211108 Smart Garap Pasar Data

smart_telecom_logoOperator seluler berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), Smart Telecom, mulai melirik segmen baru untuk mengembangkan layanannya.

Pasar yang disasar adalah layanan data bagi pelanggan yang tidak ingin terganggu koneksi datanya selama mengakses internet.

Head Of Commercial Marketing Smart Telecom Ruby Hermanto menjelaskan, untuk mencapai target tersebut perusahaan sudah menyiapkan paket ponsel modem murah meriah seharga 289 ribu rupiah.

“Paket ini memang menyasar segmen menengah bawah yang ingin mengakses internet selain berkomunikasi telephony dasar,” ujarnya di Jakarta, Selasa (18/11).

Dijelaskannya, jika pelanggan menggunakan ponsel hasil bundling dengan Haier tersebut maka akan mendapatkan kartu perdana dengan pulsa 10 ribu rupiah dan gratis akses data 12 Gb selama 6 bulan.

“Jika acuannya untuk membuka surat elektronik, rata-rata pemakaian pelanggan itu hanya 2Gb per bulan. Tentunya bonus yang kami berikan ini mencukupi bagi pelanggan mencicipi kualitas jaringan Smart,” jelasnya.

Ruby menyakini, untuk akses internet pelanggan Smart tidak akan mengalami masalah karena operator tersebut memiliki kanal frekuensi yang besar dibandingkan pesaing.

“Kelebihan kami adalah menjadi satu-satunya penguasa di spketrum 1.900 MHz. ini memugkinkan kanal yang dikuasai lebih besar. Berbeda dengan kompetitor di 800 MHz atau GSM dengan 3G yang sedang berteriak-teriak kekurangan frekuensi,” katanya.

Akibat kekurangan frekuensi tersebut, lanjutnya, pelanggan data kompetitor mengalami kesulitan mengakses data. “Sementara kita menawarkan dua teknologi langsung untuk akses internet. CDMA 1x untuk menengah bawah dan CDMA Rev A bagi mereka yang heavy menggunakan data,”jelasnya.[dni]

201108 Rencana Pemisahan Pontap Indosat: Telepon (Belum) Untuk Semuanya

indosat_copyKetika layanan telepon tetap nirkabel (Fixed Wireless Access/FWA) dengan merek dagang StarOne diluncurkan oleh Indosat empat tahun lalu, slogan memberikan telepon bagi semua kalangan digadang-gadang oleh operator tersebut.

Keyakinan menjadikan StarOne sebagai telepon yang akan digunakan semua kalangan tersebut tak dapat dilepaskan dari optimisme Indosat bahwa masyarakat membutuhkan akses telekomunikasi murah guna menunjang keperluan sehari-hari.

Ya, telekomunikasi murah memang menjadi andalan dari StarOne karena tarif yang diberikan bisa dibanting di bawah seluler mengingat lisensi yang dikantongi adalah telepon tetap (Pontap) dan teknologi diusung Code Division Multiple Access (CDMA).

Namun, seiring perjalanan waktu, StarOne tidak pernah mewujudkan mimpinya menjadi telepon untuk semuanya. Pertumbuhan pelanggannya sangat jauh berbeda dengan layanan seluler Indosat (Mentari, IM3, dan Matrix)

Saat ini diperkirakan StarOne hanya memiliki pelanggan di bawah satu juta atau sekitar 800 ribu pelanggan. Angka tersebut di bawah kapasitas terpasang yang mencapai dua juta sambungan. Karena itu tidak heran, pendapatan usaha dari segmen tersebut hingga 30 Juni 2008 hanya sekitar 853 miliar rupiah.

Jika dibandingkan dengan pemain yang baru muncul seperti Smart Telecom atau Hepi dari Mobile-8 Telecom, angka pelanggan StarOne memang membuat pemerhati menjadi miris. Smart yang dilansir pertengahan tahun lalu diperkirakan telah memiliki dua juta pelanggan, sedangkan Hepi yang keluar awal tahun ini sudah memiliki 400.000 pelanggan.

Pemisahan

Melihat rendahnya penetrasi dari StarOne, banyak kalangan menilai adalah hal yang wajar jika jasa tersebut dipisahkan dari Indosat jika Qatar Telecom (Qtel) merealisasikan niatnya menguasai saham Indosat sebesar 65 persen.

