111208 CP Nakal Kembali Beraksi

regTak pernah kapok. Inilah ungkapan paling pantas dilontarkan pada penyedia konten
alias content provider (CP) nakal yang melakukan cara curang untuk mengeruk
keuntungan dari pelanggan operator telekomunikasi.

Setelah dua bulan lalu Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) memberikan
peringatan keras pada tiga CP yakni PT Code Jawa, PT Kreatif Bersama, dan
PT Media Kreasindo Utama karena dinilai merugikan pelanggan.

Awal Desember ini jagat telekomunikasi kembali tersentak oleh aksi dari CP dengan
nama Cahaya Intiza Abadi (CIA) yang menyediakan layanan SMS premium Mutiara Hikmah
dengan kode akses 3545, khusus bagi 63 juta pelanggan Telkomsel.

“Perusahaan ini diduga keras melakukan penipuan ke pelanggan Telkomsel. Penipuan
itu berupa tidak transparannya pemilihan pemenang sehingga hadiah yang diberikan
dimana seharusnya menjadi hak pemenang tidak diterima,” ungkap Ketua Indonesia
Telecommunication Users Group (IDTUG) Nurul Budi Yakin di Jakarta, Rabu (10/12).

Diungkapkannya, CIA dalam menyelenggarakan layanan Mutiara Hikmah menjanjikan hadiah
berupa paket Haji Plus, Umroh, tabungan , dan pulsa. Periode penarikan dari hadiah
ini dilakukan pada Februari dan April. Dalam perjalananya, salah satu peserta kuis,
Sdri Vita Marlina Susanti, yang merasa telah mengumpulkan poin hingga 21.330 poin
hanya mendapatkan hadiah berupa pulsa.

“Padahal pelanggan ini merasa berhak mendapatkan hadiah yang lebih tinggi. Setelah
pelanggan mengadu kepada kami, langsung dilakukan penelusuran. Hasilnya, diduga kuat
CIA memanipulasi pemenang layanan yang diselenggarakannya,” katanya.

Manipulasi tersebut berupa sama persisnya nama pemenang versi layanan Mutiara Hikmah
dengan milik CP lain yang menyelenggarakan layanan SMS premium F1 dengan kode
akses 9388. “Nama keenam pemenang semuanya sama. Nah, ini bukannya ada indikasi
penipuan,” sesalnya.

Semakin kerasnya indikasi penipuan, menurut Nurul, karena dalam proses penarikan
undian, CIA tidak melibatkan notaris dan unsur departemen sosial. Bahkan aturan dari
departemen sosial yang mensyaratkan hadiah jika tidak diambil oleh pemenang
dikembalikan ke departemen tersebut ditabrak oleh CIA. Menurut aturan dari CIA, jika
tidak ada konfirmasi dari pemenang dalam tenggang waktu satu bulan, maka hadiah
dibatalkan.

“Satu hal yang pasti ada kerugian hingga ratusan juta rupiah. Ini jika yang
dihitung adalah hadiah yang tidak terealisasi. Sementara kerugian moral tentu
diderita puluhan juta pelanggan Telkomsel yang telah mengikuti layanan ini,”
katanya.

Sekjen IDTUG Muhammad Jumadi Idris mengaku, telah melaporkan indikasi penipuan
tersebut ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan juga meminta
konfirmasi dari CIA serta Telkomsel. “Salah satu anggota BRTI (Heru Sutadi)
berjanji akan mempelajari masalah ini. kita tunggu saja realisasi dari janji
tersebut, meskipun saat ini BRTI tengah mengocok ulang anggotanya,” tegasnya.

Jumadi mendesak, CIA harus bisa membuktikan bahwa keenam pemenang yang mereka tunjuk
benar-benar ada dan menikmati hadiah tersebut. “Kami sebagai organisasi nirlaba
tidak berhak untuk investigasi lebih dalam. Ini sudah wewenang dari BRTI. Karena itu
janji Heru Sutadi sangat ditunggu,” tandasnya.

