061108 Teknologi 3G Butuh Tambahan Frekuensi

videocallBelum lama ini GSM Asociation (GSM-A) mengeluarkan data yang menggembirakan komunitas telekomunikasi di Indonesia. Lembaga bergengsi tersebut menasbihkan negeri ini sebagai pemilik layanan mobile broadband terbanyak di dunia yakni mencapai 315 ribu pelanggan.

Dapat dipastikan, jumlah tersebut hasil kontribusi dari tiga operator besar pemilik lesensi 3G yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL. Sedangkan dua pemilik lisensi lainnya, Hutchinson CP Telecom Indonesia (HCPT) dan Natrindo Telepon Seluler (NTS) tidak memberikan kontribusi apa-apa karena selama ini mereka selalu berkutat membuat layanan suara dan SMS semakin murah hingga mengorbankan frekuensi 3G miliknya.

Data yang dikeluarkan GSM-A memang menggembirakan, tetapi di sisi lain ada hal mengkhawatirkan, yakni perkembangan dari teknologi itu sendiri di Indonesia . Hal ini karena secara kualitas dan aplikasi di lapangan, 3G belumlah maksimal dijalankan oleh ketiga operator incumbent.

Bicara kualitas, sudah bukan rahasia lagi pelanggan mobile data milik Telkomsel, Indosat, dan XL selama ini berteriak-teriak mengeluhkan buruknya akses internet menggunakan jaringan 3G ataupun High Speed Downlink Packet Acces (HSDPA) dari ketiga operator tersebut.

Sebenarnya, mengakses internet melalui mobile broadband hanyalah salah satu aplikasi yang ditawarkan oleh teknologi 3G, masih ada layanan seperti video calling, Location based, dan mobile commerce.

Tetapi, bagaimana operator mau berbicara soal inovasi lain tersebut, jika untuk memberikan aplikasi yang diibaratkan di teknologi 2G adalah basic service-nya saja sudah kewalahan.

“Pengembangan kualitas layanan 3G di Indonesia mengalami masalah terutama karena para operator kekurangan spketrum frekuensi,” tegas President Qualcomm South East Asia/Pacific John Stefanac, di Jakarta, Selasa (4/11).

Menurut John, alokasi frekuensi sebesar 5 Mhz yang diberikan oleh regulator ke operator tidaklah ideal untuk menjalankan teknologi 3G,”Idealnya operator butuh 10 hingga 15 Mhz”.

Dikatakannya, jika operator diberikan lebih banyak frekuensi, maka teknologi 3G di Indonesia akan berkembang dan menguntungkan pelanggan. “Kondisi sekarang yang dirugikan sebenarnya adalah industri telekomunikasi Indonesia ,” katanya.

Kerugian yang diderita oleh operator karena dari sisi pendapatan mengalami penurunan akibat rendahnya tarif suara dan SMS. Jalan keluar untuk menaikkan pendapatan adalah bermain di data. Tetapi untuk bermain di data membutuhkan tambahan frekuensi.

“Layanan data sudah menjadi kontributor dominan di operator luar negeri menyumbang pendapatan. Contohnya, Telstra dari Australia yang memiliki cakupan 3G mencapai 99 persen populasi mengalami pertumbuhan data sebesar 84 persen semester I 2008 dengan 360 juta dollar Australia,” jelasnya.

Sedangkan kondisi di Indonesia berbanding terbalik. Layanan data baru bisa menyumbang sekitar 5 persen bagi total pendapatan operator.

Sementara kerugian dari sisi pelanggan adalah tidak bisa menikmati layanan yang bervariasi milik operator hingga berkutat di basic telephony yakni suara dan SMS. “Melihat data dari GSM-A, itu membuktikan pasar data di Indonesia lumayan besar. Alangkah disayangkan jika peluang pasar yang besar tersebut tidak dioptimalkan oleh para operator,” jelasnya.

