011208 Mengandalkan MICE dan Wisata Bahari

pulauPemerintah telah berketetapan program tahun kunjungan wisata alias Visit Indonesia Year (VIY) akan dilanjutkan pada tahun depan. Temanya pun telah ditentukan pada bulan ini yakni wisata   Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE) dan  wisata bahari. 

    

Dirjen Pemasaran Depbudpar, Sapta Nirwandar menjelaskan, diambilnya tema tersebut karena pada tahun depan Indonesia akan melakukan pesta demokrasi (Pemilu) dan menjadi tuan rumah konferensi dunia World Ocean Conference (WOC) di Manado, Sulut.

 

Selain itu juga akan diadakan “2nd International Conference on Intellectual Property and the Creative Industries dan Seminar Nasional Perlindungan dan Pengembangan Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional”  di Bali pada 2-4 Desember 2008.

 

“Indonesia telah terbukti bisa menyelenggarakan Mice  terbesar pada tahun lalu melalui konferensi global warming di Bali. Jadi, saya optimistis ini akan berhasil,” tuturnya di kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.  

 

Pemerintah sendiri telah menetapkan 10 kota yang siap untuk menyelenggarakan MICE yaitu Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Bali, Lombok, Makassar dan Manado.

 

Ketua Komite Penyelenggara Indonesia Mice  and Corporate Travel Mart, Panca Rudolf Sarungu menambahkan,  lokasi Mice yang ideal  untuk  Indonesia terletak   di Jakarta dan Bali karena didukung berbagai fasilitas memadai dengan standar internasional.

 

“Soal fasilitas pendukung kegiatan Mice, Indonesia sudah siap, termasuk juga akomodasi pariwisata baik hotel maupun obyek-obyek wisata,”tuturnya. 

 

Ketua Umum Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (Indonesia Conference and Convention Association/ INCCA), Iqbal Allan Abdullah mengungkapkan,  berdasarkan data profil wisman yang datang ke Indonesia sebanyak 40,1 persen bertujuan untuk Mice.

 

Menurut Iqbal, Mice merupakan sektor wisata yang tidak sensitif terhadap isu-isu yang mengganggu pariwisata pada umumnya, misalnya keamanan dan terorisme, karena pada umumnya wisman dengan tujuan MICE datang karena tugas dari institusinya.

 

 “Mice dipilih karena pada 2009 ada pemilu dan pilpres yang rentan terhadap keamanan, dan industri wisata yang tidak sensitif terhadap itu adalah Mice,” katanya.

    

Dikatakannya, dampak dari satu kegiatan konferensi adalah nilai pendapatan yang diterima negara karena selama ajang tersebut peserta mengeluarkan uang segar.

 

Untuk satu kegiatan, biasanya menghasilkan devisa bagi negara sekitar satu hingga 10 juta dollar AS. Angka tersebut didapat dari pengeluaran per hari dari para peserta sekitar  100 hingga 500 dollar AS. Sementara untuk wisman yang hanya ingin berlibur  Rata-rata   menghabiskan uang  75 sampai 100 dollar AS per hari. 

 

Untuk program wisata Mice VIY 2009, Iqbal mengatakan pihaknya bersama pemerintah masih dalam tahap menerima masukan dan menggodok usulan tentang program MICE yang akan dilakukan.

 

Sementara itu, Sekjen Gabungan Pengusaha Wisata Bahari  (Gahawisri)  Didien Junaedy  menjelasnkan, untuk mengembangkan wisata bahari, harus dipersiapkan terlebih dulu sumber daya manusianya dan didukung infrastruktur seperti   bandara, pelabuhan, dermaga-dermaga di pulau kecil, juga akses transportasi lainnya. 

    

Selain itu, katanya, daerah-daerah berpotensi wisata bahari juga perlu mengembangkan dan mengemas produk wisata bahari yang bisa dijual. “Wisata bahari harus berbasis masyarakat, dimana keikusertaan  masyarakat itu mutlak perlu,” katanya.

      

“Potensi wisata bahari antara 25 sampai 30 persen dari total devisa pariwisata yang ditargetkan oleh pemerintah berasal dari wisata bahari, dengan catatan pengembangan secara konsisten,” tambah  Didien.

 

Pada kesempatan lain, pengamat pariwisata I Gede Ardika menilai pemerintah harus berhati-hati menjadikan Mice sebagai andalan mendatangkan wisman karena kepastian dari satu kegiatan dilaksanakan telah direncanakan dua tahun sebelumnya.

 

”Rasanya aneh kalau menjadikan Mice sebagai tema pada tahun depan. Ini kan berarti promosi baru dijalankan tahun depan dan hasilnya belum tentu diraih instan,” jelasnya.

 

Ardika menyarankan, ketimbang sibuk memikirkan datangnya wisman, lebih baik pemerintah memberikan perhatian kepada wisatwan nusantara (wisnus).”Wisnus terbukti sebagai penyelamat Bali seusai pemboman. Begitu juga ketika krisis. Yang datang ke daerah wisata itu semuanya wisnus,” katanya.

 

Dan jika pun ingin membidik wisman, lanjutnya, sebaiknya menggoda pasangan bulan madu (Honey mooner). ”Segmen ini tidak sensitif dengan krisis. Tinggal bagaimana mengemas paketnya saja agar mereka tertarik,” tuturnya.[doni ismanto]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s