111108 Pemerintah Fokus Modernisasi Sarana dan Prasarana Kereta Api

kereta-apiPemerintah melalui departemen perhubungan selama ini selalu fokus dalam
memodernisasi sarana dan prasaran kereta api nasional.

Menteri perhubungan Jusman Syafii Djamal menjelaskan, kebijakan memodernisasi
tersebut menjadi fokus utama dari pemerintah karena selama ini hal itulah yang
menjadi masalah utama dari pengembangan moda kereta api.

“Saya tidak yakin ada organisasi canggih yang dapat menyelesaikan   masalah
penumpang 127 juta tiap tahun tanpa pembenahan prasarana. Jadi, dalam visi dan
roadmap pemerintah, itu yang menjadi prioritas terlebih dulu,” jelasnya kepada
Koran Jakarta, Senin (10/11).

Dijelaskannya, pembenahan yang selama ini dilakukan pemerintah adalah meremajakan
rel, membangun double track, memutakhirkan pensinyalan,  pembenahan jembatan,
membangun bantalan beton, penggantian rel dan klip pengaman serta pergantian dan
penambahan lokomotif gerbong kereta  ekonomi dan kereta rel diesel-elektrik (KRDE).

Pembangunan double track akan dapat meningkatkan frekuensi dan kapasitas angkut
sekaligus memperpendek waktu tempuh. Sementara modernisasi sistem pensinyalan dapat
meningkatkan keselamatan, begitu juga pergantian bantalan kayu dengan beton,
perubahan tipe rel, penggantian rel dan penambatnya.Begitu juga dengan pergantian
lokomotif  akan  lebih menghemat bahan bakar.

“Semua itu  sangat vital dan harus menjadi fondasi revitalisasi kereta api. Saya
heran kalau masih ada yang bilang pemerintah tidak punya visi setelah kita melakukan
pembenahan yang signifikan tersebut,” tegasnya.

Menurut dia, jika sarana dan prasarana telah diperbaiki akan menimalisir kereta api
sering mogok atau kecelakaan. “Jika itu berhasil diminimalisir maka pengguna akan
meningkat rasa percaya dirtinya kepada moda ini,” tuturnya.

Secara terpisah,   Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan, Wendy Aritenang
menjelaskan, pemerintah pusat sejauh ini baru bisa mengembangkan prasarana dan
sarana yang sudah ada untuk moda kereta api. “Saat ini kita fokus kepada
mengembangkan 4.500 KM rel yang dipunyai. Selain itu kita ada rencana untuk
meghidupkan kembali jalur-jalur yang sudah lama ditinggalkan,” katanya.

Dijelaskannya, modernisasi rel yang dilakukan belum lama ini membeli 50 set alat
pemindah jalur atau wesel dari China yang menghabiskan dana sebesar 360 miliar
rupiah. Alat lama telah berumur 50 tahun dan belum pernah diganti. Rencananya pada
tahun anggaran depan akan diajukan pembelian 500 set wesel untuk 1.000 km yang
memakan biaya sekitar 200 juta dollar AS.

Sementara untuk rel sendiri sebanyak 75 persen telah diremajakan dengan rel besar
ukuran R54 dan sisanya rel kecil ukuran R33.

Wendy mengakui, selama ini pemerintah pusat dalam mengembangkan moda kereta api
lebih fokus pada pembangunan jalur antar provinsi atau kota. “Jika terkesan selama
ini banyak di Jawa karena jalur disitu memang banyak digunakan. Tetapi mulai tahun
depan kita juga akan garap jalur Sumatera dan Kalimantan,” tuturnya.

Kendala Dana
Wendy mengungkapkan, kendala yang dihadapi pemerintah selama ini untuk mengembangkan
moda kereta api karena pemerintah daerah terlalu bergantung kepada pendanaan dari
peemrintah pusat.

“Contohnya untuk pembelian wesel tersebut, mereka maunya semua ditanggung oleh
pemerintah pusat. Seharusnya kan ada juga yang ditanggung pemerintah daerah,”
tuturnya.

