171208 Aturan Impor Sebaiknya Segera Dilaksanakan

JAKARTA—Pemerintah disarankan untuk tetap menjalankan aturan impor lima barang konsumsi secepat mungkin agar arus komoditi selundupan bisa ditekan masuk ke pasar domestik.

baskili1“Terus terang saya tidak mengerti alasan dari pemerintah untuk menunda aturan yang mereka buat sendiri. Seharusnya dijalankan saja dulu untuk bagian yang sudah siap. Masalah ada yang belum siap, nanti dibereskan sambil jalan,” ujar Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismi kepada Koran Jakarta, Selasa (16/12).

Dia menyarankan, jika yang menjadi masalah adalah pemeriksaan barang muat dari negara asal, maka pemeriksaan bisa dilakukan di Indonesia karena sudah ada KSO yang melakukannya. “Syaratnya KSO harus siap menjalankan fungsinya. Dan saya rasa KSO siap,” tuturnya.

Dikatakannya, jika aturan impor itu ditunda terus maka pengusaha domestik bisa semakin terganggu menggarap pasar dalam negeri karena arus barang selundupan tidak bisa dikontrol. “Saya jadi mempertanyakan cara pemerintah membuat suatu aturan. Kesannya kok melempar dulu aturannya tanpa adanya perencanaan. Jadinya seperti tidak konsisten,” sesalnya.

Secara terpisah, Deputy Chairman Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)) Djimanto mengaku tidak tahu alasan pemerintah menunda kebijakan tersebut. “Terus terang saya tidak tahu alasan yang digunakan oleh pemerintah. Tetapi sebagai importir yang sedang melakukan pemesanan, memang perlu waktu untuk melakukan penyesuaian. Tidak mudah mengamandemen term of trading practices yang sudah tertuang dalam kontrak,” katanya.

Pada kesempatan lain, Ketua Umum Kadin MS Hidayat menyayangkan, sikap pemerintah yang cenderung menarik ulur pengaturan impor lima barang, hanya karena alasan ketidaksiapan administrasi.

“Saya kira masalah ketidaksiapan administrasi tidak bisa menjadi alasan, sehingga jangan ada penundaan,” katanya.

Hidayat menyatakan bahwa sesungguhnya tidak melihat adanya alasan yang kuat untuk menunda sampai dua bulan. “Tahu-tahu ada penundaan. Ini kontraproduktif dengan tujuan kita mempercepat upaya memproteksi produk-produk lokal,” ujarnya.

Dijelaskannya, dengan menunda pembatasan barang impor mengakibatkan kemungkinan tujuan regulasi agar memproteksi impor akan kehilangan momentum.

Menurut dia, sektor yang sudah siap mesti dijalankan, dengan catatan yang masih memerlukan waktu harus diumumkan tetapi jangan semua dibuat secara umum

Sebelumnya, pemerintah melalui memutuskan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor

44/2008 tentang pengaturan impor lima barang konsumsi berlaku mulai 1 Januari 2009 tanpa Preshipment Inspection (PSI) untuk empat barang, sedangkan untuk produk garmen harus menggunakan PSI. Sementara untuk empat lainnya syarat PSI akan mulai diberlakukan pada 1 Februari mendatang.

Lima produk tersebut adalah komoditi mainan anak-anak, tekstil, garmen, dan elektronik.

Produk tersebut hanya dapat dilakukan oleh Importir Terdaftar (IT) melalui lima pelabuhan masuk yaitu Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Makasar dan Belawan. Setiap impor harus diverifikasi di pelabuhan muat.

Pada Peraturan Menteri Nomor 44/2008 itu, Departemen Perdagangan juga melakukan penyempurnaan dengan melakukan pengecualian-pengecualian terhadap barang-barang tertentu yaitu barang modal yang masuk master list yang mendapatkan fasilitas seperti migas, daftar barang modal yang diterbitkan pemerintah, bahan baku industri yang mempunyai Importir Produsen (IP).

Berdasarkan catatan, per 12 Desember, sudah ada 862 importir yang mendaftar IT, 517 sudah selesai, 211 masih dalam proses dan 134 ditolak.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s