“StarOne kan kurang berkembang, sebaiknya memang dipisah saja dari Indosat,” ujar Menteri Negara BUMN Sofian Djalil belum lama ini seusai pemerintah mengumumkan sikapnya tentang batas kepemilikan Qtel di Indosat.

Sikap pemerintah tentang kepemilikan Qtel adalah mengizinkan operator padang pasir tersebut menguasai 65 persen saham di Indosat. Namun, jasa pontap harus dipisah dan memiliki entitas sendiri. Untuk pemisahan tersebut pemerintah memberikan batas waktu dua tahun bagi Qtel.

Kebijakan tersebut merujuk pada aturan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Daftar Negatif Investasi (DNI). Beleid tersebut secara tegas menyebutkan kepemilikan asing pada penyelenggara jaringan tetap tidak boleh melebihi 49 persen, sementara di seluler maksimal 65 persen.

Sikap pemerintah tersebut dapat dikatakan hasil kompromi antara kantor Menko Perekonomian dan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Depkominfo didukung Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) secara tegas mengacu pada DNI, sementara kantor Menko lebih liberal. Akhirnya, sikap yang diambil adalah jalan tengah yakni Qtel diperkenankan berkuasa hingga 65 persen, tetapi pontap dilepas.

Kendala

Jika pemerintah konsisten untuk meminta Indosat melepas entitas pontap miliknya, maka dapat dipastikan tidak hanya StarOne yang akan dilepas tetapi pontap kabel dan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) miliknya.

Sementara untuk Sambungan Langsung Internasional (SLI) sepertinya masih bisa dipertahankan oleh Indosat mengingat jasa tersebut dapat dicantolkan ke layanan seluler.

“Pemisahan tersebut menyangkut semua lisensi pontap yang mensyaratkan kepemilikan asing 49 persen. itu akan diawasi secara konsisten,” tegas Ketua BRTI Basuki Yusuf Iskandar kepada Koran Jakarta, Rabu (19/10).

Untuk diketahui, jasa pontap kabel milik Indosat dibanderol dengan nama I-Phone. Layanan ini nasibnya lebih miris ketimbang StarOne. I-Phone saat ini hanya memiliki 50 ribu pelanggan. Sementara untuk kode akses SLJJ hanya memiliki interkoneksi penuh di Balikpapan. Sedangkan di kota lainnya belum dibuka oleh Telkom.

Tidak dibukanya kode akses tersebut tak dapat dilepaskan dari tidak agresifnya pertumbuhan pelanggan pontap. Padahal, syarat pembukaan adalah adanya pertumbuhan pelanggan sesuai kesepakatan Telkom, pemerintah, dan Indosat awal tahun ini.

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan, pemisahan pontap milik Indosat menunggu petunjuk pelaksanaan (juklak) dari pemerintah. “Terus terang untuk soal ini manajemen belum bisa bicara banyak. Selain tender offer belum jalan, pemisahan ini akan mengalami banyak kendala jika dilaksanakan,” katanya.

Dia mengatakan, jika pemisahan dilakukan ada dua cara yang bisa dipilih yakni penjualan ke perusahaan lain atau memisahkan unit bisnis tersebut anak perusahaan baru.

Apapun yang akan dipilih, bentuk pemisahan Star One akan sangat berkiatan erat dengan manajemen jaringan, mengingat dalam satu menara telekomunikasi (base transceiver station/BTS), terdapat radio dari semua layanan Indosat, baik Mentari, IM3, Matrix, maupun Star One.

Bila pemisahan berupa penjualan ke perusahaan lain, bentuk manajemen jaringannya bisa berupa sewa menara dan tentunya perlu mekanisme kerja sama lebih lanjut. Sementara bila bentuknya pemisahan menjadi anak perusahaan baru, hal tersebut akan lebih memudahkan dalam konsolidasi jaringan dan layanan.

Guntur meminta, khusus untuk StarOne regulator harus memberikan pengertian yang komprehensif tentang jasa tersebut. “Saat ini pengertian telepon tetap nirkabel itu kan sumir. Sebaiknya definisnya diperjelas dulu, baru bicara pemisahan,” kataya.

Guntur membantah, StarOne berjalan di tempat dan tidak mendapatkan perhatian dari manajemen. Hal itu dibuktikan dengan keseriusan menggelar jaringan di 70 kota di seluruh Indonesia.

“Perkembangan StarOne tergantung pada banyak faktor, tidak bisa di isolasi pada faktor tertentu saja. Indosat memiliki banyak jasa sehingga pengaturan positioning dan offering akan disesuaikan dengan situasi pasar dan kompetisi,” katanya.

