031208 Bisnis yang Penuh Resiko

herusutadi61Analisa yang dilakukan Citigroup belum lama ini menunjukkan industri seluler di Indonesia dalam lima tahun ke depan membutuhkan sekitar 158.030 menara. Hal ini karena perbandingan jumlah pelanggan per menara di Indonesia belum ideal.

Di India, menurut lembaga tersebut, sekitar 1.142 pelanggan dilayani satu menara. Sedangkan di Indonesia satu menara melayani 2.318 pelanggan. Sementara itu Ditjen Postel memperkirakan pada 2012, Indonesia akan memerlukan 150.000 menara bersama.

Angka kebutuhan itu tentunya sangat fantastis sehingga mengundang harapan banyak pihak bahwa ini adalah industri yang berpotensi menjadi mesin uang. Bagaimana tidak, jika diasumsikan investasi per menara sebesar 1,098 miliar rupiah, maka akan dibutuhkan tidak kurang dari 173,5 triliun rupiah untuk pembangunan selama 5 tahun ke depan.

“Jika melihat dari statistik tentunya bisnis ini menarik sekali. Tetapi sebenarnya berbisnis menara di Indonesia penuh resiko,” ujar Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Rabu (3/12).

Resiko yang akan dihadapi oleh pebisnis menara adalah masalah lahan, usia menara, masyarakat dan lingkungan, serta regulasi dari pemerintah daerah.

Masalah lahan biasanya berkaitan usia dari menara. Biasanya yang menjadi hak milik dari operator adalah menaranya, sementara lahan disewa dari penduduk setempat. “Nah, pembeli menara itu harus firm dulu sebelum membeli dari operator. Apakah usia dari menara lewat dari lima tahun atau di bawah itu. Jika berusia di atas lima tahun tentu nilainya akan menyusut, karena biasanya sewa lahan itu 10 tahun,” jelasnya.

Dan jika nantinya pemilik baru akan memperpanjang sewa lahan, lanjutnya, tidak akan semudah membalikkan telapak tangan karena masyarakat setempat sudah sadar bahwa menara itu adalah mesin uang.

“Masyarakat sekarang sudah tahu kalau membangun menara tidak hanya pemilik lahan yang dapat uang ‘cinta’. Mereka pun harus kecipratan. Ini kan namanya biaya lagi,” tuturnya.

Belum lagi masalah regulasi dari pemerintah daerah yang bertentangan dengan aturan menara bersama milik pemerintah pusat seperti penunjukkan langsung rekanan Pemda atau mencabut menara yang sudah ada dengan alasan tidak ada dalam rencana pengembangan tata kota .

“Padahal secara jelas regulasi menara bersama melarang adanya monopoli dan memprioritaskan pada pemain lokal. Regulasi itu juga tidak menyebut menara dirobihkan, tetapi yang sudah ada dioptimalkan untuk digunakan bersama,” katanya.

Menanggapi hal itu, Direktur Jaringan XL Dian Sisworini mengungkapkan, usia menara yang dijual oleh XL rata-rata berumur empat tahun. “Dulu sebelum investor dari Malaysia masuk, XL hanya membangun 300-400 menara. Tetapi sekarang pembangunan tiga kali lipat. Tidak mungkin kami menetapkan harga tinggi, jika barangnya tidak seksi,” elaknya.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Perusahaan Penyewaan Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel), Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan, bisnis penyediaan menara mulai tahun depan tidak lagi semenarik tahun sebelumnya karena operator mulai mengerem ekspansi jaringan.

“Bisnis ini kan merupakan dampak dari pertumbuhan jaringan operator. Artinya kita mengharapkan operator ekspansif, baru bisa berputar roda ekonominya,” katanya.

Masalahnya, pada tahun depan operator mulai menurunkan belanja modalnya hingga rata-rata 40 persen dibandingkan tahun 2008. “Jika operator menurunkan belanja modal hingga sebesar itu, saya perkirakan nilai bisnis menara akan mengalami penurunan sebesar 70 hingga 80 persen tahun depan,” tuturnya.

Tanda-tanda terjadi penurunan itu dapat dilihat dari mulai disetopnya pengerjaan proyek milik beberapa operator oleh penyedia menara pada Oktober lalu. “Bulan lalu salah satu operator pemilik lisensi seluler dengan teknologi CDMA meminta kami menghentikan pembangunan menara. Ini kan sudah jelas dampak dari krisis,” ujar Pria yang juga menjadi Direktur Utama Indonesia Tower itu.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s