121208 Penggunaan Aplikasi Lokal Meningkat 40 Persen

ntt_gameJAKARTA—Penggunaan aplikasi buatan lokal oleh perusahaan dalam negeri mengalami
peningkatan sebesar 30 hingga 40 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini.

Aplikasi lokal yang banyak digunakan oleh perusahaan adalah sistem akuntansi dan
penggajian. Untuk sistem penggajian, nilai aplikasi berkisar dari 10 juta  hingga
satu miliar rupiah.

Sedangkan untuk potensi bisnis aplikasi (lokal dan luar negeri)  di Indonesia pada
tahun ini mencapai 500 juta dollar AS. Angka itu meningkat 20 persen dibandingkan
tahun lalu.

Dirjen Aplikasi Telematika Cahyana Amadjayadi  menjelaskan, berkembangnya bisnis
aplikasi di dalam negeri tak dapat dilepaskan dari semakin kreatifnya bangsa
Indonesia mengembangkan produk tersebut.

”Produk ini sangat bergantung pada kreatifitas. Karena itu di tengah krisis ini
akan banyak aplikasi lokal berkembang karena modalnya hanyalah pada otak yang
kreatif,” jelasnya di Jakarta, Rabu (10/12).

Menurut Cahyana, pasar yang bisa digarap oleh aplikasi lokal adalah segmen Usaha
Kecil dan Menengah (UKM) karena saat ini sektor tersebut masih menggeliat. ”UKM
banyak yang belum memanfaatkan aplikasi untuk memudahkan proses produksinya. Jika
pemain aplikasi lunak mampu memenuhi kebutuhan UKUM tentu akan banyak yang
berminat,” jelasnya.

Berkaitan dengan maraknya pembajakan pada aplikasi yang dijual di pasar, Cahyana
mengatakan, hal tersebut sepantasnya tidak dilakukan karena membeli produk tersebut
digunakan selama masa operasional perusahaan.

”Barang bajakan itu jika lama digunakan bisa membuat sistem crash. Bayangkan jika
itu terjadi pada perusahaan besar. Tentu akan merugikan diri sendiri,” tuturnya.

Product Consultant Manager Zahir, M. Nizar menambahkan, meningkatnya penggunaan
apalikasi lokal karena adanya krisis dan rendahnya pajak yang dikenakan untuk buatan
lokal.

”Dua faktor tersebut secara signifikan mengangkat penjualan aplikasi lokal,”
katanya.

Dikatakannya, untuk aplikasi akuntansi memang banyak digunakan oleh perusahaan
berbasis UMKM khususnya yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa. ”Kami
menargetkan tahun ini pertumbuhan penjualan mencapai 60 persen,” jelasnya tanpa
menyebut tahun lalu angka penjualan yang diraih.

Untuk mencapai target tersebut, terangnya, perusahaanya meluncurkan Zahir Merdeka
yang dijual secara isi ulang. Pola penjualan seperti ini merupakan inovasi pertama
di Indonesia.

”Pola penjualan seperti ini membuat UKM tidak alergi dengan aplikasi akuntansi.
Mereka cukup membeli starter kit seharga 250 ribu rupiah dan melakukan isi ulang
jika batas waktu pemakaian usai,” jelasnya.

”Kami menargetkan produk baru ini laku sebanyak 1 juta unit. Jika itu tercapai
maka transaksi tahun ini bisa mencapai 250 miliar rupiah,” tambahnya.[dni]

121208 Bakrie Telecom Berpeluang Besar Dapatkan SLJJ

logo btelPT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berpeluang besar untuk mendapatkan lisensi Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), seiring gugurnya Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) pada tender jasa tersebut yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomuniksi (Ditjen Postel) bulan ini.

“Sesuai janji dari Ditjen Postel, pada Rabu (10/12), telah dibuka dokumen penawaran dari dua peserta tender yakni BTEL dan Mobile-8. Hasilnya, kami terpaksa mengugurkan Mobile-8 karena tidak melengkapi persyaratan dokumen tender,” ungkap Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Rabu (10/12).

Gatot mengungkapkan, persyaratan yang gagal dipenuhi oleh Mobile-8 adalah tidak mensertakan jaminan penawaran (Bid Bond) sebesar lima miliar rupiah. “Ketika tahapan penjelasan dokumen tender telah dijelaskan jika semua persyaratan harus dipenuhi. Nah, Mobile-8 tidak memenuhi satu persyaratan wajar digugurkan,” tegasnya.

Gatot mengingatkan, meskipun saat ini peserta tender menyisakan BTEL, tidak membuat secara otomatis pemilik merek dagang esia tersebut akan mulus mendapatkan lisensi SLJJ. Hal ini karena ada penilaian teknis yang harus dipenuhi operator tersebut.

Persyaratan teknis tersebut diantaranya keharusan memenuhi komitmen pembangunan jaringan tetap SLJJ, minimal menghubungkan 50 ibu kota kabupaten atau kota dalam waktu lima tahun. Wilayah pembangunan harus dititikberatikan di Indonesia Bagian Timur seperti NTB, NTT, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Secara terpisah, Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengaku senang telah lulus dalam tahapan persyaratan dokumen tender. “Tentu saja kami senang maju hingga tahap berikutnya dari tender. Semoga pada 22 Desember 2008 ini kami yang diumumkan sebagai pemilik lisensi SLJJ baru,“ katanya.

Dikatakan Rakhmat, alasan Bakrie Telecom untuk ikut dalam tender tersebut agar lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) yang dimilikinya bisa berjalan optimal. “Jasa SLI kami akan berjalan pada tahun depan. Jika tidak ada SLJJ, investasi pembangunan Sentra Gerbang Internasional kita tidak optimal,“ kata Rakhmat.

Rakhmat mengaku telah menyiapkan sebagian dana dari belanja modal 600 juta dollar AS untuk tiga tahun ke depan membangun jasa SLJJ.“Belanja modal kami untuk tiga tahun ke depan telah terpenuhi. Sebagian memang dialokasikan untuk membangun SLJJ,“ jelasnya.

Sementara Direktur Korporasi Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengaku kecewa dengan gugurnya pemilik merek dagang Fren dan Hepi tersebut dalam tender SLJJ. “Mau bagaimana lagi. Persyaratan yang diminta itu tidak ditandatangani oleh asuransi yang menjamin perusahaan kami,“ ungkap Merza.

Merza mengatakan, pihak asuransi tidak bersedia memeberikan jaminan jika surat permintaan tidak ditanda tangani oleh pemilik perusahaan. “Pihak asuransi tidak puas jika hanya ada tandatangan dari jajaran direksi,“ katanya.

Merza mengatakan, akibat tidak adanya lisensi SLJJ membuat mobile-8 susah bersaing karena tidak ada equal playing field antara penyelenggara jartap. “Jika kami tidak memiliki SLJJ, berarti akan susah berkompetisi. Kompetitor akan dengan gampangnya menerapkan skema tarif murah ke sesama pelanggan (Onnett) karena ada jasa SLJJ untuk membawa trafik,“ jelas Merza.

Ketika ditanya tentang adanya hubungan dari enggannya pihak asuransi untuk mengeluarkan jaminan karena kinerja keuangan dari Mobile-8 yang buruk dan desakan dari para obligor untuk membayar lebih cepat obligasinya sebelum jatuh tempo, Merza membantah hal tersebut,“Masalah dengan obligor tersebut akan segera diselesaikan. Sekarang kami sedang berusaha untuk negosiasi ulang agar pembayarannya ditunda. Minggu depan akan ada pertemuan langsung dengan mereka“.[dni]