulog untuk mengelola pendistribusian bahan pokok selain beras.

“Jika Bulog memang telah siap untuk mengelola bahan pokok selain beras, kami mendukung itu dilakuakan lembaga tersebut. Hal ini sebenarnya pernah dibicarakan, dan kami tak keberatan mereka (Bulog) melakukan itu,” ujar Anggota DPR dari Komisi IV DPR Suswono, kepada Koran Jakarta, Kamis (25/12).


Menurut dia, Bulog mampu menangani distribusi bahan pokok selain beras karena selama ini telah memiliki jaringan pegudangan dan distribusi yang luas. “Institusi ini cukup bagus dan layak mendapatkan tugas tersebut (mengelola bahan pokok lainnya),” katanya.

Dikatakannya, turun tangannya Bulog menangani bahan pokok selain beras akan menjaga ketersediaan komoditas selain beras di pasar. “Untuk sementara selain beras yang paling layak ditangani Bulog memang gula, jagung, dan kedelai. Komoditas ini kan vital bagi kebutuhan pokok masyarakat,” tuturnya.

Suswono mensyaratkan, jika Bulog ingin menangani bahan pokok selain beras, maka tugas untuk mengelola beras raskin tak boleh diabaikan. “Syaratnya tugas pokok itu diamankan dulu,” katanya.

Dia juga mengaku tidak khawatir, kembalinya Bulog menangani banyak bahan pokok akan mengembalikan badan usaha milik negara (BUMN) tersebut seperti era orde baru.


“Fungsinya hampir mirip. Tetapi peluang akan terjadinya penyalahgunaan seperti orde baru tentu kecil karena Bulog telah mereformasi diri. Karena itu saya memberikan dukungan Bulog untuk kembali menangani kebutuhan pokok selain beras,” jelasnya.

Berkaitan dengan niat dari Bulog untuk melakukan ekspor beras pada pertengahan 2009, Suswono mengingatkan, lembaga tersebut harus memverifikasi terlebih dulu data yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tentang produksi padi nasional.

“Jika data faktual mengatakan memang ada surplus beras sekitar dua juta ton, saya rasa wajar saja dilakukan ekspor beras. Tetapi, itu tadi lakukan dulu verifikasi data. Hal ini karena data di Indonesia banyak yang tidak faktual,” jelasnya.

Menurut Suswono, jika dari data ditemukan ada surplus memang sudah saatnya Indonesia mengekspor beras untuk membantu negara lain dan menambah devisa negara.

Ketika ditanya akankah, posisi Bulog nantinya akan diubah tidak lagi menjadi Perum mengingat telah menjalankan fungsi ekspor dan menangani komoditi selain beras, Suswono menyarankan, lembaga tersebut tetap seperti selama ini .

“Yang penting fungsi sosial dari Bulog itu berjalan sebagai stabilitas harga. Jika diubah menjadi perseroan, tentunya akan mebutuhkan dana yang lebih besar. Sedangkan saat ini kita tahu pemerintah sedang kesulitan dana,” katanya.

Sebelumnya, Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menyatakan siap untuk kembali mengelola pendistribusian bahan kebutuhan pokok selain beras. Komoditi yang siap dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut adalah gula, jagung, dan kedelai.

“Jika diminta oleh pemerintah kami siap untuk menangani komoditi di atas. Hal ini karena gudang Bulog masih memiliki kapasitas untuk menguurus komoditi tersebut dan sumber daya manusia juga menunjang,” ujarnya.

Mustafa juga menyatakan, Perum Bulog akan melakukan ekspor beras sebanyak 1 – 1,5 juta ton pada 2009 jika produksi beras di dalam negeri mengalami surplus hingga lima juta ton.


Mustafa mengatakan, jika terjadi kelebihan lima juta ton , maka sebanyak tiga juta ton dimanfaatkan untuk menjaga stok beras Bulog, sedangkan sisanya bisa untuk ekspor.


“Angka itu feeling saya. Tetapi sewajarnya kita berani ekspor satu sampai 1,5 juta ton jika surplus lima juta ton,” katanya.

Mustafa memperkirakan, kegiatan ekspor untuk ekspor beras dengan kualitas menengah atau medium dapat dilakukan pada pertengahan tahun atau kuartala ketiga 2009 apabila kondisi indikator  perekonomian Indonesia membaik.

Negara-negara yang akan menjadi tujuan ekspor adalah Malaysia , Timor Leste, Filipina dan Brunei Darussalam.


“Rencana ini sudah dibicarakan dengan Departemen Perdagangan dan Departemen Pertanian. Pengusaha dalam negeri juga banyak yang mengajak Bulog kerjasama. Karena mereka tidak boleh ekspor langsung maka mereka kerjasama dengan Bulog,” katanya.

Diungkapkannya, beberapa pengusaha yang sudah mengajak Bulog kerjasama untuk melakukan ekspor beras ini antara lain berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Jika beras kualitas medium baru bisa diekspor pada pertengahan tahun, maka untuk kualitas high quality, Mustafa memperkirakan, mampu dilakukan pada awal 2009.

Beberapa jenis beras yang termasuk dalam kualitas tinggi  yakni  beras Pandan Wangi, beras Cianjur, beras Organik dan beras Padi Mulia.

Beberapa negara yang memesan beras-beras berkualitas tinggi dari Indonesia , antara lain Hongkong Jepang dan AS. Meskipun pasarnya terbatas, harganya menjanjikan bahkan di Jepang dihargai 2-3 dolar AS per kilogram.

Untuk volume beras premium yang siap diekspor, jumlahnya hanya ribuan ton tepatnya sekitar 1000-2000 ton.”Segmen ini pasarnya terbatas tetapi ruang gerak hargnya tinggi,” katanya. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s