181208 Evaluasi Telekomunikasi 2008: FWA Masih Mampu Bersinar

anak-kecil-nelponKetika pemerintah mengumumkan biaya interkoneksi mengalami penurunan sebesar 40 persen yang berujung pada penurunan tarif ritel, banyak kalangan beranggapan jasa Fixed Wireless Access (FWA) akan mulai memasuki masa senja alias meredup.

Pasalnya, biaya interkoneksi yang dipotong sebesar 40 persen tersebut membuat jasa seluler menurunkan tarif secara gila-gilaan. Lihat saja XL yang berani menawarkan tarif promosi hingga mendekati rata-rata empat sen dollar AS. Bahkan, Telkomsel yang selama ini malu-malu bermain di perang tarif murah akhirnya tak kuasa juga menawarkan tarif 0,5 rupiah per detik untuk prabayar simPATI.

Hasilnya, pada akhir tahun nanti diperkirakan penetrasi layanan telekomunikasi di Indonesia menembus angka 65 persen dari total populasi penduduk. Jika itu tercapai, maka pada akhir 2008 akan ada 143 juta nomor aktif yang digunakan oleh penduduk Indonesia .

Diperkirakan pada tahun 2008 tingkat pertumbuhan pelanggan secara industri mencapai 30 persen dan menit pemakaian meningkat puluhan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Tercatat, menit pemakiaan tertinggi dimiliki oleh XL, dimana hingga kuartal ketiga lalu pemakaian layanannya meningkat lebih dari 10 kali lipat dari 1,7 miliar menit pada Juni 2007 menjadi 19,3 menit pada Juni 2008. Disusul berikutnya oleh Indosat dengan 103 menit per pelanggan per bulan.

Harus diakui, layanan seluler masih mendominasi dari tingkat penetrasi tersebut. Hitungan kasarnya adalah hampir 70 persen nomor yang aktif menggunakan layanan seluler dan sisanya FWA. Di Indonesia layanan FWA diselenggarakan oleh lima operator yakni Telkom, Bakrie Telecom, Indosat, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia , dan Mobile-8.

Kontribusi FWA sebesar 30 persen itu tak dapat dilepaskan dari keberhasilan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang mampu membuat Flexi dan esia tetap diminati pelanggan.

Saat ini Flexi tercatat memiliki sekitar 11 juta pelanggan dan esia sekitar 7 juta pelanggan. Jika dibandingkan secara year on year, maka pertumbuhan dari kedua produk tersebut adalah sekitar 100 persen. Tentunya ini menyiratkan FWA belumlah memasuki masa senja di layanan telekomunikasi.

Bukti paling sahih lainnya adalah mampu berkibarnya layanan FWA milik Mobile-8 (Hepi) yang diluncurkan awal tahun ini tetapi telah bisa bersaing dengan StrOne dari Indosat. Hepi diperkirakan memiliki 500 ribu pelanggan. Sementara StarOne yang diharapkan menjadi jagoan oleh Indosat di jasa FWA hanya memiliki 650 ribu pelanggan.

Dirketur Korporasi Mobile-8 Merza Fachys mengatakan, laju pertumbuhan dari FWA tetap kencang pada tahun ini tak dapat dilepaskan dari perilaku masyarakat yang sudah tidak peduli lagi dengan jenis layanan yang digunakan.

“Masyarakat tidak peduli lagi jasa yang digunakan itu seluler atau FWA. Yang penting bisa berbicara murah,” katanya kepada Koran Jakarta, Rabu (17/12).

Fenomena lainnya,lanjut Merza, mulai berubahnya segmen pasar yang menggunakan jasa FWA. Jika sebelumnya layanan tersebut identik dengan segmen menengah bawah, sekarang pasar menengah atas pun menggunakan FWA sebagai nomor kedua atau ketiga. Ditambah lagi ada isu bahwa teknologi CDMA anti sadap yang membuat jasa FWA semakin diburu kalangan atas.

“Campuran dari fenomena inilah yang membuat FWA tetap memiliki sinar terang. Bukan ke senjakala seperti banyak diprediksi kalangan awal tahun ini,” kata Merza.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menambahkan, agresifnya perluasan wilayah yang dilakukan oleh operator FWA juga membantu pertambahan pelanggannya.

“Esia berhasil tumbuh hingga 100 persen tak dapat dilepaskan dari agresifnya memperluas area. Sekarang kami memiliki 55 area layanan. Karena itu kita optimistis pada 2009 mampu meraih 10,5 juta pelanggan,” jelasnya.

Gelembung Palsu

Entah ingin menyindir pesaing atau membenarkan strategi yang selama ini dijalani, Direktur Pemasaran Indosat, Guntur S Siboro menilai, pertumbuhan kencang dari Flexi dan Esia tak dapat dilepaskan dari strategi bundling dan memberikan biaya gratis menelpon bagi pelanggannya.

