191208 UU Minerba Untungkan Investor Asing

JAKARTA—Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) yang baru disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam rapat paripurna dua hari lalu, dianggap hanya menguntungkan investor asing dan tidak menyentuh hal-hal mendasar yang dianggap krusial dalam realita pertambangan.

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Siti Maemunah mengungkapkan, keberadaan UU yang mengganti UU No 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan seperti ular berganti kulit saja, sehingga tidak memiliki manfaat bagi masyarakat Indonesia.

“UU Minerba akan melanggengkan rejim keruk cepat dan jual murah masa Orde Baru hingga pemerintahan SBY. Meskipun dibungkus dengan asas dan tujuan yang tampaknya lebih baik, manusiawi, dan peduli terhadap lingkungan. Kenyataannya, pasal-pasalnya beresiko membahayakan keselamatan warga negara dan lingkungan sekitarnya,” tegasnya di Jakarta , Kamis (18/12).

Pasal yang disorot khususnya Pasal 169 Ayat a UU Minerba, dimana menyatakan kontrak karya (KK) dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) yang sudah ada sebelum berlakunya UU Minerba tetap berlaku sampai berakhirnya kontrak.

“Inikan seperti menguntungkan investor asing. Hal ini karena 51 persen kapling tambang di Indonesia telah dikuasai investor asing. Dan jika tidak ada peninjauan kembali, sama saja bohong,” tuturnya.

Apalagi UU Minerba justru membuka peluang diberikannya izin kepada perorangan, sehingga ke depannya yang terjadi adalah resiko dari industri ini dibagi-bagi secara retail. “Membuka peluang izin saja sudah dipertanyakan, karena kapling tambang di Indonesia sudah tinggi. Di Kalimantan Timur saja sudah 31 persen di kapling. Belum lagi jika perorangan diberikan izin, ini akan membuka konflik horizontal,” katanya.

Herry Subagio dari ICEL menambahkan, izin seharusnya dijadikan alat kontrol oleh pemerintah bukan sebagai komoditi perdagangan. “Semangat di UU Minerba, izin dijadikan seperti alat perdagangan. Kalau begini fungsi pemerintah sebagai kontrol dimana,” tuturnya.

Maemunah juga melihat, UU Minerba tidak memerhatikan pendapat rakyat dalam kontrak. Seharusnya, masyarakat yang terkena dampak langsung dari suatu industri harus mendapatkan suara proiritas untuk diperhatikan.

Sedangkan dalam pasal 145 di UU Minerba yang baru disebutkan, untuk ganti rugi dapat dilakukan secara sepihak oleh perusahaan. Atau jika tidak (masyarakat yang menolak), dapat dikenakan pidana. “Ini karena tidak ada komunikasi terhadap rakyat,” cetusnya.

Dia menegaskan, dampak dari pertambangan ini bagi lingkungan masih tidak terjamin. Yakni dengan dikeluarkannya izin per daerah. Sedangkan, efek kerusakan akibat kegiatan pertambangan adalah bersifat menyebar yang tidak terbatas pada satu daerah saja.

“Yang disayangkan adalah peran dari partai-partai besar di Senayan (DPR) seperti Partai Golkar yang melanggengkan UU merugikan ini diloloskan. Partai-partai berkuasa di Senayan harus digugat keberadaannya, karena melanggengkan rejim keruk cepat jual murah bahan tambang Indonesia . Ini jelas bertentangan dengan asas dan tujuan yang ditetapkannya sendiri, dan bertentangan dengan UUD 1945, khususnya pasal 33,” tegasnya.

Judicial Review

Ketika disinggung langkah yang akan diambil oleh organisasinya dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya, Maemunah mengatakan, sekarang pihaknya sedang mengkondolisasikan kekuatan dengan masyarakat tambang,

“Kami harus mensosialisasikan dul UU ini.Masih ada waktu 90 hari sejak di undangkan untuk perlawanan terakhir, yakni judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK). Yang kami pertanyakan khususnya pasal-pasal tergolong ambigu itu,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s