Hal yang sama, lanjutnya, juga  terjadi dalam pengembangan kereta rel
diesel-elektrik (KRDE) yang sebenarnya tidak memerlukan investasi besar yakni
sekitar 20 miliar rupiah. “Jika pemerintah daerah mau membeli KRDE tidak
mengandalkan pemerintah pusat maka itu bisa mengembangkan angkutan komuter,”
jelasnya.

Wendy mengatakan, sesuai amanat UU kereta api untuk jalur perkotaan memang lebih
dibuka peran dari pemerintah daerah. Dan itu telah dibuktikan oleh pemerintah pusat
dengan meloloskan aturan yang memperbolehkan pemerintah daerah mendapatkan dana
hibah untuk membangun transportasi massal di wilayahnya.

“Saya barusan rapat dengan departemen keuangan dan Pemda DKI. Kita sudah putuskan
tidak ada masalah Pemda DKI menerima hibah dari pihak asing. Ini akan memudahkan
proyek Mass Rapid Train (MRT) yang sempat tertunda belum lama ini karena dananya
tidak turun,” jelasnya.

Nantinya, lanjutnya, setelah dana turun pihak Pemda DKI diperbolehkan untuk
melakukan lelang jalur atau konstruksi. “Semua boleh mereka kelola sendiri. Lelang
konsultan kan sudah dilakukan belum lama ini oleh pemerintah pusat,” tuturnya.

Wendy mengungkapkan, saat ini partisipasi konten lokal dari industri pendukung untuk
mengembangkan kereta api sudah lumayan besar. Dicontohkannya untuk KRDE konten lokal
sudah mencapai 70 persen, hanya mesin dan lokomotif masih ada asingnya.
“Sebenarnya jika pertumbuhan moda kereta api positif akan banyak industri turunan
bermain di kereta api. Semoga nantinya terwujud dengan adanya multi operator sesuai
amanat UU, tandasnya.[dni]

111108 Telkom Grup Garap Wilayah Tertinggal

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) beserta anak perusahaannya, Telkomsel
semakin giat menggarap daerah tertinggal di Indonesia.

pulauPada Senin (10/11) dimana bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Telkom
menyediakan fasilitas telekomunikasi di  di Pulau Berhala. Pulau tersebut merupakan
sebuah pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Sementara Telkomsel pada hari yang sama berhasil menyediakan perangkat GSM di kapal
milik PT Pelni yakni KM Gunung Dempo. Kapal tersebut melayani jalur laut Jakarta –
Papua. Hadirnya layanan telekomunikasi milik Telkomsel memungkinkan penumpang kapal
tersebut  berkomunikasi suara dan data di sepanjang jalur laut.

“Penyediaan  fasilitas telekomunikasi di pulau terluar itu sebagai bagian dari
program kami menjadikan Sumatera sebagai Pulau Digital,” ungkap General
Manager Telkom Divre I, Muhammad Awaluddin kepada Koran Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, pembangunan fasilitas telekomunikasi di Pulau Berhala hanya memakan
waktu selama satu hari. Fasilitas yang disediakan adalah  layanan telepon, akses
internet Broadband berkecepatan 128 Kbps serta layanan komunikasi faksimili.

Sementara itu, juru bicara Telkomsel Suryo Hadiyanto mengungkapkan, KM GN Dempo
merupakan kapal ketiga milik Pelni yang dipasangi perangkat telekomunikasi. Dua
kapal sebelumnya adalah  KM Labobar dan Kelud pada Juni dan September lalu.

“Di tahun ini direncanakan 12 Kapal dapat terlayani dan menyusul keseluruhan 24
kapal penumpang milik Pelni,” ujarnya. [dni].

111108 XL Belum Berhasil Lego Menara

xljadiPT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) hingga saat ini belum berhasil melelang tujuh ribu
menara miliknya.