Dijelaskannya, di seluler pun Indosat memperhatikan situasi pasar (kebutuhan pasar) dan kompetisi (brand/jasa apa yang ditawarkan kompetitor). Sebagai contoh, IM3 agresif diposisikan untuk acquisition brand dengan komunikasi Above The Line yang gencar.

Sementara Mentari untuk retention dan frequent caller dengan komunikasi yang mengandalkan word-of-mouth. “Dalam situasi perang harga yang gencar di seluler, kurang manfaatnya bagi StarOne di”perang”kan dengan jasa tersebut. Lebih baik akuisisi lewat komunitas,” jelasnya.

Di luar faktor pasar dan kompetisi, guntur masih menggunakan alasan kuno yakni, lambatnya pembukaan interkoneksi oleh incumbent alias Telkom.”Interkoneksi menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan StarOne terutama untuk kota-kota kecil yang belum memiliki interkoneksi,” tegasnya.


Salah Pemerintah

Pengamat Telematika Miftadi Sudjai menilai kebijakan yang diambil oleh pemerintah dengan memisahkan jasa pontap milik Indosat sebagai bentuk kesalahan regulator dalam memberikan lisensi.

“Seharusnya kejadian dimana Indosat akhirnya benar-benar lepas dari Bumi Pertiwi sudah bisa diprediksi oleh pemerintah dan BRTI. Proses itu kan sudah bisa diprediksi ketika dilepas ke Singapore Technologies Telemedia (STT) dan akhirnya ke Qtel,” jelasnya.

Dikatakannya, seharusnya setelah investor asing menguasai Indosat, regulator tidak perlu lagi memanja Indosat untuk memberikan keistimewaan dalam mengembangkan lisensi pontap. Hal ini karena investor asing hanya ingin mencari keuntungan dengan menggeber jasa seluler.

“Buat apa dipaksa dibuka kode akses SLJJ oleh Telkom, kalau tidak dimanfaatkan juga oleh Indosat. Semua itu dapat dibuktikan dengan tidak adanya perkembangan berarti dari jasa SLJJ Indosat. Ironisnya lagi, BRTI kala itu seperti pasang badan atas nama liberalisasi,” sesalnya.

Menurut dia, kebijakan pemerintah untuk memaksakan dipisahkannya entitas pontap tak lebih dari upaya mencuci dosa karena selama ini terlalu memanjakan Indosat. “Tetapi ini justru menjadi buruk bagi citra pemerintah. Investor asing akan melihat tidak adanya konsistensi. Memang kondisi ini simalakama,” katanya.[dni]

201108 Nafsu Besar yang Akan Menurunkan Nilai Perusahaan

indosat_copyKetika investor baru masuk, biasanya akan membawa angin segar bagi kinerja perseroan. Tetapi tidak demikian dengan Qatar Telecom (Qtel).

Sejak perusahaan milik para Sheikh tersebut ingin menjadi penguasa penuh di Indosat, nilai (Value) perusahaan tersebut bukannya makin naik, tetapi justru menurun.

Kalangan analis menilai jika Qtel merealisasikan niatnya menguasai Indosat hingga 65 persen justru akan membuat saham perusahaan tersebut tidak menarik lagi diperdagangkan, karena jumlah floating share berkurang.

Terakhir, masalah harus dilepasnya entitas telepon tetap (Pontap) milik Indosat jika benar Qtel tetap bernafsu menguasai saham operator tersebut secara mayoritas.

“Yang paling dirugikan jika pemisahan entitas pontap terjadi adalah Indosat. Operator ini akan menurun nilai tawarnya dalam berkompetisi,” ujar Pengamat Telematika Miftadi Sudjai kepada Koran Jakarta, Rabu (19/11).

Penurunan nilai tawar, lanjutnya, akan terjadi dalam permintaan pembukaan interkoneksi dengan incumbent atau Kompetitor lainnya. Hal itu karena untuk pembukaan interkoneksi biasanya yang dijadikan acuan adalah basis pelanggan pontap.

Semua ini karena pelanggan pontap lebih memiliki loyalitas tinggi dan tingkat pindah layanannya rendah (churn rate). Berbeda dengan seluler dimana churn rate tinggi, sehingga dalam permintaan interkoneksi tidak bisa djadikan acuan.

“Ini akan membuat Indosat sama saja dengan operator seluler lainnya. Padahal Indosat bisa menjadi nomor dua terbesar karena kepemilikan lisensi yang lengkap setelah Telkom,” tegasnya.

