131108 Penghargaan BRTI: Kala Penguasa Tak Berkuasa

brtiBadan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pada awal pekan ini menyelenggarakan
ajang penghargaan bagi para operator telekomunikasi. Ajang yang diselenggarakan
secara sederhana tersebut, merupakan wujud dari janji regulator selama ini yang akan
mengapresiasi kerja keras para operator dalam  memberikan layanan yang berkualitas.

BRTI dalam memberikan penghargaannya membagi operator hanya dalam dua kategori
yakni   penyelenggara telepon tetap (Fixed Line dan   Fixed Wireless Acces/ FWA)
dan seluler.

Ukuran yang digunakan oleh BRTI untuk menilai para operator adalah kinerja operasi
dimana meliputi pembangunan jaringan, layanan tagihan, kepatuhan pada regulasi,
kinerja jaringan, dan area layanan. Bobot nilai untuk aspek ini sebesar 45 persen
dan ditangani langsung oleh lembaga tersebut

Aspek berikutnya adalah berkaitan dengan kepuasan pelanggan yang diberikan bobot
sebesar 45 persen dan terakhir adalah kedekatan merek di pelanggan yang dinilai
sebesar 10 persen.

Untuk dua aspek terakhir BRTI dibantu oleh lembaga riset Frontier. Lembaga tersebut
mengambil sampel terhadap 4.500 orang dari enam kota besar yaitu Jakarta,
Surabaya, Semarang, Bandung, Medan dan Makassar.

Sementara berkaitan dengan masa penilaian dari kinerja operasi, BRTI menggunakan
periode waktu selama 2007, dan untuk kualitas layanan serta merek sepanjang tahun
ini.

“Hal ini karena evaluasi kepatuhan dan lisensi modern tahun ini belum selesai
semuanya. Jadi, kita menggunakan data tahun lalu,” ujar Anggota Komite BRTI Heru
Sutadi kepada Koran Jakarta, seusai ajang tersebut, Senin (10/11).

Hasil yang keluar dari ajang penghargaan versi BRTI tersebut mengejutkan semua
pihak, tak terkecuali para pemenang. Tercatat, Bakrie Telecom Tbk (Btel) diganjar
sebagai yang terbaik menyelenggarakan telepon tetap dan peringkat dua diduduki oleh
penguasa pasar PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Sedangkan di kategori
seluler, Indosat muncul sebagai jawara, disusul oleh XL.

Untuk diketahui, Telkom adalah penguasa pasar telepon tetap saat ini dengan 8,7 juta
pelanggan telepon kabel dan 9,6 juta pelanggan FWA. Sementara Btel hanya memiliki
sekitar 6,5 juta pelanggan.

Sedangkan anak usaha Telkom, Telkomsel, yang menguasai pasar sebesar 50 persen
dengan 60,5 juta pelanggan terpaksa “manyun” melihat Indosat yang memiliki 35,5
juta pelanggan dan XL dengan 25,5 juta pelanggan menerima penghargaan.

Singkat kata, Telkom grup boleh menjadi penguasa pasar di kedua layanan tersebut,
tetapi belum layak berkuasa di kualitas layanan.

Menkominfo Muhammad Nuh meminta para  operator dalam melihat penghargaan yang
diberikan sebagai alat untuk memacu   meningkatkan kinerjanya.”Untuk meningkatkan
kinerja operator ada dua cara yang bisa ditempuh yaitu dengan memberi hukuman atau
memberi penghargaan, tapi cara yang menyenangkan tentu dengan diberi penghargaan,”
katanya.

Dirjen Postel Depkominfo yang juga Ketua BRTI, Basuki Yusuf Iskandar menambahkan,
penghargaan dari BRTI yang baru pertama kali dilakukan tersebut akan dijadikan
sebagai tradisi tahunan dari regulator. “Pemberian penghargaan ini merupakan
bentuk apresiasi terhadap operator yang mematuhi komitmen pembangunan seperti
tertuang dalam lisensi modern, memberikan kualitas layanan terbaik bagi konsumen dan
memberdayakan masyarakat akan informasi dan layanan telekomunikasi,” katanya.

Dipertanyakan
Sekjen Indonesia Telecommunication Users Group (IDTUG) Muhammad Jumadi Idris
memberikan apresiasi bagi langkah yang diambil oleh regulator tersebut. Tetapi, dia
mencatat ada hal-hal yang patut dipertanyakan dari hasil penilaian  BRTI.

Pertama, tentang penilaian di kategori telepon tetap yang menafikan selama ini usaha
dari Telkom menjaga keberlangsungan layanan telepon kabelnya dan komitmen membangun
telepon umum.

“Rasanya tidak pantas usaha Telkom menjaga telepon kabel selama ini dihilangkan
begitu saja oleh regulator. Seharusnya penilaian secara apple to apple. Harus
dibedakan antara telepon tetap kabel dan wireless,” katanya.

Menurut Jumadi, tidak agresifnya pertumbuhan telepon tetap milik Telkom tak dapat
dilepaskan juga dari kebijakan yang dibuat oleh regulator kala menata frekuensi.
“Sudah rahasia umum tahun lalu telepon tetap Telkom stagnan karena migrasi
frekuensi dari 1.900 MHz ke 800 MHz belum selesai. Dan itu dimanfaatkan Btel untuk
menggerus pasar Telkom,” jelasnya.

