051208 Hantu itu Bernama Avtur

a380Pemerintah pada 2008 dan 2009 secara maraton menetapkan sebagai tahun kunjungan
wisata. Pada tahun depan, program yang memiliki nama keren Visit Indonesia Year (VIY
2009) tersebut akan mengusung tema MICE dan Wisata Bahari.

Tak tanggung-tanggung, target yang ditetapkan adalah mendatangkan 8 juta wisatawan
mancanegara. Namun, bagi maskapai nasional ternyata program itu seperti menyiramkan
garam ke laut.

“Program VIY tidak signifikan memberikan dampak bagi maskapai nasional. Hal ini
karena wisman itu lebih memilih naik maskapai negaranya ke Indonesia. Dan jika pun
ke Indonesia umumnya langsung ke Bali dimana penerbangan langsung atau transit ke
wilayah itu terbuka luas,” ujar Sekjen Indonesia National Air Carriers Association
(Inaca) Tengku Burhanuddin kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Dikatakannya, maskapai lokal saat ini juga tidak banyak melayani rute internasional.
Hanya beberapa yang terbang ke luar negeri terutama kawasan Asia. Sementara untuk ke
Eropa awan gelap embargo dari Uni Eropa masih menyelimuti maskapai nasional.

”Inilah yang saya bilang maskapai lokal lebih fokus ke pasar domestik. Nah, untuk
bersaing di pasar domestik ini sebenarnya peluang terbuka lebar karena minyak mentah
di dunia mulai turun. Sayangnya, kita masih terganjal oleh hantu bernama Avtur yang
turunnya kecil sekali tiap bulan oleh Pertamina,” jelasnya.

Untuk diketahui, harga avtur Pertamina di depot pengisian pesawat udara (DPPU)
Bandara Soekarno-Hatta telah diturunkan secara periodik setiap bulan. Pada 1
September, misalnya, Pertamina menurunkan harga avtur rata-rata 15 persen di seluruh
DPPU Pertamina.

Selanjutnya pada Oktober 2008, harga avtur ditambah PPN di DPPU Bandara
Soekarno-Hatta sebesar 9.042 rupiah  per liter, sedangkan pada November harganya
diturunkan lagi menjadi 7.623 rupiah  per liter. Adapun, per 1 Desember harga avtur
ditambah PPN di DPPU Bandara Soekarno-Hatta dijual sebesar 7.282 rupiah  per liter.

“Rasanya tidak wajar Pertamina hanya menurunkan avtur sebesar 4,5 persen bulan
ini. sepantasnya adalah sekitar 15 hingga 19 persen dibandingkan bulan lalu. Hal ini
karena harga minyak mentah dunia mengalami penurunan sebesar 24 persen dalam periode
yang sama dan persentase pelemahan rupiah terhadap dolar AS sekitar 4 persen,”
jelasnya.

Masalah besaran avtur ini, menurut Burhanuddin, memegang peranan penting karena
biaya bahan bakar (fuel) menyumbang 50 persen dari total biaya operasional pesawat.
“Jika avtur naik tentu fuel surcharge akan tinggi. Ujung-ujungnya penumpang enggan
naik pesawat karena tiket mahal. Ini sudah terbukti saat Lebaran lalu,” jelasnya.

Karena itu, lanjutnya, Inaca telah mengusulkan pada regulator untuk menghapus Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) avtur dan mengurangi landing fee agar maskapai bisa bertahan
dari krisis ekonomi. “Selain itu tentunya kami mengirimkan surat ke Pertamina
mempertanyakan penetepan harga Avtur versi mereka,” tuturnya.

Direktur Operasi  Garuda Indonesia Ari Sapari mengakui masalah avtur memang
menghantui setiap maskapai. Garuda Indonesia sendiri akan melakukan efisiensi
terhadap biaya bahan bakar. Efisiensi  bahan bakar akan dilakukan  dengan teknis
penerbangan yang bisa menghemat, pemilihan rute yang menguntungkan, dan
mendisiplinkan penumpang denganmembatasi   jumlah  barang di kabin.   “Bila
program tersebut berhasil, maka penghematan bisa mencapai 3 persen BBM,” katanya.