Sementara dari sisi pelanggan, Miftadi menyakini, tidak akan memberikan nilai tambah karena belum tentu entitas baru dari pontap Indosat mampu bersaing.

“Kendala yang akan diterima nantinya bagaimana mengakuisisi pasar, mengingat merek dagang tentu akan berganti. Belum lagi masalah interkoneksi dan kepemilikan frekuensi,” katanya.

Jika mengacu pada regulasi, kepemilikan berganti tidak membuat lisensi frekuensi mengikuti secara otomatis. Sementara untuk interkoneksi tentunya akan ada hitung-hitungan baru dengan incumbent atau Indosat sendiri. “Ini justru akan membuat pengembangan entitas baru itu menjadi lambat,” jelasnya.

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan, kewajaran dari permintaan pemisahan pontap tersebut bisa dilihat dari perspektif masing-masing stakehaloder.

Jika dari sisi perusahaan, tugas perusahaan adalah memberikan shareholder value dengan investasi yang ditanamkan untuk pontap, baik secara standalone atau secara portfolio jasa2 Indosat.

Guntur menegaskan, pontap merupakan kelengkapan portfolio jasa Indosat dalam memberikan pilihan layanan kepada pelanggan, baik itu fixed service, limited mobility atau mobile service.

Juru Bicara Indosat Adita Irawati menambahkan, layanan pontap memiliki arti penting bagi Indosat meskipun kontribusi dari jasa tersebut hanya sekitar 10 persen dari total pendapatan perusahaan hingga kuartala ketiga tahun ini.

“Meskipun hanya berkontribusi 1,3 triliun rupiah, tetapi artinya sangat strategis karena merupakan portofolio dan salah keunggulan Indosat,” katanya.

Ya, jika memang akhirnya nafsu besar Qtel mengalahkan segalanya. Maka dapat dipastikan pada Kamis (20/11) nanti merupakan keikutsertaan terakhir dari jasa Pontap (StarOne, SLJJ, dan i-Phone) untuk ikut memeriahkan HUT ke 41 Indosat. Setelah itu, tentunya jasa tersebut akan bekerja kepada ‘Tuan Barunya” yang semoga membawa perubahan kepada dirinya dan indsustri telekomunikasi Indonesia.[doni Ismanto]

201108 THC di Masing-masing Pelabuhan Akan Berbeda

containershiploading1Departemen Perhubungan (Dephub) akan membuat besaran komponen biaya Terminal Handling Charge (THC) di setiap pelabuhan di Indonesia berbeda-beda.

THC adalah beban biaya pengelolaan peti kemas di pelabuhan dan biasanya dikenakan oleh perusahaan pelayaran. Sebelumnya di pelabuhan Tanjung Priok sesuai Surat Menhub No.

PR.302/3/18-PHB 2008 tertanggal 21 Oktober 2008 ditetapkan THC untuk peti kemas 20 kaki 95 dolar AS per boks. Angka tersebut terdiri dari Container Handling Charge (CHC) 83 dolar AS dan biaya tambahan (surcharge) 12 dolar AS.

Sedangkan, THC peti kemas 40 kaki ditetapkan 145 dolar AS per boks, terdiri dari CHC 124,5 dolar AS dan surcharge 20,5 dolar AS.

“Besaran biaya di Tanjung Priok tidak akan menjadi acuan di pelabuhan lainnya. Hal ini karena masing-masing pelabuhan tingkat efisiensi dan kapasitasnya berbeda-beda,” ujar Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, di Jakarta, Rabu (19/11).

Menurut Jusman, penentuan komponen THC akan lebih transparan di pelabuhan Suarabaya karena struktur biaya sangat deti per jenis kontainer.

“Di Surabaya THC-nya lebih kompetitif. Padahal kapasitasnya sama dengan Tanjung Priok. Karena itu Priok tidak bisa jadi acuan,” jelasnya.

Jusman menjelaskan, disparitas dari biaya THC akan membuat adanya kompetisi yang sehat antarterminal petikemas dan antar perusahaan pelayaran.

Selain itu, lanjutnya, kebijakan tersebut akan memicu seluruh pengeluaran yang dikenakan perusahaan pelayaran kepada pemilik barang, struktur biayanya jelas.

“Pemilik barang ada peluang mendapatkan harga yang kompetitif dengan struktur biaya yang jelas,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno mengakui, penerapan THC di Surabaya lebih transparan dibanding pelabuhan lain di Indonesia.