Sementara jawaban dari CIA, lanjut Jumadi, terkesan menantang dengan mengirimkan
balasan surat elektronik yang menyepelekan surat konfirmasi dari IDTUG. ”Seorang
direksinya bernama Vishnu Gautama membalas email dengan mengatakan “wuiiih
sedeep”. Kental sekali aroma dia meremehkan hal ini. Sedangkan dari Telkomsel
belum ada tanggapan sama sekali,” tambahnya.

Melihat gelagat dari CIA tersebut, Jumadi menduga, CP ini mendapatkan keistimewaan
dari Telkomsel. Hal itu terbukti dengan layanan tersebut bersifat eksklusif hanya
untuk pelanggan operator tersebut. “Pemilik CP ini sepertinya dekat sekali
dengan manajemen Telkomsel. Patut disayangkan jika ada indikasi penunjukkan dari CP
tersebut tidak berdasarkan asas transparansi,” tuturnya.

Secara terpisah, Anggota BRTI Heru Sutadi mengaku telah menerima surat dari IDTUG
dan berjanji akan memanggil CIA secepat mungkin.”Sebenarnya secara prosedur IDTUG
melapor dulu ke operator. Tetapi karena jalannya sudah seperti ini, akan secepatnya
kita selidiki dan selesaikan,” tegasnya.

Heru menegaskan, BRTI selama ini selalu keras menindak CP-CP yang nakal tanpa
memandang bulu pemilik dari perusahaan tersebut. “Kami sudah lama prihatin dengan
SMS premium beraroma penipuan. Saking geramnya kita malah sedang mengaji menutup
semua SMS berhadiah. Tetapi sebagai regulator tentunya tidak bisa membabi buta
melakukan penindakan. Azas praduga tak bersalah tetap harus dijunjung tinggi,”
tuturnya.

GM Mobile Data Services Telkomsel Handriarto ketika dikonfirmasi tentang adanya
dugaan penipuan oleh salah satu rekanannya membantah keras adanya indikasi
tersebut. “Setahu saya itu semua tidak benar,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Ketua Indonesia Mobile and Online Content (IMOCA) A.
Haryawirasma mengaku telah mendengar sepak terjang dari CIA tersebut. “Saya sudah
tahu tentang CP tersebut. Masalahnya, perusahaan ini bukan anggota IMOCA. Jadi, bola
menindak itu adanya di BRTI,” tuturnya.[doni ismanto]

101208 Meretas jalan Menikmati Industri Kreatif

Pada tahun lalu industri kreatif di Indonesia memiliki nilai bisnis sekitar dua miliar dollar AS. Dan diprediksi dua tahun dari sekarang angka tersebut akan membengkak menjadi sekitar enam miliar dollar AS.

Industri kreatif sendiri terdiri atas musik, animasi, games, desain, software, sastra, dan penerbitan. Di Jepang, industri konten berarti karakter dengan berbagai
bentuknya termasuk film, TV, games, mainan, kartu dan sebagainya. Jasa ini menjadi sebuah industri terdepan di negeri Sakura di samping manufaktur.

Sedangkan di Korea Selatan, industri digital konten
diharapkan menjadi mesin pertumbuhan broadband teknologi informasi
dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun 40 persen
dari games, animasi, mobile content, e-learning dan lainnya.

ntt_gameDi Indonesia , berkat hadirnya teknologi broadband, diperkirakan dalam beberapa tahun mendatang akan menjalankan konsep ideonomics yang membuat industri kreatif menjadi properti intelektual dan dianggap sebagai mata uang baru.

“Data menunjukkan di tengah situasi krisis, industri kreatif tetap akan tumbuh rata-rata 10 persen per tahun,” ujar Ketua Komite Tetap Telematika Kadin Anindya N. Bakrie, di Jakarta, Selasa, (9/10).

Ketua Indonesia Mobile and Online Content (IMOCA) A. Haryawirasma menambahkan, khusus untuk bisnis konten seperti SMS Premium dan Ring Back Tone nilai bisnisnya tahun ini mencapai 1,5 hingga dua triliun rupiah.