Meski hanya 3 persen, ujar Ari, bila dihitung dengan jumlah BBM yang dipakai oleh
pesawat-pesawat Garuda sangat besar. “Rencana penggunaan avtur pada 2009 adalah
900 juta liter. Dengan rencana efisiensi tersebut, maka diperkirakan avtur yang
dipakai bisa berkurang menjadi 873  juta liter atau berhemat sebesar 27 juta
liter,” jelasnya.[dni]

051208 Industri Penerbangan 2008: Masih Ada yang Berkibar

20_18_2-air-atlanta-boeing-747-200-tf-atb_webBadan Pusat Statistik (BPS) selama Januari hingga Oktober lalu mencatat jumlah
penumpang pesawat udara tujuan domestik mencapai 26,50 juta juta orang atau  naik
sebesar 4,75 persen ketimbang periode sama tahun lalu yang mencapai 25,295 juta
orang.

Pada bulan Oktober lalu yang diperkirakan sebagai masa panen karena adanya musim
mudik pun ternyata tidak mendongkrak jumlah penumpang pesawat udara. Tercatat,
jumlah penumpang angkutan udara dengan tujuan domestik pada bulan tersebut hanya
mencapai 2,81 juta orang alias  mengalami kenaikan sebesar 35,36 persen ketimbang
bulan September yang mencapai 2,077 juta orang.

Hal senada juga terjadi pada jumlah penumpang udara tujuan internasional. Pada
Januari-Oktober, penumpang udara tujuan internasional mengalami kenaikan 11,81
persen menjadi 5,96 juta orang ketimbang periode yang sama tahun lalu yang sekitar
5,33 juta orang.

Khusus untuk Oktober, jumlah penumpang tujuan internasional mencapai 623,3 ribu
orang atau naik 0,26 persen ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai 621,7 ribu
orang.
Data tersebut sepertinya mencerminkan kekhawatiran dari  Indonesia National Air
Carriers Association (Inaca), pada pertengahan tahun lalu yang memperkirakan
industri penerbangan di Indonesia diperkirakan hanya akan membawa  34 hingga 36
juta penumpang  hingga akhir tahun nanti alias tumbuh sekitar 12 hingga 13 persen.

Penurunan ini dipicu oleh berhenti beroperasinya maskapai Adam Air  dan  harga
minyak mentah dunia di pasar yang fluktuatif sehingga memicu biaya avtur dibanderol
tinggi.

Departemen Perhubungan yang sebelumnya optimistis dengan target jumlah angkutan
penumpang udara bisa mencapai 15 persen pun akhirnya mengakui bahwa tahun ini akan
ada pelambatan pertumbuhan.

Direktur Angkutan Udara Departemen Perhubungan Tri S Sunoko   mengatakan, jumlah
penumpang pesawat domestik untuk tahun ini diperkirakan akan turun.

“Penurunan ini disebabkan oleh naiknya harga minyak mentah dunia yang sempat
mencapai 100 dollar AS per barrel sehingga   penumpang harus menanggung fuel
surcharge yang sangat besar. Akhirnya ketika musim panen seperti Lebaran dan Natal,
konsumen lebih memilih naik angkutan lain,” katanya di Jakarta belum lama ini.

Sebelumnya, ungkap Tri,  menargetkan kenaikan penumpang domestik sebesar 10
persen  selama Libur Lebaran. Namun kenyataannya, jumlah penumpang lebih rendah 17
persen dari Libur Lebaran tahun lalu.

Tetap Optimistis
Meskipun statistik secara keseluruhan menunjukkan adanya perlambatan, ibarat
pepatah, tentu ada yang masih bisa mengeruk keuntungan di tengah krisis. Dan untuk
kali ini masih ada beberapa  maskapai yang berkibar alias   dipayungi awan terang
rupiah.

Maskapai yang bisa disebutkan di sini adalah Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan
Mandala Airlines. Maskapai-maskapai tersebut   tetap optimistis mampu mencapai
target jumlah penumpang yang ditetapkan oleh manajemen hingga akhir tahun nanti,
meskipun dua  bulan belakangan tingkat isian di bawah 90 persen.

Tercatat, Garuda optimistis mendapatkan 10 juta penumpang dapat, begitu juga dengan
Mandala Airlines yang yakin meraih empat hingga lima juta penumpang hingga akhir
tahun nanti. Sementara Sriwijaya Air juga menyemburkan optimisme yang sama dengan
mematok dapat meraih 4,8 juta penumpang hingga akhir tahun nanti.