Selain itu, masalah kepatuhan pada regulasi dari Btel  pun patut dipertanyakan
karena operator ini mendapatkan surat peringatan oleh regulator tahun lalu karena
tidak membangun telepon umum sesuai lisensi modern yakni sebesar 3 persen dari
kapasitas jaringan.

Pembangunan telepon umum selama ini hanya dilakukan oleh Telkom, meskipun BRTI
menilai jumlah yang dibangun tidak memadai. “Nah, kalau melihat keadaan seperti
ini jangan salahkan Telkom mulai tahun depan hanya menggeber wireless dan melupakan
kabel serta telepon umum. Hal ini karena kerja kerasnya tidak dihargai oleh
regulator,” tuturnya.

Namun, Jumadi mengakui, Btel adalah pionir dari tarif murah di FWA yang banyak
ditiru oleh kompetitornya.”Saya rasa untuk hal ini memang Btel jagonya. Dan
pengguna banyak menyukai hal itu,” katanya.

Hal kedua yang dikritisi oleh Jumadi adalah tentang kepatutan dari Indosat
menyandang peringkat terbaik di kategori seluler. “Jika pesaing hanya tinggal XL
dan Indosat, rasanya XL-lah paling pantas menjadi yang terbaik,”tuturnya.

Semua itu dapat terlihat dari agresifitas membangun jaringan dimana XL telah memilki
sekitar 15 ribu BTS, sementara Indosat hanya sekitar 13 ribu BTS. Belum lagi dari
sisi inovasi pemasaran berkaitan dengan tarif, dimana  tidak ada hal  baru yang
ditawarkan Indosat selain menjawab program pemasaran dari XL.

“Tentunya Anda ingat dengan iklan 0,001 milik XL yang dijawab Indosat dengan
0,00001. Begitu juga program pemasaran lainnya dimana kedua operator ini seperti
berbalas pantun. Apa wajar yang seperti itu dikatakan terbaik,” tuturnya.

Dan dari sisi kepatuhan regulasi pun harus dicatat Indosat pernah mendapatkan
peringatan dari BRTI terkait tumbangya jaringan operator tersebut di Jabodetabek
yang merugikan ratusan pelanggan miliknya. Begitu juga dalam pembayaran  izin
stasiun radio (ISR) yang telat dan berujung pada  disegelnya beberapa BTS milik
Indosat belum lama ini.

Jumadi juga mempertanyakan kinerja  dari rekanan yang diajak oleh BRTI untuk
menilai. Frontier selama ini dikenal sebagai pengusung penghargaan Indonesia
Customer Satisfaction Award (ICSA). Dalam ajang tersebut Telkomsel  adalah
langganan penerima penghargaan. “Rasanya aneh dalam dua ajang bebrbeda, satu
lembaga riset, kok hasil berbeda,? tanyanya.

Terakhir, hal yang membuat Pria asal Tegal ini bertanya-tanya adalah periode
evaluasi untuk kinerja operasi yang menggunakan parameter tahun lalu. “Seharusnya
kinerja operasi tahun ini juga diperhitungkan. Bukankah ujian terberat tahun ini
bagi para operator seiring trafik meningkat akibat turunnya biaya interkoneksi,”
tambahnya.

Tidak Pantas
Pada kesempatan lain, Pengamat Telematika dari Universitas Indonesia Gunawan
Wibisono menegaskan, tidak pantas BRTI menyelenggarakan ajang penghargaan tersebut
karena tugas dari lembaga tersebut adalah sebagai pengawas dan membina industri,
bukan pemeringkat.

“Fungsi BRTI tidak ada menyebut lembaga ini sebagai pemeringkat. Jika ini mereka
lakukan, sama saja melanggengkan operator melakukan permainan pemasaran  karena
nantinya sertifikat yang diberikan BRTI tersebut dijadikan alat komunikasi untuk
berjualan,” tegasnya.

Dia mengibaratkan, BRTI adalah “polisi” di masyarakat telekomunikasi dimana
salah satu fungsinya  harus mengawasi para pemain yang nakal. “Sekarang mana ada
operator yang tidak “nakal” dalam berjualan. Nah, jika “kenakalan’ tersebut
dilegalkan dengan sertifikat, itu namanya konyol,” sesalnya.

Menurut Gunawan, selama ini tidak ada satu pun operator di Indonesia memenuhi aturan
kualitas layanan  yang dibuat oleh regulator. Hal itu dapat dibuktikan dengan
semakin susahnya berkomunikasi menggunakan jaringan para pemenang.

Gunawan menyarankan, BRTI hanya membuat parameter angka kualitas layanan sesuai
regulasi dan mengumumkan operator yang telah mendekati  standar kualitas tersebut.

“BRTI cukup bilang operator “A” memiliki nilai 7, sementara standar regulator
adalah 9. Nantinya pelanggan bisa tahu mana yang terbaik untuk digunakan. Tidak
seperti sekarang yang justru merendahkan wibawa dari lembaga itu sendiri,”
sesalnya.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza
Fachys mengatakan  operator selalu ingin memberikan layanan berkualitas sesuai
tuntutan regulator.”Operator selalu berkomitmen memberikan layanan yang terbaik.
Jika saat ini banyak yang mempertanyakan penghargaan yang diberikan, harus diakui
ini adalah The best from the worst condition,” katanya.[dni]

1 Komentar

  1. Dalam konteks ini saya rasa pendapat pak Gunawan Wibisono cukup masuk akal dan relevan untuk menjadi masukan berharga bagi regulator. Salam


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s