Benny meminta, penerapan THC di pelabuhan lain harus konsisten memasukkan biaya tambahan dalam komponen biaya angkutsehingga terjadi kompetisi antarperusahaan jasa angkut (Shipping Company). Transparansi juga diminta dalam penetuan CHC. “Kalau komponen bahan bakar sewaktu CHC tinggi dan sekarang (bahan bakar) lebih murah, harus disesuaikan. Selain iu jika ada penarikan pajak harus dikeluarkan fakturnya,” pintanya.

Sebaliknya, Ketua Dewan Pengguna Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mengungkapkan, penerapan THC di Surabaya belum ideal karena biaya tambahan masih dimasukkan dalam THC. “Sama saja dengan Priok,” katanya.

Toto mengungkapkan, peliknya masalah THC karena selama ini yang menikmati adalah pelayaran asing. Sementara pelayaran nasional yang notabene menjadi agen pelayaran asing tidak menikmati sama sekali. Jadi, merupakan hal yang wajar Indonesia National Shipowner Association (INSA) kelimpungan dan menyatakan keberatan THC ditetapkan langsung oleh regulator.

“Yang harus dipertanyakan itu justru sikap INSA atas THC ini. sebenarnya mereka berpihak pada kepentingan nasional atau asing,” tegas Toto.

Bukti dari THC dinikmati oleh pelayaran asing tidak ada pemasukan pajak yang diterima oleh pemerintah dari komponen tersebut. “Semuanya diambil oleh pelayaran asing. Karena itu mulai tahun depan kita usulkan term of trade menjadi CY to CY terms sehingga dalam biaya angkut sudah termasuk CHC. Sementara THC dan surcharge dihilangkan,” tegasnya.[dni]

191108 Spin Off Pontap Indosat Tidak Hanya StarOne

staronePermintaan pemisahan entitas telepon tetap (pontap) milik Indosat tidak hanya berlaku untuk jasa Fixed Wireless Access (FWA) StarOne, namun berlaku juga untuk jasa lainnya yang berkaitan dengan lisensi pontap. Jasa lain yang dimaksud adalah pontap kabel dan Sambungan Langsung Internasional (SLI).

“Pemisahan yang kami minta jika Qatar Telecom (Qtel) tetap bersikeras memiliki 65 persen saham Indosat adalah memberikan entitas baru bagi pontap-nya. Jadi, bukan hanya StarOne. Hal ini karena pontap kabel dan SLI bisa berjalan jika ada lisensi penyelenggara pontap, tentunya kedua itu juga harus dilepas,” tegas Juru bicara Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) Gatot S Dewa Broto kepada Koran Jakarta, Selasa (18/11).

Ditegaskannya, permintaan pemisahan tersebut sebagai bentuk konsistensi dari Depkominfo sebagai departemen teknis untuk menegakkan aturan Daftar Negatif Investasi (DNI). Sesuai regulasi tersebut, komposisi investor asing untuk penyelenggara seluler sebesar 65 persen dan pontap 49 persen. “Nah, di tender offer Qtel minta saham 65 persen, tentunya konsekuensi harus melepas pontap milik Indosat sesuai DNi. Kita berikan waktu dua tahun jika memang akhirnya Qtel menguasai 65 persen saham Indosat,” ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan, pemisahan pontap milik Indosat menunggu petunjuk pelaksanaan (juklak) dari pemerintah. “Terus terang untuk soal ini manajemen belum bisa bicara banyak. Selain tender offer belum jalan, pemisahan ini akan mengalami banyak kendala jika dilaksanakan,” katanya.

Dia mengatakan, jika pemisahan dilakukan ada dua cara yang bisa dipilih yakni penjualan ke perusahaan lain atau memisahkan unit bisnis tersebut anak perusahaan baru.

Apapun yang akan dipilih, bentuk pemisahan Star One akan sangat berkiatan erat dengan manajemen jaringan, mengingat dalam satu menara telekomunikasi [base transceiver station], terdapat radio dari semua layanan Indosat, baik Mentari, IM3, Matrix, maupun Star One.

Bila pemisahan berupa penjualan ke perusahaan lain, bentuk manajemen jaringannya bisa berupa sewa menara dan tentunya perlu mekanisme kerja sama lebih lanjut. Sementara bila bentuknya pemisahan menjadi anak perusahaan baru, hal tersebut akan lebih memudahkan dalam konsolidasi jaringan dan layanan.