“Hingga Oktober lalu kami masih  meraup sebanyak 4,4 juta. Bagi kami ini tren yang
positif karena itu kita tetap optimistis target 4,8 juta penumpang itu tercapai,”
ujar Presiden Direktur Sriwijaya Air  Chandra  Lie.

Juru bicara Mandala Trisia Megawati  mengungkapkan, optimisme Mandala mencapai
target yang ditetapkan karena selama ini strategi bisnis berjalan sesuai rencana.
Srategi yang dimaksud adalah menggaet pasar korporasi dan mempermudah pemesanan
melalui jalur internet.

Korporasi yang belum lama ini behasil digandeng Mandala adalah  Total E&P
Indonesie. Dalam kerjasama tersebut Mandala menjadi maskapai yang dipercaya untuk
mengangkut 9 ribu karyawan perusahaan tersebut.

Sementara untuk pemesanan secara online Mandala mencatat kenaikan. Terbukti, situs
Mandala dikunjungi 5 juta calon penumpang hanya dalam bulan Oktober lalu, meskipun
tidak semuanya melakukan pembelian tiket. “Kunjungan itu membuktikan masyarakat
punya animo untuk menggunakan moda pesawat,” jelasnya.

“Terakhir kami kedatangan dua pesawat baru  jenis Airbus yang digunakan  ke
empat  tujuan baru yaitu Jambi, Pontianak, Pangkal Pinang, dan Bengkulu. Pesawat
baru ini juga memungkinkan kami menambah frekuensi penerbangan, sehingga target yang
ditetapkan dapat tercapai,” jelasnya.

Alihkan Ke Domestik
Direktur Niaga Garuda Agus Priyanto mengungkapkan, untuk menggenjot pertumbuhan
penumpang pihaknya tidak hanya akan menambah armada tetapi juga akan membuka rute
domestik baru sebagai kompensasi menurunnya penumpang internasional akibat adanya
krisis ekonomi global.

Dirut Garuda Emirsyah Satar menambahkan, arus kedatangan orang asing ke Indonesia
(inbound) dari sejumlah negara, yakni Australia, Korea Selatan dan Jepang,
diperkirakan turun.

“Pertumbuhan penerbangan internasional tertahan karena daya beli masyarakat
Australia dan Korea Selatan turun,” ujarnya.

Menurut Emirsyah, nilai mata uang Australia, Korsel, dan Jepang terdepresiasi cukup
dalam terhadap dolar AS sehingga akan memengaruhi daya beli dan minat bepergian
masyarakat dari ketiga negara itu. “Meski forward booking [pembatalan pemesanan]
belum terjadi, kami tetap harus mengantisipasi penurunan permintaan,” tambah
Emirsyah.

”Untuk itu rencananya kita akan  membuka sedikitnya 18 rute penerbangan baru pada
jalur domestik menyusul penurunan pertumbuhan penumpang internasional akibat krisis
keuangan global,” jelas Agus.

Menurut Agus, pembukaan rute baru domestik itu karena banyak sekali permintaan dari
masyarakat dan pemerintah daerah agar Garuda membuka rute ke daerah mereka.”
Permintaan dari masyarakat dan pemda banyak sekali agar Garuda terbang ke daerah
mereka,” jelasnya.

Rute baru yang akan dibuka antara lain,  penerbangan dari Jakarta ke Jambi,
Bengkulu, Kendari, dan sejumlah daerah lainnya di kawasan barat dan timur Indonesia.
”Rute baru itu akan diterbangi mulai tahun depan menunggu kedatangan pesawat yang
telah dipesan Garuda,” katanya.

Sekretaris Perusahaan Garuda Pujobroto menambahkan,  selama 2009 mendatang, Garuda
akan lebih serius menggarap rute jarak pendek domestik dimana selama ini hanya
digarap oleh Sriwijaya Air seperti  Kota Malang (Jawa Timur) . Selain itu, Kota
Palu, Ambon dan Ternate pun akan digarap semaksimalnya.

“Target utama adalah rute dalam negeri solid untuk mendukung jaringan internasional.
Rute- rute ini nantinya jadi rute penghubung,” tandasnya.