Padahal, perseroan menargetkan awal November ini proses tender telah selesai sering
peserta lelang tersisa enam perusahaan. Rencananya, dari penjualan menara tersebut
XL akan mendapatkan dana segar sebesar 700 juta hingga satu miliar dollar AS.

“Hingga saat ini kami belum berhasil memutuskan pemenang tender. Semua ini karena
adanya perubahan kondisi ekonomi global yang membuat perseroan harus hati-hati
sebelum mengambil keputusan,” ujar  Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kepada
Koran Jakarta, Senin (10/11).

Meskipun menara belum berhasil dijual, lanjutnya, aksi korporasi tersebut tidak
mempengaruhi kinerja keuangan XL pada kuartal ketiga tahun ini. Tercatat, perseroan
memperoleh laba bersih sebesar 891 miliar rupiah.

Sedangkan marjin EBITDA meningkat tiga persen menjadi 45 persen dan
laba bersih normal sebesar Rp754 miliar atau naik 64 persen dibanding
kurun waktu yang sama 2007.

Laba bersih normal (normalized net income) adalah pendapatan bersih
yang telah disesuaikan dengan selisih kurs yang belum direalisasi setelah pajak dan
pengaruh dari pajak penghasilan atas bunga dari obligasi Dolar Amerika Serikat
setelah pajak untuk periode Januari – September.

Dijelaskannya, kinerja yang postif tersebut karena perseroan   berhasil
mendapatkan pelanggan   sebanyak 25,1 juta orang atau naik 96 persen dibandingkan
periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan jumlah pelanggan tersebut juga ditopang oleh  jumlah “outgoing minutes”
dari pelanggan  yang  meningkat 1.076 persen menjadi sebesar 37,9 milliar menit.

“Tingginya trafik karena  tarif menelepon menurun sebesar 82 persen  dari 740
rupiah  pada periode Januari – September 2007 menjadi 130 pada periode yang sama
tahun ini,” katanya.

Sementara untuk infrastruktur, lanjutnya, mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Tercatat, hingga  September 2008, XL memiliki 15.111 BTS. Angka itu akibat adanya
penambahan  5.164 BTS sepanjang 12 bulan terakhir alias  meningkat 52 persen
dibandingkan periode Januari – September 2007.

Jika dirujuk, XL tahun ini mencatat kinerja perseroan yang lebih positif
dibandingkan Indosat. Tercatat, Indosat pada tahun ini dengan belanja modal hampir
setara XL yakni sekitar 1,2 miliar dollar AS hanya menargetkan membangun 3.000 BTS.

Dan pada kuartal ketiga tahun ini jumlah BTS Indosat pun kalah dari XL yang hanya
sekitar  13.096 site dengan 35,5 juta pelanggan.[dni]

111108 Imoca Desak Regulator Diperkuat

Indonesian Mobile and Online Content Provider Association (IMOCA) mendesak peran
regulator diperkuat dalam mengatur jasa pesan premium.

“Saya rasa sebaiknya peran dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)
diperkuat untuk mengatur industri ini. Ketimbang dibuka ruang untuk pihak lain ikut
mengatur, dikhawatirkan akan mengubah lanskap industri,” ujar  Direktur Internal
Affairs Imoca Tjandra Tedja, kepada Koran Jakarta, Senin (10/11).

Tjandra dimintai tanggapannya perihal rencana pemerintah membuat rancangan aturan
jasa pesan premium dimana salah satu pasalnya membuka ruang bagi pelanggan untuk
menuntut penyelenggara jasa.

Menurut Tjandra, jika peluang tersebut dibuka justru akan merugikan pelanggan
sendiri karena nilai yang dituntut biasanya tidak sebesar biaya berpekara.

“Jika pelanggan dirugikan 50 ribu rupiah, tetapi biaya perkara di atas itu, apa
menguntungkan bagi pelanggan?” tanyanya.

Dia menyarankan, jika BRTI diperkuat semua tuntutan pelanggan disalurkan melalui
lembaga tersebut, dan berikutnya lembaga tersebutlah yang memfasilitasi
antarapelanggan dengan penyelenggara.

