111108 Pemerintah Fokus Modernisasi Sarana dan Prasarana Kereta Api

kereta-apiPemerintah melalui departemen perhubungan selama ini selalu fokus dalam
memodernisasi sarana dan prasaran kereta api nasional.

Menteri perhubungan Jusman Syafii Djamal menjelaskan, kebijakan memodernisasi
tersebut menjadi fokus utama dari pemerintah karena selama ini hal itulah yang
menjadi masalah utama dari pengembangan moda kereta api.

“Saya tidak yakin ada organisasi canggih yang dapat menyelesaikan   masalah
penumpang 127 juta tiap tahun tanpa pembenahan prasarana. Jadi, dalam visi dan
roadmap pemerintah, itu yang menjadi prioritas terlebih dulu,” jelasnya kepada
Koran Jakarta, Senin (10/11).

Dijelaskannya, pembenahan yang selama ini dilakukan pemerintah adalah meremajakan
rel, membangun double track, memutakhirkan pensinyalan,  pembenahan jembatan,
membangun bantalan beton, penggantian rel dan klip pengaman serta pergantian dan
penambahan lokomotif gerbong kereta  ekonomi dan kereta rel diesel-elektrik (KRDE).

Pembangunan double track akan dapat meningkatkan frekuensi dan kapasitas angkut
sekaligus memperpendek waktu tempuh. Sementara modernisasi sistem pensinyalan dapat
meningkatkan keselamatan, begitu juga pergantian bantalan kayu dengan beton,
perubahan tipe rel, penggantian rel dan penambatnya.Begitu juga dengan pergantian
lokomotif  akan  lebih menghemat bahan bakar.

“Semua itu  sangat vital dan harus menjadi fondasi revitalisasi kereta api. Saya
heran kalau masih ada yang bilang pemerintah tidak punya visi setelah kita melakukan
pembenahan yang signifikan tersebut,” tegasnya.

Menurut dia, jika sarana dan prasarana telah diperbaiki akan menimalisir kereta api
sering mogok atau kecelakaan. “Jika itu berhasil diminimalisir maka pengguna akan
meningkat rasa percaya dirtinya kepada moda ini,” tuturnya.

Secara terpisah,   Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan, Wendy Aritenang
menjelaskan, pemerintah pusat sejauh ini baru bisa mengembangkan prasarana dan
sarana yang sudah ada untuk moda kereta api. “Saat ini kita fokus kepada
mengembangkan 4.500 KM rel yang dipunyai. Selain itu kita ada rencana untuk
meghidupkan kembali jalur-jalur yang sudah lama ditinggalkan,” katanya.

Dijelaskannya, modernisasi rel yang dilakukan belum lama ini membeli 50 set alat
pemindah jalur atau wesel dari China yang menghabiskan dana sebesar 360 miliar
rupiah. Alat lama telah berumur 50 tahun dan belum pernah diganti. Rencananya pada
tahun anggaran depan akan diajukan pembelian 500 set wesel untuk 1.000 km yang
memakan biaya sekitar 200 juta dollar AS.

Sementara untuk rel sendiri sebanyak 75 persen telah diremajakan dengan rel besar
ukuran R54 dan sisanya rel kecil ukuran R33.

Wendy mengakui, selama ini pemerintah pusat dalam mengembangkan moda kereta api
lebih fokus pada pembangunan jalur antar provinsi atau kota. “Jika terkesan selama
ini banyak di Jawa karena jalur disitu memang banyak digunakan. Tetapi mulai tahun
depan kita juga akan garap jalur Sumatera dan Kalimantan,” tuturnya.

Kendala Dana
Wendy mengungkapkan, kendala yang dihadapi pemerintah selama ini untuk mengembangkan
moda kereta api karena pemerintah daerah terlalu bergantung kepada pendanaan dari
peemrintah pusat.

“Contohnya untuk pembelian wesel tersebut, mereka maunya semua ditanggung oleh
pemerintah pusat. Seharusnya kan ada juga yang ditanggung pemerintah daerah,”
tuturnya.

Hal yang sama, lanjutnya, juga  terjadi dalam pengembangan kereta rel
diesel-elektrik (KRDE) yang sebenarnya tidak memerlukan investasi besar yakni
sekitar 20 miliar rupiah. “Jika pemerintah daerah mau membeli KRDE tidak
mengandalkan pemerintah pusat maka itu bisa mengembangkan angkutan komuter,”
jelasnya.

Wendy mengatakan, sesuai amanat UU kereta api untuk jalur perkotaan memang lebih
dibuka peran dari pemerintah daerah. Dan itu telah dibuktikan oleh pemerintah pusat
dengan meloloskan aturan yang memperbolehkan pemerintah daerah mendapatkan dana
hibah untuk membangun transportasi massal di wilayahnya.

“Saya barusan rapat dengan departemen keuangan dan Pemda DKI. Kita sudah putuskan
tidak ada masalah Pemda DKI menerima hibah dari pihak asing. Ini akan memudahkan
proyek Mass Rapid Train (MRT) yang sempat tertunda belum lama ini karena dananya
tidak turun,” jelasnya.

Nantinya, lanjutnya, setelah dana turun pihak Pemda DKI diperbolehkan untuk
melakukan lelang jalur atau konstruksi. “Semua boleh mereka kelola sendiri. Lelang
konsultan kan sudah dilakukan belum lama ini oleh pemerintah pusat,” tuturnya.

Wendy mengungkapkan, saat ini partisipasi konten lokal dari industri pendukung untuk
mengembangkan kereta api sudah lumayan besar. Dicontohkannya untuk KRDE konten lokal
sudah mencapai 70 persen, hanya mesin dan lokomotif masih ada asingnya.
“Sebenarnya jika pertumbuhan moda kereta api positif akan banyak industri turunan
bermain di kereta api. Semoga nantinya terwujud dengan adanya multi operator sesuai
amanat UU, tandasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s