Selain itu, jelas Pujo, rute-rute di Indonesia akan ditambah untuk membantu
meningkatkan penumpang dalam negeri dan kunjungan pariwisata ke Indonesia. Dua jenis
pesawat telah disediakan untuk target penambauah rute 2009 ini, yaitu  Boeing
737-300 dan Boeing 737-500.

Dijelaskannya, paling tidak pada 2009 mendatang seluruh ibukota provinsi sudah bisa
dilewati oleh Garuda. Dengan demikian, bila ada penumpang yang akan luar negeri bisa
langsung naik pesawat Garuda ke bandara pengumpul.

Agus juga mengungkapkan,  pihaknya mulai merestrukturisasi sejumlah rute
penerbangan luar negeri untuk meningkatkan daya saing. Rute itu di antaranya
Jakarta-Hong Kong dan Jakarta-Beijing dengan memindahkan transit dari Singapura ke
Denpasar.

“Jadi, untuk selanjutnya penerbangan Jakarta ke Hong Kong dan Jakarta-Beijing
transitnya melalui Denpasar. Pertimbangannya, sedikit penumpang yang bisa dibawa
melalui Changi dan akan lebih menguntungkan melalui Bali,” ujar Agus.

Dikatakannya, Garuda terbang ke tiga kota di daratan China, yakni dari
Jakarta-Singapura-Hong Kong, Jakarta-Singapura-Singapura-Beijing dan
Jakarta-Guangzho. Untuk penerbangan langsung Jakarta-Guangzho tetap dipertahankan,
sementara transit melalui Singapura dihapus dan dialihkan melalui Denpasar.

Menghadapi serangan dari Garuda, juru bicara Sriwijaya Air, Hanna Simatupang
mengatakan maskapainya akan tetap fokus menggarap rute-rute yangs selama ini sudah
tidak dilalui oleh maskapai penerbangan lain.

Hal ini karena terbukti rute yang banyak ditinggalkan ternyata masih menguntungakan
juga. “Saat ini strategi bisnis perusahaan memang membidik rute-rute yang sudah
tidak dilewati oleh maskapai lain. Ternyata hasilnya cukup bagus, paling tidak rute
Jakarta-Ambon yang sudah ditinggalkan maskapai lain, ternyata setelah dilalui
Sriwijaya justru load factornya 80 persen,” katanya.

Menanggapi langkah maskapai besar seperti Garuda yang akan menggarap lebih serius
pasar domestik, Tri Sunoko  mengatakan, semestinya rute tersebut digarap oleh
maskapai lainnya yang fokus pada penerbangan nasional. “Tetapi karena Garuda yang
mengusulkan rute-rute itu ya kita
persilakan. Tapi seharusnya maskapai lain juga nggak kalah ekspansif agar tidak
kalah bersaing,” ujarnya.

Sekjen Inaca Tengku Burhanuddin bisa memahami langkah yang diambil Garuda karena
pada tahun depan akibat krisis ekonomi global akan terjadi  perlambatan pertumbuhan
penumpang, khususnya untuk rute internasional.

”Sebagai perusahaan rasanya wajar menyiapkan payung sebelum hujan. Ini karena
menurut perkiraan kami pada tahun depan pertumbuhan penumpang itu totalnya hanya 10
persen. Krisis memang membuat semuanya melambat,” katanya.

Pertumbuhan penumpang, jelas Burhanuddin,  akan terjadi di sektor domestik karena
adanya kegiatan kampanye Pemilu selama satu tahun dan mulai menurunnya harga minyak
mentah sehingga avtur perlahan turun,” jelasnya

Sementara untuk  pertumbuhan penumpang  ke luar negeri tetap terjadi meskipun
kecil salah saunya dipicu akan berlakunya   kebijakan bebas fiskal bagi Warga
Negara Indonesia yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). [dni]

041208 Tarif Lini II Tanjung Priok Picu Ekonomi Biaya Tinggi

Para Importir yang tergabung dalam Ikatan Eksportir Importir (IEI) menuding tarif
lini II yang berlaku di  pelabuhan Tanjung Priok  sebagai pemicu terjadinya
ekonomi biaya tinggi.