Secara terpisah Kapuskom Depkominfo Gatot S Dewa Broto menyatakan, pengguna berhak
mengajukan ganti rugi kepada penyelenggara pesan premium atas kesalahan  atau
kelalaian penyelenggara jasa pesan premium yang menimbulkan kerugian pada pengguna.

“Ganti rugi tersebut terbatas kepada kerugian langsung yang diderita atas kesalahan
dan atau kelalaian penyelenggara pesan premium,” jelasnya.

Sedangkan untuk penyelesaian ganti rugi, lanjutnya,  dapat dilaksanakan melalui
proses pengadilan atau di luar pengadilan.

“Tata cara pengajuan dan penyelesaian ganti rugi tersebut dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” tambahnya.[dni]

111108 Samart Targetkan Raih 5% Pangsa Pasar Ponsel

i-mobileVendor ponsel dari ,Thailand, Samart I-Mobile menargetkan meraih 5 persen pangsa
pasar telepon seluler (Ponsel) di Indonesia mulai tahun depan.

Pada tahun ini, vendor tersebut mengklaim berhasil menjual satu juta unit ponsel
bermerk I-mobile di Indonesia.

“Samart telah menjual satu juta unit ponsel I-mobile. Pada tahun depan, kita
menargetkan dapat menjual dia atas angka  satu juta unit,” ungkap Managing
Director, I-Mobile International, Thawee Udomkitchote, di Jakarta, belum lama ini.

Head of Channel and Retail Management Samart i-mobile Indonesia, Naputh
Waiketsetkorn menambahkan, pihaknya meraih pertumbuhan 300 persen pada 2008 dan
berharap dapat tumbuh lebih baik lagi pada 2009.

Asisten Manager Marketing Communication Samart i-mobile Indonesia, Airin S Widjaja
menambahkan,   ponsel yang paling laku dari satu juta ponsel i-mobile yang
berhasil dijual yaitu dari seri i-mobile Hitz dengan fitur TV tuner.

Dia mengklaim ponsel TV i-mobile tersebut merupakan yang pertama ada di Indonesia
pada 2006. “Ponsel i-mobile dijual dengan harga mulai dari Rp500 ribu sampai Rp3
jutaan,” katanya.

Airin mengatakan, guna menggenjot penjualan,  samart i-mobile memperkenalkan tujuh
ponsel yaitu i-mobile Hitz 101 dan i-mobile Hitz 202, telepon dual-SIM  i-mobile
522 Dual SIM, telepon TV dual-SIM i-mobile TV 533 Dual SIM, telepon kamera i-mobile
625, dan telepon TV i-mobile TV 523 dan i-mobile TV 626.

“Kami memperkenalkan telepon genggam baru yang dilengkapi dengan kamera digital
dari Casio Hitachi, yang memiliki kemampuan untuk mengambil gambar berwarna dengan
jelas; Yamaha audio amplifier yang kuat, dan masih banyak lagi fungsi multimedia
lainnya,” katanya.

Samart I-mobile memulai bisnisnya di Indonesia pada tahun 2006 melalui strategi
partnership dengan XL. Sejak itu, perusahaan tumbuh dengan pesat, dan saat ini
mempunyai  dua drop points di jakarta (ITC kuningan dan Roxy Mas) dan telah
menembus pasar di empat pulau besar di indonesia: Sumatra, Jawa, Kalimantan,
dan Sulawesi.

Di Thailand, i-mobile merupakan vendor ponsel terbesar nomor dua   dengan pangsa
pasar 30 persen, dan berkomitmen untuk memperluas pasarnya ke beberapa pasar di
Timur Tengah, Asia Tengah dan negara-negara non-Uni Eropa.[dni]

111108 Wimax Datang, 3G Tergusur?

wimax-1Datangnya teknologi baru selalu memakan korban. Biasanya yang menjadi korban adalah
teknologi lama atau teknologi yang sama dengan pendatang baru .

