241208 Bulog Siap Tangani Distribusi Kebutuhan Pokok

containershiploading1JAKARTA—Perum Bulog menyatakan siap untuk kembali mengelola pendistribusian bahan kebutuhan pokok selain beras. Komoditi yang siap dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut adalah gula, jagung, dan kedelai.

“Jika diminta oleh pemerintah kami siap untuk menangani komoditi di atas. Hal ini karena gudang Bulog masih memiliki kapasitas untuk menguurus komoditi tersebut dan sumber daya manusia juga menunjang,” ujar Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar di Jakarta, Selasa (23/12).

Dikatakannya, kapasitas simpan gudang yang dimiliki Bulog saat ini mencapai 4 juta ton. Namun saat ini gudang tersebut banyak dalam kondisi idle (kosong) hingga 50 persen sejak BUMN tersebut hanya diberikan wewenang menangani distribusi beras.

“Saat ini gudang Bulog yang terpakai hanya sekitar 1,5 hingga 2 juta ton dari kapasitas 4 juta ton,” katanya.

Mustafa menyakini, masuknya Bulog mengelola penyaluran komoditi selain beras tidak akan ditolak oleh pasar karena BUMN tersebut telah berubah yakni memiliki manajemen lebih transparan dan mampu menjaga harga jual. Selain itu pasar menilai saat ini keberadaan Bulog mampu membawa kepastian terhadap harga, kendali, dan suplai dari komoditi yang dikelolanya.

“Ketika Bulog diminta masuk untuk menangani gula belum lama ini kami berhasil mengangkat harga gula yang sempat jatuh. Dan pelaku pasar juga gembira akan keberadaan Bulog,” katanya.

Dikatakannya, saat Bulog mulai menangani gula, komoditi tersebut dijual di pasar sekitar lima ribu rupiah. Dan ketika BUMN tersebut mulai masuk ke pasar harga gula terkerek di kisaran 5.200 rupiah. Bulog sendiri ditargetkan untuk menyerap 350 ribu ton gula dari petani dan saat ini berhasil menyerap sekitar 75 ribu ton.

Ekspor Beras

Berkaitan dengan komoditi yang dikelolanya selama ini, Perum Bulog menyatakan siap untuk melakukan ekspor beras sebanyak 1 – 1,5 juta ton pada 2009 jika produksi beras di dalam negeri mengalami surplus hingga lima juta ton.


Mustafa mengatakan, jika terjadi kelebihan lima juta ton , maka sebanyak tiga juta ton dimanfaatkan untuk menjaga stok beras Bulog, sedangkan sisanya bisa untuk ekspor.


“Angka itu feeling saya. Tetapi sewajarnya kita berani ekspor satu sampai 1,5 juta ton jika surplus lima juta ton,” katanya.

Mustafa memperkirakan, kegiatan ekspor untuk ekspor beras dengan kualitas menengah atau medium dapat dilakukan pada pertengahan tahun atau kuartala ketiga 2009 apabila kondisi indikator  perekonomian Indonesia membaik.

Negara-negara yang akan menjadi tujuan ekspor adalah Malaysia , Timor Leste, Filipina dan Brunei Darussalam.


“Rencana ini sudah dibicarakan dengan Departemen Perdagangan dan Departemen Pertanian. Pengusaha dalam negeri juga banyak yang mengajak Bulog kerjasama. Karena mereka tidak boleh ekspor langsung maka mereka kerjasama dengan Bulog,” katanya.

Diungkapkannya, beberapa pengusaha yang sudah mengajak Bulog kerjasama untuk melakukan ekspor beras ini antara lain berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Jika beras kualitas medium baru bisa diekspor pada pertengahan tahun, maka untuk kualitas high quality, Mustafa memperkirakan, mampu dilakukan pada awal 2009.

Beberapa jenis beras yang termasuk dalam kualitas tinggi  yakni  beras Pandan Wangi, beras Cianjur, beras Organik dan beras Padi Mulia.

Beberapa negara yang memesan beras-beras berkualitas tinggi dari Indonesia , antara lain Hongkong Jepang dan AS. Meskipun pasarnya terbatas, harganya menjanjikan bahkan di Jepang dihargai 2-3 dolar AS per kilogram.

Untuk volume beras premium yang siap diekspor, jumlahnya hanya ribuan ton tepatnya sekitar 1000-2000 ton.”Segmen ini pasarnya terbatas tetapi ruang gerak hargnya tinggi,” katanya.

Sementara itu mengenai pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog pada tahun depan, Mustafa menargetkan mampu mencapai 10 persen dari produksi beras nasional yang diperkirakan sebanyak 37 juta ton.

“Jika target produksi beras  nasional pada 2009 sebanyak 37 juta ton, maka penyerapan Bulog diharapkan mencapai 3,8 juta ton,” katanya.

Tingkat penyerapan tersebut naik dibandingkan tahun 2008 yang sebesar 9,3 persen atau 3,19 juta ton  dari produksi besar sebesar 34,2 juta ton.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s