Ketua IEI Amalia Achyar menjelaskan, akibat implementasi dari tarif lini II yang
melenceng dari kesepakatan awal, maka para importir mengalami kerugian sekitar 1,454
triliun rupiah selama periode Oktober-November 2008.

“Berdasarkan hasil kesepakatan pada pertengahan tahun lalu telah ditetapkan tarif
lini II terdiri atas sembilan komponen. Tetapi praktik di lapangan, ada 14 komponen
yang dibebankan ke importir. Ini membuat biaya untuk mengeluarkan barang dari Priok
menjadi mahal,” ungkap Amalia di Jakarta, Kamis (4/12).

Tarif lini II adalah pelayanan jasa barang untuk status peti kemas yang
barang-barang di dalamnya dimiliki oleh lebih dari satu pemilik barang (Less Than
Container Load/ LCL).

Penetapan tarif tersebut dilakukan pada Mei 2007, dan diimplementasikan dua bulan
berikutnya oleh   enam asosiasi yang selama ini terlibat dalam akifitas
ekspor-impor di Tanjung Priok.

Keenam asosiasi itu adalah DPW Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), BPD
Gabungan Importir Nasional (GINSI) DKI Jakarta, DPC Indonesia Ship Owner Asosciation
(INSA) Jaya,  Asosiasi Tempat Penimbunan Sementara Indonesia (APTESINDO), Gabungan
Forwader dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) DKI Jakarta, dan DPC Asosiasi Perusahaan
Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Tanjung Priok.

Sembilan komponen yang ditetapkan dalam biaya pergudangan adalah biaya penumpukan,
biaya mekanik, biaya delivery, biaya retribusi kebersihan, biaya surveyor, biaya
administrasi pergudangan, biaya behandel, uang dermaga, dan surcharge.

Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada Maret 2008 telah
mengeluarkan putusan yang menyatakan tarif lini II   melanggar Pasal 5 UU No 5
/99. Akibat dari praktik tidak sehat tersebut dalam jangka panjang terjadi
disinsentif bagi pelaku karena tidak adanya elasitas bersaing.

Lembaga tersebut menyarankan pada pemerintah untuk pemerintah menghentikan praktik
ini karena asosiasi tersebut menggunakan dasar hukum menjalankan praktiknya.

Aturan yang dimaksud adalah Keputusan Menteri (KM) No 72/2005 tentang perubahan KM
No 50/2003 tentang jenis struktur dan golongan tarif jasa di pelabuhan.

Aturan tersebut membuat lemahnya posisi pengimpor dalam bernegosiasi dengan penyedia
jasa penyimpanan karena keterbatasan infrastruktur. Guna menghindari tersebut,
pelaku usaha membuat kesepakatan harga. Hal ini dimungkinkan karena pemerintah
menyerahkan penetapan harga ke pelaku usaha.

“Seharusnya jika benar-benar mengikuti sembilan komponen tersebut importir hanya
terkena biaya sekitar 3,3 juta rupiah per 3 Meter kubik. Tetapi ini melonjak menjadi
4,5 juta rupiah per 3 meter kubik,” tukasnya.

Amelia juga mengungkapkan, faktor lain yang membuat terjadinya biaya tinggi di lini
II adalah importir sebagai pengguna jasa tidak diberikan alternatif pemakaian gudang
yang akan digunakan akibat para forwarder terlalu menguasai aliran barang. “Kami
melihat tidak ada transparansi dalam proses pengeluaran barang LCL. Jadinya kita
dipaksa menggunakan gudang tertentu,” katanya.

Peneliti dari Senada Sinta Aryani menambahkan, dalam pelaksanaan kesepakatan tarif
terjadi pelanggaran dimana telah ditetapkan minimum pelayanan untuk dua meter kubik,
tetapi praktik di lapangan yang terjadi adalah untuk tiga meter kubik.

Menurut Sinta, pemicu dari ketidakjelasan dari kesepakatan tarif lini II tidak dapat
dilepaskan dari adanya KM No72/2005 yang membuat pelaku usaha melakukan multi tafsir
dari regulasi tersebut. “Seharusnya  pemerintah turun tangan mengatasi ini.
selain itu KPPU juga harus turun tangan mengatasi persaingan tidak sehat ini,”
katanya.