“Esia itu bisa laku karena jualan handset dan menit gratis. Sementara Flexi tentunya akibat penggilan gratis ke sesama pelanggan di wilayah Jabotabek-Jabar. Kedua strategi ini membutuhkan biaya akuisisi yang mahal,” katanya.

Guntur menegaskan, bagi StarOne pertumbuhan pelanggan haruslah melalui cara yang alami. Apalagi adanya krisis makro ekonomi dan keuangan yang mendunia sehingga membuat gelembung palsu di industri telekomunikasi berupa klaim jumlah pelanggan besar tidak lagi menjadi prioritas.

Guntur adalah salah seorang eksekutif operator yang pernah mengungkapkan beberapa bulan lalu jasa FWA akan terjepit ketika biaya interkoneksi diterapkan. Hal ini karena tarif murah yang ditawarkan operator seluler membuat pemegang lisensi FWA menjadi kehilangan competitive advantage-nya sehingga susah bersaing di pasar. Pasalnya, operator FWA tak mampu bersaing secara kualitas dengan pemegang lisensi seluler. Kualitas yang dimaksud disini adalah luasnya jangkauan, fitur, dan teknologi data.

Menanggapi hal itu Merza mengakui, pelaksanaan ekspansi jaringan FWA memang tidak se-flexible seluler. Kendala yang dihadapi oleh operator FWA biasanya terkait keharusan selalu menyiapkan poin interkoneksi (POI) di setiap area lokal, ketersediaan numbering blok yang semakin langka terutama di kota-kota besar, dan keterbatasan kanal frekuensi.

Kebutuhan POI yang semakin banyak tentu saja akan menaikkan belanja modal. Sedangkan untuk block numbering, lanjutnya, memang ada belied daur ulang dari pemerintah. Tetapi jika dilakukan dalam jangka waktu pendek akan membuat pelanggan tidak nyaman karena akan menerima banyak salah sambung.

“Sementara untuk kelangkaan frekuensi yang dibutuhkan agar bisa berekspansi dikatakan sudah tidak ada jalan keluar lagi kecuali dengan merger dua atau lebih operator FWA,” katanya.

Pengamat telematika Miftadi Sudjai mengatakan, isu utama di operator FWA saat ini memang terkait dengan masalah keterbatasan kanal frekuensi dan penomoran.

“Dua hal ini sangat penting bagi operator FWA. Apalagi tahun depan dengan pertumbuhan industri yang melambat menjadi sekitar 20 persen akan membuat banyak operator berbicara kualitas,” katanya.

Jika berbicara kualitas, maka tentunya berkaitan dengan peningkatan kapasitas dan ragam fitur. ”Pemerintah belum lama ini mengatakan akan mengkaji ulang penambahan kanal. Makin runyamlah nasib Telkom dan Bakrie Telecom. Hal ini karena jauh-jauh hari dua operator ini sudah berkoar-koar akan bermain di layanan data melalui EVDO,” jelasnya.

Melihat kondisi yang ada sekarang, menurut dia, maka dapat dipastikan produk akses data Wimode milik Bakrie Telecom akan berada dalam kondisi stagnan. ”Kecepatan Wimode sekarang tidak ideal jika enggan dibilang lelet. Selama ini Bakrie Telecom mencoba mendapatkan awareness dulu dengan meluncurkan produk tersebut sembari menunggu EVDO datang. Saya rasa keputusan pemerintah (pembatalan tambahan kanal) memukul sekali dua operator tersebut,” katanya.

Sementara berkaitan dengan penomoran, bukan rahasia lagi penataan block numbering di Indonesia tergolong amburadul. Hal ini karena dulunya hanya ada satu operator yang bermain di jaringan tetap yakni Telkom. Sebagai incumbent, Telkom bisa memilih nomor yang disukainya. Hal ini membuat nomor diaktifkan secara acak.

Pengaktifan seperti ini berdampak kepada satu blok nomor dari angka yang dipilih secara acak itu teregistrasi di jaringan incumbent di seluruh Indonesia. Dan ketika nomor itu diambil kembali oleh pemerintah untuk diberikan ke operator jartap lainnya, nomor tidak bisa dipakai.

Akibatnya operator pemilik nomor harus meminta ke Telkom untuk menghapus nomor dari jaringannya. Proses ini biasanya membutuhkan waktu yang lama karena pemerintah lepas tangan.

Satu block numbering biasanya berisi 10 juta nomor. Operator FWA sekelas Bakrie Telecom atau Telkom mampu menjual nomor sebanyak 800 ribu hingga 1 juta dalam waktu satu bulan. Jika pada tahun depan pertumbuhan jasa FWA diperkirakan mencapai 7 juta pelanggan dari semua pemilik lisensi, maka dapat dipastikan satu operator FWA hanya akan aktif berjualan selama satu kuartal.

Sisanya, terpaksa ”manyun” dulu menunggu nomor yang ditinggalkan pelanggan dibersihkan dari sistem untuk dijual kembali. Jika ini terjadi, maka prediksi banyak orang senjakala mengghinggapi FWA hanya menunggu waktu saja, tentunya tetap berlaku di masa mendatang.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s