Wimax pun demikian. Secara harafiah, pesaing dari wimax adalah 3G. Kedua teknologi
ini bersaing karena sama-sama menghantarkan layanan broadband wireless access (BWA).

Meski banyak orang berdalih, wimax tidak akan mampu menjalankan mobile broadband
layaknya 3G, namun hal itu  dibantah oleh para praktisi.

“Umumnya pelanggan itu mengakses internet dalam keadaan diam. Bisa di hotel atau
di tempat lain di luar rumahnya. Nah, kalau begitu kan berarti dia sudah mobile.
Sangat jarang pelanggan akses internet dalam keadaan kecepatan tinggi,”kata
Praktisi Telematika Onno Purbo di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Onno, jika perilaku pelanggan yang demikian menjadi acuan, maka kebutuhan
tersebut dapat dipenuhi oleh wimax. “Apalagi dalam implementasi nantinya ada
mobile wimax. Tentu ini akan menjadi ancaman serius bagi teknologi 3G,” jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, secara investasi teknologi wimax lebih murah dibanding 3G. Jika
untuk 3G satu BTS bisa memakan biaya sebesar satu miliar rupiah, maka wimax hanya
membutuhkan biaya sekitar 60 juta rupiah. ‘Bahkan dua tahun lagi investasi untuk
infrstruktur wimax itu bisa setara dengan akses WiFi yang sebesar satu juta
rupiah,” ungkapnya.

Pada kesempatan lain, Pengamat Telematika Dimitri Mahayana  memperkirakan, jika
tender wimax digelar tahun ini maka dalam dua tahun ke depan layanan tersebut akan
booming di Indonesia. Hal ini karena beberapa operator sudah menyiapkan rencana
untuk mengembangkan teknologi tersebut. ”Syaratnya harus berjalan mobile wimax.
Karena ini memacu pelanggan menggunakan internet dimanapun,” katanya.

Syarat lainnya, pemerintah harus melonggarkan pemberian lisensi ke penyelenggara.
”Jangan dimahalkan. Cukup ditarik satu persen dari pendapatan kotor. Pasti tarif
murah ditawarkan ke masyarakat,” katanya.

Dia menyakini, tahap awal pemasaran Wimax akan menggerogoti para pengguna data
melalui 3G. Saat ini ada 1,5  juta pelanggan data 3G. ”Begitu Wimax datang,
teknologi 3G pasti tergusur,” yakinnya.

Menanggapi hal itu, President Qualcomm South East Asia/Pacific John Stefanac
mengatakan, bukanlah hal yang bijak bagi Indonesia untuk mengimplementasikan wimax
secara tergesa-gesa mengingat 3G sedang berkembang di negeri ini.

Menurut dia, jika acuannya adalah broadband access internet, maka itu semua dapat
dilayani oleh 3G mengingat teknologi ini berkembang secara bertahap seperti adanya
High Speed Downlink Packet Access (HSDPA), High Speed Uplink Packet Access (HSUPA),
atau Long Term Evolution (LTE).

“Tidak akan mudah mengembangkan teknologi baru. Jika dipaksakan akan memakan waktu
lama. Sementara masyarakat Indonesia memiliki kebutuhan akses internet broadband
yang murah dan berkualitas,” jelasnya.

Dia pun menyayangkan, jika operator yang selama ini telah mengembangkan 3G, bernafsu
juga membangun wimax. “Ini Ibaratnya pemborosan. Hal ini karena operator itu sudah
memiliki mobil mewah dan belum dioptimalkan, tetapi membeli mobil baru lagi untuk
kepentingan yang sama,” sesalnya.

Dia menyarankan, operator yang teah memiliki lisensi 3G untuk fokus mengembangkan
teknologi tersebut dan meminta tambahan frekuensi ke pemerintah agar aplikasi 3G
semakin maju. “Kendala pengembangan 3G di Indonesia hanya keterbatasan frekuensi.
Tambahlah 5 MHz lagi bagi para operator, maka masyarakat bisa merasakan manfaat
teknologi tersebut,” tegasnya.