Peran pemerintah, lanjut Sinta, bisa dalam bentuk menetapkan jenis, golongan, dan
komponen tarif yang dikenakan untuk proses pelayanan peti kemas di lini II, sehingga
terdapat kejelasan dan kepastian hukum.

Sementara itu, Anggota KPPU Taufik Ahmad mengatakan, lembaganya telah mengawasi
implementasi dari kesepakatan tarif tersebut. Lembaga ini menyarankan  pemerintah
untukmenetapkan besaran tarif batas atas   dan mengeluarkan formulasi tarif agar
terjadi kompetisi antarpelaku usaha.

Dirjen Hubungan Laut Sunaryo mengakui, penerapan tarif lini II memang bermasalah di
Tanjung Priok dan cenderung merugikan importir. “Keadaan ini harus dihentikan.
Karena yang dirugikan itu adalah produk Indonesia ketika akan diekspor,” katanya.

Kerugian itu berupa menurunnya nilai kompetitif ekspor jika sebagian bahan baku
berasal dari impor. Jika biaya impor tinggi, tentunya nilai jual produk ketika
diekspor semakin tinggi sehingga tidak bisa bersaing di luar negeri.

Administratur Tanjung Priok Bobby Mamahit mengatakan, sebagai regulator pihaknya
akan memfasilitasi pertemuan antarpengguna dan penyedia jasa untuk membuat
kesepakatan tarif baru di lini II.

“Minggu depan kita akan pertemukan mereka. Regulator tidak bisa intervensi karena
sesuai amanat undang-undang penetapan tarif ini hasil kesepakatan kedua belah
pihak,” katanya.

Sebagai regulator, lanjutnya, hasil kesepakatan tarif itu akan diperiksa apakah
struktut dan komponennya sesuai aturan. Jika sesuai aturan, akan disahkan. “ Jika
dulu terkesan dibiarkan karena kita tidak kekuatan untuk menekan berupa persetujuan
itu. Sekarang kan kondisinya beda, apalagi ada putusan KPPU itu. Saya rasa masalah
ini akan cepat selesainya,” jelasnya.[dni]

041208 Mobile-8 Negosiasi Obligasi Jatuh Tempo

logo-mobile8PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) sedang melakukan negosiasi ulang dengan para obligornya yang mendesak perusahaan tersebut untuk membayar obligasi meskipun masa jatuh tempo empat tahun lagi.

Desakan tersebut dilakukan oleh para obligor karena khawatir pemilik merek dagang Fren tersebut akan gagal membayar hutangnya akibat kinerja dari perusahaan yang kunjung tidak menunjukkan hasil positif.

Tidak kunjung positifnya kinerja Mobile-8 tak dapat dilepaskan dari agresifnya perusahaan membangun jaringan pada tahun lalu. Ketika jaringan selesai dibangun ternyata biaya untuk mengakuisisi pelanggan membengkak.

Pembengkakan tersebut tak dapat ditutupi oleh trafik komunikasi karena tarif ritel mengalami penurunan. Akibatnya, perseroan menanggung derita hingga sekarang.

“Kami sedang melakukan negosiasi ulang dengan para obligor tersebut. Masalahnya kan jatuh tempo dari obligasi itu masih lama. Dan jika dipaksa membayar sekarang dengan kondisi perusahaan seperti sekarang tentu kita tidak mampu. Karena itu perlu dinegosiasi,” kata Presiden Direktur Mobile-8 Witiasmoro Sih Handayanto kepada Koran Jakarta, Kamis (4/12).

Witi optimistis hasil negosiasi akan berbuah positif karena perusahaan selalu menunjukkan kerja keras untuk maju. “Kita kan sudah dalamjalur yang benar. Tentu kemajuan-kemajuan yang dibuat akan menjadi catatan dari bagi obligor,” tuturnya.

Diungkapkannya, pemegang saham sudah menyiapkan beberapa skenario untuk mendapatkan dana segar seperti right issue atau merger. “Tetapi bagaimana implementasinya itu kan hak pemegang saham.,” katanya.

Berkaitan dengan diturunkannya peringkat perusahaan Mobile-8 oleh Pefindo, Witi mengaku tidak khawatir karena itu wajar dilakukan. “Jika kondisi perusahaan seperti ini tentu saja ada yang meberikan penilaian seperti itu,” katanya.[dni]