“Tahun depan saya yakin bisnis ini akan tetap tumbuh karena tidak memerlukan modal yang besar untuk mendirikan penyedia konten. Modal utama adalah kreatifitas. Pertumbuhan untuk dua produk tersebut diperkirakan mencapai 40 persen,” jelasnya.

Menurut Anindya, tumbuhnya industri kreatif ini menjadi peluang bagi para pelaku usaha di multimedia untuk mengintegrasikan “tiga layar” dalam satu kesatuan alias konvergensi. Tiga layar yang dimaksud adalah televisi, personal Computer (PC), dan telepon seluler.

“Beberapa tahun ke depan bukan hal yang aneh melihat konsumen mengakses informasi atau melakukan transaksi keuangan melalui telepon seluler. Jika sebelumnya fungsi itu dijalankan secara terpisah-pisah dari beberapa layar, maka ke depan trennya bersatu,” tutur Anindya.

Ucapan Anindya yang juga menjadi Presiden Direktur Bakrie Telecom tersebut seperti jawaban tidak langsung atas pertanyaan banyak orang dari alasan kelompok usaha Bakrie mendirikan portal berita Viva News.

Ya, kelompok usaha Bakrie yang telah memiliki TV dan operator telekomunikasi dengan merek dagang esia, tengah meretas jalan menikmati kue industri kreatif dengan membuka Viva News. Targetnya apalagi kalau bukan nantinya di satu masa pelanggan dari esia bisa melakukan segala hal hanya melalui satu layar yakni telepon seluler.

Bakrie bukanlah yang pertama melakukan ini. Ketika Taipan Harry Tanoesudibjo meluncurkan Mobile-8, Pria ini juga telah melihat bisnis kreatif yang disajikan dalam media hasil konvergensi akan menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Karena itulah setelah memiliki beberapa stasiun televisi, jaringan radio, dan operator telekomunikasi, diluncurkan Harian Seputar Indonesia dan portal berita Okezone.

Sayangnya, roda Mobile-8 yang diharapkan akan menjadi penggerak teknologi broadband untuk menopang industri kreatif tidak berjalan sempurna. Akhirnya, Harry sepertinya mengambil langkah realistis dengan melepas sebagian saham di Mobile-8. Bahkan dari kasak-kusuk di pasar sebagian saham di Okezone dan Seputar Indonesia juga akan dilepas.

Berbeda dengan dua kelompok bisnis tersebut dimana telah memiliki basis di bisnis media. Pemimpin pasar telekomunikasi, Telkom, lebih mengambil langkah realistis. Operator ini juga berencana akan membangun satu portal, tetapi tidak akan bermain di segmen berita.

Sebelumnya, Telkom diisukan akan membeli portal berita detikcom. Namun, karena portal tersebut dibanderol terlalu mahal, akhirnya Telkom mengurungkan niatnya.

Jika melihat roadmap yang dibuat oleh Telkom, operator ini sepertinya akan membangun satu portal layaknya You Tube. Hal ini karena Telkom memiliki keunggulan di banding pesaingnya yakni infrastruktur jaringan dengan bandwith lumayan besar.

Wadirut Bakrie Telecom bidang pemasaran Erik Meijer mengakui tren ke depan dari industri telekomunikasi mengarah pada konvergensi. “Bakrie Telecom yang selama ini menggarap segmen menengah bawah pun ternyata pelanggannya menikmati konvergensi seperti mengunduh lagu melalui situs esia store . Sudah pasti suatu saat ini akan menjadi kebutuhan,” ujarnya.

Menurut Erik, kunci dari suksesnya konvergensi nantinya adalah pada aplikasi yang ditawarkan. “Harus ada killer application alias konten yang membuat masyarakat merasa butuh dan terbantu dengan adanya konvergensi. Jika itu tidak bisa diciptakan, maka nantinya hanya akan menjadi aksesori,” tuturnya.

Kepala pemasaran dan merek Indosat Teguh Prasetya memperkirakan dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan era new media akan datang ke Indonesia . Era tersebut adalah dimana ponsel menjadi satu personal media yang menggantikan media tradisional.