Berdasarkan catatan, pemilik lisensi 3G yang menunjukkan hasrat mengembangkan wimax
adalah Indosat dan Telkomsel. Sementara XL, lebih condong membangun LTE.[dni]

111108 Menanti Datangnya Wimax

wimax-logoPemerintah menunjukkan komitmenya untuk menggelar teknologi Wimax di Indonesia mulai
tahun depan. Hal itu ditunjukkan dengan merealisasikan janjinya   menggelar
ujicoba teknologi tersebut mulai pertengahan  Oktober lalu   sebagai bagian dari
persiapan tender frekunsi Broadband Wireless Access (BWA) pada Desember nanti.

BWA merupakan layanan telekomunikasi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita
lebar layaknya  Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi
lebih cepat. Salah satu negara yang telah mengimplementasikan teknologi ini adalah
Rusia.

Di Indonesia,  terdapat  100 MHz pita frekuensi yang akan ditender di pita 2,3 GHz
dan 3,3 GHz. Dari kedua pita tersebut, 75 persen akan dialokasikan untuk BWA
Nomadic, sementara 25 persen sisanya untuk BWA Mobile.

Tender nantinya  akan digelar untuk tiap  wilayah. Di tiap wilayah, akan dipilih
delapan operator untuk memenangkan lisensi yang bisa dimanfaatkan untuk menggelar
layanan broadband dengan teknologi Wimax. Tiap operator di satu wilayah
berkesempatan memenangkan pita BWA selebar 12,5 MHz

Ujicoba teknologi  Wimax sendiri   dilakukan di Bandung selama tiga bulan, mulai
tanggal 15 Oktober hingga Desember. Tujuan dari  ujicoba itu   tidak hanya ingin
mengetahui kelebihan dari teknologi tersebut, tetapi juga untuk   kepentingan
perkembangan konten lokal.

Sebagai bentuk dukungan bagi   konten lokal, saat ujicoba tersebut pemerintah
mengundang   dua perusahaan dalam negeri yakni  PT Hariff dan PT Indonesian Tower
(dengan perangkat TRG-nya).

“Ujicoba itu  bertujuan untuk mencari tahu, kira-kira kelemahan apa yang masih ada
dalam perangkat-perangkat lokal tersebut. Maka dari itu kami membuat ujicoba ini
terbuka untuk publik sehingga siapa pun, baik masyarakat maupun operator, dapat
memberikan masukan-masukan yang membangun untuk perkembangan perangkat lokal,” papar
Ketua Tim Penyelenggaraan BWA, Suhono Harso Supangkat di Jakarta belum lama ini.

Dijelaskannya, dalam ujicoba tersebut teknologi Wimax akan dipasang  di 10 hingga
20 titik di Bandung. Jumlah tersebut akan memastikan   teknologi Wimax  mampu
menyelimuti Bandung sehingga masyarakat di dalam wilayah tersebut, secara tidak
langsung dapat menggunakan teknologi nirkabel.

Siapkan Pasar
Praktisi Telematika Onno Purbo menyarankan, sebelum pemerintah menggelar tender BWA
harus sejak dini diciptakan kebutuhan di pasar akan teknologi broadband tersebut.

Penciptaan tersebut bisa melalui mengeluarkan instruksi bagi instansi pemerintah
untuk mengelar teknologi informasi berbasis BWA atau mempermudah izin penyedia jasa
internet (PJI) di lapangan.

”Jika ada kebutuhan yang besar, pelaku usaha akan tertarik mengembangkan teknologi
tersebut. Kalau ini tidak terjadi, maka yang ada frekuensi hanya dimanfaatkan oleh
operator besar,” tuturnya.

