081108 Penurunan Premium Kurang “Nendang”

spbu_pertaminaPenurunan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi sebesar
8,3 persen atau menjadi 5.500 dari 6 ribu rupiah mulai 1 Desember nanti,
dinilai kurang “nendang” alias memberikan dampak kecil bagi sektor riil.

Dampak dari penurunan BBM akan terasa kuat bagi
sektor riil jika pemerintah ikut menurunkan harga solar subsidi karena selama
ini biaya transportasi dirasakan semakin mahal oleh pengusaha.

Demikian benang merah pendapat dari Ketua Umum
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofian Wanandi, Ketua Harian Asosiasi
Peritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta, Sekretaris Jenderal
Electronic Marketer Club (EMC)
Handojo Soetanto, dan Pengamat Ekonomi Fadhil
Hasan, ketika ditemui secara terpisah, Jumat (7/11).

“Penurunan tersebut secara tidak langsung akan
mendorong menguatnya daya beli masyarakat kelas menengah. Hal ini karena premium
banyak dikonsumsi oleh segmen tersebut,” jelas Sofian.

Sofian mengharapkan, menurunnya harga Premium akan
membuat segmen masyarakat menengah memiliki cadangan dana berlebih untuk
mengonsumsi barang atau jasa yang ditawarkan oleh sektor riil.

“Selama ini hampir 30 persen dari pendapatan
kelompok ini disedot oleh biaya transportasi. Jika harga premium diturunkan
tentunya mereka bisa memiliki dana berlebih untuk berbelanja,” jelasnya.

Tutum menambahkan, segala sesuatu yang dilakukan
oleh pemerintah untuk menstimulus menguatnya daya beli masyarakat harus
dihargai karena sektor riil saat ini sedang terkena dampak krisis ekonomi
global.

“Sekarang ini kan yang diandalkan pasar dalam
negeri. Nah, jika tidak ada daya beli bagaimana produk mau dijual,” tuturnya.

Solar Harus Turun

Sementara itu, Fadhil menilai penurunan Premium
tidak memberikan dampak yang signifikan bagi sektor riil karena harga solar
tidak ikut diturunkan.

“Jika pemerintah ikut menurunkan harga solar barulah
itu bisa membantu sektor riil. Hal ini karena pengusaha banyak mengonsumsi
solar untuk perpindahan barang,” tuturnya.

Dia mengatakan, penurunan harga premium tidak lebih
dari keinginan pemerintah untuk mencari simpati publik akibat banyaknya desakan
dari berbagai kalangan untuk menurunkan BBM bersubsidi seiring harga minyak
mentah di dunia telah bermain di kisaran 60 dollar AS.

“Sebaiknya penurunan itu dilakukan tahun depan
seiring disusunnya anggaran untuk tahun depan. Jika itu dilakukan bisa
dilakukan penurunan secara komprehensif untuk semua jenis BBM,” sarannya.

Pendapat tersebut didukung oleh Sofian,”Memang
sebaiknya harga solar ikut diturunkan. Jika itu terjadi, bisa menolong banyak
bagi sektor riil karena selama ini armada transportasi kita umumnya menggunakan
bahan bakar tersebut”.

Harga Tidak Turun

Selanjutnya Fadhil menyakini, penurunan harga
Premium tersebut tidak akan menurunkan harga jual produk dan jasa oleh sektor
riil. “Tidak akan terjadi penurunan harga. Jangan diharapkan BBM turun diikuti
penurunan harga. Berbeda jika BBM dinaikkan, harga akan naik duluan sebelum
beleid itu dikeluarkan,” katanya.

Sofian pun mengakui, pengusaha tidak akan menurunkan
harga jual produk atau jasanya karena komponen lain untuk operasional mengalami
kenaikan. komponen tersebut adalah biaya upah dan nilai tukar rupiah yang
melemah.

“Harga memang tidak mungkin diturunkan. Tetapi
penurunan premium itu sebagai subsidi naiknya komponen yang lain itu,”
jelasnya.

Handojo juga mengakui tidak mungkin menurunkan harga
karena saat ini selisih nilai kurs mengalami kenaikan sebesar 15 persen.
“Barang-barang
elektronik itu banyak diimpor. Sekarang kita sedang melakukan penyesuaian harga
dengan selisih kurs,” tuturnya.

Pada kesempatan lain Ketua Gabungan Pengusaha
Makanan dan Minuman (Gapmi) Thomas Darmawan
menyatakan, jika masyarakat menginginkan harga produk turun, pemerintah harus
menghapus pungutan liar (Pungli) yang membuat pengusaha mengalami biaya ekonomi
tinggi. “Hapuskan dulu pungli, baru kita bicara soal turun harga,” tegasnya.

Sementara itu, Dirjen Migas
Departemen ESDM Evita Legowo menjelaskan, pemerintah belum bisa
menurunkan harga solar bersubsidi karena komoditi tersebut belum mendekat harga
keekonomian.

Solar bersubsidi saat ini dibanderol seharga 5.500
rupiah, sementara harga keekonomian 6.700 rupiah. “Yang paling mungkin sementara
ini diturunkan adalah harga premium karena harga ekonominya 6.400 rupiah.
Tetapi tidak ada jaminan harga premium akan naik lagi. Namun, meskipun naik,
tidak akan melebihi dari 6.000 rupiah,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s