281108 Nasib Pencabutan Embargo UE Tergantung Regulator

planeJakarta-Nasib pencabutan dari larangan terbang (embargo) maskapai lokal ke Uni Eropa (UE) tergantung pada kinerja regulator dalam memenuhi aturan penerbangan sipil internasional.

Sekjen Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Tengku Burhanuddin, menegaskan, dari sisi operator semuanya sudah berkomitmen untuk meningkatkan aspek keselamatan dan memenuhi standar keselamatan penerbangan internasional.

“Alasan dari UE kemarin kan lebih pada faktor regulator. Jika bicara maskapai, semuanya sudah berkomitmen untuk memperhatikan aspek keselamatan,” tegasnya kepada Koran Jakarta, Jumat (21/11).

Dikatakannya, jika pun ada optimisme dari regulator bahwa embargo akan dicabut pada tahun depan, tentunya itu karena pemerintah merasa sudah memenuhi standar penerbangan internasional dengan melakukan pemisahan fungsi regulator dan operator.

“Tahun depan undang-undang penerbangan akan disahkan, mungkin ini yang membuat regulator optimistis dengan pencabutan tersebut,” jelasnya.

Seperti diketahui, pada Juli tahun lalu UE mengembargo maskapai lokal masuk ke wilayah udaranya. Kebijakan tersebut diambil oleh UE karena menilai keselamatan penerbangan Indonesia belum sesuai standar internasional.

Banyak pengamat memperkirakan pelarangan penerbangan yang dilakukan UE akan berdampak buruk terhadap arus kunjungan wisatawan Eropa ke Indonesia . Diperkirakan pada tahun ini jumlah wisatawan dari negeri tersebut akan turun sebesar 20 persen dari 700 ribu wisatawan pada tahun lalu.

Sedangkan secara bisnis bagi Garuda Indonesia misalnya, larangan terbang tersebut membuat perseroan mengalami kerugian (potential loss) sebesar 13,8 miliar rupiah per bulan.

Untuk mempercepat pencabutan, regulator mengusulkan empat maskapai untuk diperbolehkan terbang ke UE. Keempat maskapai tersebut adalah PT Garuda Indonesia , PT Mandala Airlines, PT Premi Air, dan PT Air Fast.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Budhi Muliawan Suyitno mengungkapkan, terdapat indikasi positif akan terjadi pencabutan larangan terbang terhadap seluruh maskapai nasional oleh UE. Hal itu dapat dilihat dari ketersediaan UE membuka diri untuk bekerja sama dalam berbagai hal terkait penerbangan.

Sejumlah temuan yang dipersoalkan UE dalam larangan terbangnya, kata Budhi, mayoritas sudah dinyatakan closed (selesai). Dari 69 temuan yang dipersoalkan, sebanyak 33 temuan sudah terselesaikan. Tujuh temuan lain di antaranya, terkait pengayaan sumber daya manusia instruktur pesawat berbadan lebar dan navigasi penerbangan, masih dalam proses negosiasi.

Sedangkan sisa 29 temuan lain yang terkait regulasi, penyelesaiaannya menunggu disahkannya Rancangan Undang – Undang (RUU) Penerbangan akhir tahun ini. Bahkan Pada Jumat (21/11) ini, Direktorat Perhubungan Udara akan menggelar telekonferensi dengan Unit Keselamatan Penerbangan Uni Eropa perihal kemajuan yang telah dilakukan Indonesia . Telekonferensi ini untuk membahas lebih lanjut masalah seputar pelarangan terbang dengan pihak UE.

”UE sudah membuka diri dan siap untuk bekerja sama dengan Indonesia . Telekonferensi nanti adalah salah satu buktinya. Jadi, mereka tidak hanya menjatuhkan larangan terbang, mereka juga sudah bersedia menawarkan kerjasama memperbaiki kondisi penerbangan kita,” ujarnya.

Juru Bicara Departemen Perhubungan Bambang S Ervan menambahkan, pihak UE sudah mengirimkan inspekturnya untuk memeriksa kondisi keselamatan penerbangan Indonesia . Selain itu dari Belanda, juga dilakukan shadow checking oleh pihak otoritas penerbangan sipil negara tersebut terhadap Garuda Indonesia .

“Kedua inspektur dari negara tersebut sudah datang bulan ini. tentu ini menjadi sinyal positif bagi Indonesia ,” jelasnya.

Secara terpisah, juru bicara Mandala Airlines Trisia Megawati mengaku siap maskapainya diperiksa oleh inspektur UE. “Mandala sebelumnya sudah diperiksa oleh Boeing, Airbus, dan perusahaan mitra lainnya. Jadi, kami tidak takut dengan inspektur UE itu,”katanya.


Menurut Trisia, sikap UE yang membabibuta mengembargo maskapai lokal tidaklah adil karena masih ada maskapai Indonesia yang memiliki tingkat keselamatan sesuai standar internasional.

“Seharusnya dilakukan embargo secara selektif. Bagi kami embargo yang dilakukan UE merupakan hal aneh karena Mandala menggunakan pesawat dan sistem keselamatan dari Eropa,” tuturnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s