Hal senada disuarakan oleh Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII) Sylvia Sumarlin yang meminta pemerintah memberikan kesempatan kepada
operator berskala kecil dan Usaha Menengah Kecil, Mikro (UMKM), untuk mengembangkan
usahanya dengan mengalokasikan sebagian frekuensi 2,3Ghz setidak-tidaknya 3 kali 15
mhz per region bagi kedua kelompok usaha tersebut.

”Jika itu dilakukan pemerintah akan memacu dampak berganda (multipiler effect)
untuk penciptaan lapangan kerja dan usaha baru. Bukankah ini tujuan lain dari Wimax
selain meningkatkan keterjangkaun masyarakat akan akses internet,’ jelasnya.

Model Bisnis
Selanjutnya Onno menyarankan, jika para pemenang tender terdapat operator
penyelenggara jaringan dan jasa, maka pemerintah harus menjaga model bisnis yang
ideal agar kompetisi tetap terjaga.

Operator jaringan diminta tidak boleh membundel (bundling) teknologi wimax dalam
pemasarannya dengan telephony dasar. ”Jika operator tersebut dibiarkan membundel,
maka kasihan penyelenggara jasa karena mereka tidak akan mampu bersaing,”
tuturnya.

Pemisahan tersebut, lanjutnya, dapat dilakukan oleh pemerintah dengan meminta
operator membuat pembukuan yang berbeda untuk teknologi wimax dan teknologi lainnya.
”Nanti akan ketahuan mana operator yang gencar berjualan wimax atau menjadikan
teknologi tersebut hanya sebagai pelengkap,” jelasnya.

Masalah Frekuensi
Onno juga meminta pemerintah mewaspadai alokasi frekuensi yang ditender,”Secara
regulasi di 2,3 Ghz itu memang kosong. Tetapi praktik di lapangan, frekuensi
tersebut banyak dipakai untuk akses internet atau radio swasta”.

”Jangan sampai nantinya pemenang tender harus membersihkan dulu frekuensi tersebut
dari penumpang gelap. Kalau begitu akan makan waktu lagi untuk implementasi,”
tambahnya.

Sylvia menyarankan, pemerintah harus segera membuka tender kedua alokasi frekuensi
2,3 GHz ketika industri dalam negeri telah siap menyediakan produk perangkat BWA 2,3
GHz mobile tanpa harus menunggu datangnya tahun 2010.

”Pengembang perangkat lokal sudah siap untuk wimax. Sekarang tinggal dukungan dari
pemerintah saja.

Secara terpisah, Direktur Utama Indonesian Tower Sakti Wahyu Trenggono   menyambut
baik niat pemerintah untuk mengembangkan teknologi  Wimax.

“Kami senang dengan langkah pemerintah. Ini artinya mereka memberi kesempatan kepada
pelaku bisnis, khususnya bagi pemasok, yang tergolong sulit untuk meyakinkan
operator mengenai kemampuan perangkat lokal,” ujarnya.

Menurut Sakti, selama ini operator telekomunikasi  cenderung meremehkan
perangkat-perangkat buatan lokal. Bahkan meyakinkan mereka melalui bantuan peraturan
dan demo pun tidaklah cukup. Oleh karena itu, diharapkan adanya  ujicoba dan
regulasi  dapat meyakinkan operator tentang kemampuan perangkat lokal, yang sama
dengan asing.

Pada kesempatan lain, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menegaskan, pemerintah
tidak akan main-main dengan pengembangan teknologi wimax karena menyangkut
hidup-matinya industri perangkat lokal.

”Di wimax ini kita harus hati-hati membuat kebijakan. Pemain lokal harus diberikan
tempat untuk berkontribusi mengembangkan teknologi. Kalau tidak, Indonesia akan
selamanya menjadi konsumen teknologi dari luar negeri, tidak pernah bertindak
sebagai produsen,” tegasnya.

”Inilah yang menjadi alasan tender diundur beberapa kali. Kita menunggu konten
lokal siap. Sekarang tinggal digodog masalah aturan peserta tendernya saja,”
tambahnya.[dni]