Juru Bicara Indosat Adita Irawati menambahkan, layanan pontap memiliki arti penting bagi Indosat meskipun kontribusi dari jasa tersebut hanya sekitar 10 persen dari total pendapatan perusahaan hingga kuartala ketiga tahun ini. “Meskipun hanya berkontribusi 1,3 triliun rupiah, tetapi artinya sangat strategis karena merupakan portofolio dan salah keunggulan Indosat,” katanya.

Indosat untuk layanan telepon tetap nirkabel mengusung merek dagang Star One. Sementara untuk telepon tetap kabel merek dagangnya I-Phone. Saat ini StarOne memiliki dua kanal di frekuensi 800 MHZ.

Star One sebenarnya bukanlah produk andalan dari Indosat. Pertumbuhan jumlah pelanggannya yang sangat jauh berbeda dengan layanan selulernya. Pantas saja Indosat menjadikan seluler sebagai anak emas, karena pendapatan usaha dari segmen tersebut hingga 30 Juni 2008 adalah mencapai 6,6 triliun rupiah, sementara dari layanan tetap hanya sekitar Rp853 miliar.

Padahal, kapasitas terpasang dari StarOne sudah mencapai lebih dari dua juta sambungan, tetapi jumlah pelanggannnya tak pernah melebihi sejuta orang, masih sekitar 650.000 orang sampai September, jauh lebih rendah dari jumlah pelanggan operator baru seperti Smart Telecom yang sudah sekitar dua juta pelanggan, atau bahkan terancam terkejar layanan baru milik Mobile-8 Telecom, Hepi, yang pelanggannya sudah mencapai 400.000 orang. Padahal Hepi baru dirilis oleh Mobile-8 pada awal tahun ini.

Sementara untuk I-Phone lebih menyedihkan. Pelanggannya hanya berjumlah 50 ribu nomor, sementara Telkom memiliki 8,3 juta pelanggan kabel.[dni]

191108 Industri Pariwisata Tetap Tumbuh 15%

panorama-in-bali-3Industri pariwisata Indonesia pada tahun depan diperkirakan tetap menunjukkan pertumbuhan positif meskipun perekonomian global sedang mengalami krisis.


Pertumbuhan diperkirakan oleh pelaku industri sama dengan tahun ini yakni sebesar 15 persen. Pada tahun 2007, sektor pariwisata berkontribusi sebesar 5,3 miliar dollar AS.


Sementara pada 2008 diperkirakan akan ada devisa masuk sebesar 6,4 miliar dollar seiring ditetapkannya target mendatangkan 7 juta wisatawan mancanegara melalui program tahun kunjungan wisata 2008.


“Saya perkirakan pertumbuhan sektor pariwisata sebesar angka di atas. Yang penting ada pertumbuhan meskipun kondisi ekonomi sedang lesu,” ujar Direktur Eksekutif Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kepada Koran Jakarta, Selasa (18/11).

Dia menyakini, jika pelaku industri mampu membuat paket-paket pemasaran yang menarik dan kondisi

politik kondusif, maka target yang ditetapkan dapat tercapai.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Thamrin B Bachri mengungkapkan, sesuai perkiraan Badan PBB untuk pariwisata (UN-WTO/United Nations World Tourism Organization), sektor pariwisata di wilayah Asia Pasifik akan mengalami penurunan menjadi 4,3 persen dikarenakan masih terpengaruh oleh krisis finansial global.

Dijelaskannya, kunjungan wisatawan dunia di kawasan Asia dan Pasifik dengan rata-rata pertumbuhan 10,4 persen pada 2007, turun menajdi 4,3 persen selama periode Januari – Agustus 2008 dan sampai akhir Desember 2008 diproyeksikan akan turun lagi pada kisaran 2 – 3 persen.

Mengutip UN-WTO, Thamrin mengatakan untuk 2009 proyeksi pertumbuhan di kawasan Asia Pasifik hanya 0 – 2 persen. “Hal yang sama diproyeksikan akan dialami oleh kawasan Eropa yaitu pertumbuhan 0 -2 persen,” jelasnya.

Sedangkan kawasan Afrika dan Timur Tengah kendatipun turun masih dalam kisaran 2 – 6 persen untuk Afrika dan untuk Timur Tengah berkisar 3 – 8 persen.

UN-WTO juga memperkirakan pertumbuhan pariwisata dunia akan terus melambat

sekitar 2 – 3 persen sampai dengan Desember 2008.[dni]