“Tak bisa dipungkiri ponsel sekarang telah bersifat personal. Nah, posisinya yang personal tersebut membuat alat ini menjadi mudah distatistik keefektifannya untuk menyampaikan pesan. Karena itu sekarang berkembang mobile advertising,” jelasnya.

Jasa mobile advertising, kata Teguh, belakangan mulai marak di tanah air sejak kuartal ketiga tahun ini melalui i-klan dari Indosat dan Kartu As Fress milik Telkomsel. “Produk yang baru seumur jagung seperti i–klan berhasil menggaet 500 ribu pelanggan. Tentu ke depan akan lebih banyak lagi,” tuturnya.

Teguh menjelaskan, untuk menawarkan jasa mobile advertising bisanya operator meminta izin dulu dari pelanggan untuk menerima iklan. Jika pelanggan setuju, maka ada kompensasi yang diterima seperti bonus pulsa atau informasi sesuai kebutuhan.

“Disinilah keungulan dari operator yang memiliki bisnis multimedia saat konvergensi nanti. Mereka akan mampu menawarkan informasi lebih beragam, karena ada TV, radio, dan portal berita. Sementara kalau operator biasa harus berlangganan dulu berita dari kelompok media tertentu,” terangnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Hery Nugroho mengakui konvergensi akan menjadi masa depan operator telekomunikasi. “Di masa depan jika operator masih berjualan SMS dan suara bisa mati. Karena itu mulai sekarang sudah merintis jalan menuju era industri kreatif berupa jualan aplikasi dan konten,” jelasnya.

Dijelaskannya, tantangan dari era konvergensi adalah belum adanya regulasi yang mengatur karena di Indonesia aturan penyiaran dan telekomunikasi masih terpisah. “Seharusnya ada regulasi baru yang mengadopsi konvergensi berupa penyatuan dua Undang-undang yakni penyiaran dan telekomunikasi. Bahkan, jika perlu UU Pers juga masuk ke dalam UU baru itu,” katanya.

Adanya UU baru yang mengatur konvergensi, menurut Hery, akan membuat jelasnya aturan main dan terjadi level kompetisi yang sama di pasar. Misalnya, Telkom sebagai penguasa infrastruktur diharuskan memberikan sewa bandwith dengan kualitas dan harga yang sama kepada penyewa selain anak usahanya.

“UU konvergensi itu akan memaksa perlunya pencatatan akuntansi terpisah dari setiap operator ketika berjualan jaringan dan jasa. Akhirnya semua transparan,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, pengamat telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono mengungkapkan, ada ketidaktransparanan dari operator ketika berbicara tentang konvergensi. Operator dinilai berbicara konvergensi hanya dari sisi roadmap bisnis, sementara masalah teknologi tidak dibicarakan.

“Yang dibicarakan oleh operator tentang penyatuan dari ranah penyiaran dan telekomunikasi itu kan hanya untuk menguntungkan mereka. Bagaimana dengan konvergensi backbone yang berbasis Internet Protocol (IP),” katanya.

Teknologi IP, ungkap Gunawan, memungkinkan panggilan suara dilakukan melalui jaringan internet sehingga tarif menjadi lebih murah. Dan praktik ini banyak dilakukan oleh operator ketika melakukan panggilan antarwilayah atau internasional. “Semua backbone dari operator rata-rata sudah berbasis IP, sekarang apa ini pernah digembor-gemborkan. Tentunya tidak. Soalnya jika ini terbuka akan ketahuan kalau operator menikmati keuntungan berlipat selama ini ,” sesalnya.

Sementara itu, lanjutnya, dari sisi pemerintah tidak ada visi ingin mengembangkan konvergensi karena kenyataan di lapangan tidak terlihat keinginan untuk menyatukan badan-badan yang mengatur penyiaran dan telekomunikasi.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan BRTI semakin terlihat jalan sendiri-sendiri. Besok ditambah lagi dengan Komisi Informasi Publik (KIP). Dari situ dapat dilihat memang tidak ada visi pemerintah untuk membangun era konvergensi,” tegasnya.[dni]