091208 Komponen Lokal Hanya Sebatas Pendukung

Pemerintah boleh saja memaksa operator untuk mengonsumsi komponen lokal dalam
mengembangkan jaringannya. Tetapi apakah sebenarnya industri manufaktur lokal sudah
siap untuk menjadi pemain utama?
Pertanyaan ini segera mencuat di kalangan punggawa operator begitu wacana regulasi
penggunaan komponen dalam negeri dikumandangkan oleh regulator belum lama ini.
“Kita malah senang jika menghabiskan belanja modal dalam bentuk Rupiah, hal ini
karena nilai dollar AS mulai gila-gilaan. Yang menjadi pertanyaan sekarang, adakah
manufaktur lokal dengan kemampuan standar carrier,” kata Direktur Pemasaran
Indosat Guntur S Siboro kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Standar carrier yang dimaksud oleh Guntur adalah kemampuan dari komponen tersebut untuk menangani trafik komunikasi dari operator yang memiliki pelanggan di atas 30 juta nomor.

tower-doangKomponen yang dikategorikan sebagai jantung dari jaringan diantaranya Mobile
Switching Center (MSC), Radio Base Station (RBS), Base Transceiver Station (BTS),
SMS Center, Microwave, Softswitch, Intelligent Network (IN), dan lainnya.
“Kelas dari komponen lokal untuk yang kategori jantung jaringan itu baru mampu
menangani trafik komunikasi sekitar tiga juta pelanggan. Jika lebih dari itu,
kualitasnya dipertanyakan. Nah, kalau tetap kita gunakan dari kualitas layanan
turun, nanti kita dimarahi pelanggan dan didenda regulator. Simalakama, bukan?”
tuturnya.

Guntur mengungkapkan, komponen lokal baru bisa berbicara banyak untuk pendukung
jaringan seperti menara telekomunikasi,power supply, casing, dan lainnya. “Karena
itu jika regulasi tersebut memasukkan menara sebagai komponen lokal, maka operator
akan dapat memenuhi ketentuan regulasi yangs edang digodog pemerintah tersebut,”
tuturnya.

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys
menambahkan, realitas di lapangan memang tidak bisa mengingkari bahwa komponen lokal
belum bisa berbicara banyak.

“Tidak ada satu operator pun yang dengan sengaja ingin membeli barang impor. Jika
ternyata terdapat barang yang sama dengan kualitas sama dalam jumlah cukup
tersedia oleh pemain lokal. Apalagi jika kontinuitasnya terjamin dan harganya
wajar. Tentu operator akan membeli produk tersebut,” katanya.
Merza menjelaskan, jaringan telekomunikasi terdiri atas banyak sekali bagian dan
elemen, baik dalam bentuk perangkat keras maupun lunak. Dan semua itu memiliki
ukuran teknologi sendiri. “Harus disadari untuk mainframe network, komponen lokal
belum berbicara banyak,” tuturnya.

Namun Merza mengingatkan, tidak banyaknya komponen lokal digunakan oleh operator
juga tak dapat dilepaskan dari sumber pembiayaan yang datang dari luar negeri atau
adanya konsep membangun jaringan seperti managed service.

“Kalau dana dari luar negeri tentunya pembelanjaan lebih diutamakan dari asalnya
dana agar roda perekonomian negara donor juga berputar. Saya rasa itu lumrah,”
tuturnya.
Sedangkan untuk managed sevice alias infrastruktur dibangun oleh penyedia jaringan
tentu memaksa semua produk merupakan alat dari vendor yang membangun. Contohnya,
jika managed service dilakukan oleh penyedia jaringan Nokia Siemens Network (NS),
tentunya untuk jaringan utama akan menggunakan produk merek tersebut.

Apalgi di
negara asalnya untuk mengekspor barang terdapat stimulus dari pemerintah setempat
berupa kredit ekspor.

Pola Pikir
Menanggapi hal itu, Pengamat Telematika dari STT Telkom Miftadi Sudjai
mengungkapkan, tidak berkembangnya manufaktur lokal tak dapat dilepaskan dari pola
pikir pemimpin operator yang memandang rendah barang lokal.

“Seharusnya direksi operator yang diisi oleh kalangan lokal harus lebih cinta
produksi dalam negeri. Tetapi kenyataanya, mereka kan seperti agen dimana lebih
tunduk pada keinginan pemegang saham yang notabene asing. Akhirnya yang digunakan
adalah barang asing semuanya,” sesalnya.

Miftadi menegaskan, pemain lokal sudah bisa membuat barang berkualitas. Meskipun
untuk mainframe network belum semuanya bisa dikerjakan oleh manufaktir lokal.

Perangkat berkualitas hasil produk lokal diantaranya travo, power supply, sebagian
perangkat sinyal dasar, Voice Codex, Video Codex, softswitch, dan lainnya. Bahkan
untuk teknologi Wimax, perangkat lokal itu bisa memenuhi mulai dari hulu hingga
hilir.

“Seperti saya bilang ini masalah mental. Nah, jika pemerintah benar-benar ingin
menggalakkan penggunaan komponen lokal, mental dari para ‘agen asing’ itu harus
dibenahi dulu. Jika tidak, percuma ada payung hukumnya karena nanti akan coba
diakali,” tegasnya.[doni ismanto]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s