Selain itu, tambahnya, harus diingat pertumbuhan mobile broadband yang positif akan berdampak baik bagi perekonomian satu negara,”Satu persen penetrasi mobile broadband dapat meningkatkan pendapatan perkapita suatu negara hingga 4 persen”.

Konsolidasi

Melihat kenyataan yang ada, John menyakini, mulai tahun depan akan terjadi konsolidasi di lanskap industri telekomunikasi Indonesia . “Tak dapat dipungkiri, krisis ekonomi global dan cenderungnya turunnya pendapatan operator tahun ini akan memicu terjadinya konsolidasi antarpemain,” jelasnya.

Dijelaskannya, jumlah pemain di Indonesia yang mencapai 11 operator tidaklah kondisi ideal. “Saya rasa setengah dari jumlah yang ada sekarang sudah cukup,” tegasnya.

Jika jumlah pemain sedikit, lanjutnya, akan berbuah positif bagi perkembangan industri karena frekuensi akan lebih bisa dioptimalkan yang berujung pada jenis layanan diberikan tambah variatif sehingga operator dapat meningkatkan pendapatannya.

Menanggapi hal itu, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menjanjikan, pemerintah akan memberikan tambahan frekuensi bagi operator 3G yang memenuhi lisensi modernnya. Jumlah frekuensi yang akan ditambah adalah sebesar 5 Mhz.

“Masalahnya harus ada rupiah yang dikeluarkan oleh para operator. Tidak ada yang gratis untuk sumber daya alam terbatas itu di negeri ini. Sekarang sedang kita hitung angka yang realistis,” tegasnya.

Berdasarkan catatan, XL bersama Telkomsel dan Indosat memang sudah resmi mengajukan tambahan frekuensi sebesar 5 MHz di spektrum 2,1 GHz. Kasak-kusuk mengatakan angka 160 miliar rupiah harus dipersiapkan oleh operator jika ingin mendapatkan tambahan 5 Mhz dari regulator.

John menyarankan, untuk masalah tambahan frekuensi tersebut ada beberapa kebijakan yang diambil pemerintah jika operator telah memenuhi lisensi modernnya. Beberapa alternatif adalah menambah frekuensi dengan beauty contest, melelangnya, atau menjalankan revenue sharing dengan para operator.

“Praktiknya di berbagai negara berbeda-beda. Kondisi di Indonesia tentu regulator lebih tahu. Tetapi jika dilelang terlalu mahal, bisa berujung tarif data tetap mahal karena operator ingin balik modal,” jelasnya.

Kembalinya modal, inilah kata kunci dari kengototan Qualcomm mendesak regulator memberikan tambahan frekuensi bagi operator. Sebagai pengusung teknologi 3G, Qualcom seperti memiliki kewajiban moral kepada para operator di Indonesia untuk terus mengembangkan teknologi tersebut karena layanan itu sebenarnya mendapatkan ancaman serius dari Broadband Wireless Access (BWA) dengan teknologi Wimax tak lama lagi di negeri ini.

Jika wimax dijalankan, banyak praktisi memperkirakan 3G akan terlindas karena investasi yang dibutuhkan lebih rendah. Dan ini tentunya akan berimbas kepada bisnis Qualcomm di Indonesia.

Data mencatat, perusahaan ini memiliki 40.100 paten aplikasi CDMA dan teknolgi yang berkaitan dengan WCDMA serta OFDMA. Tentunya, dengan kondisi pasar data Indonesia yang sedang tumbuh, menjual aplikasi tersebut ke operator akan menambah pundi-pundi pendapatan dari perusahaan yang sering dipermasalahkan pesaingnya akibat memonopoli chipset CDMA.

Untuk itulah sejak tiga bulan lalu Qualcomm mengutus para petingginya secara bergantian ke Indonesia guna menyuarakan perlunya tambahan frekuensi 3G bagi para operator.

Hal ini karena para operator merasa “ewuh pakewuh” untuk mendesak pemerintah memberikan tambahan frekuensi. Dan demi kelangsungan bisnisnya, akhirnya Qualcomm berani menjadi “martir” dengan bersuara lantang bahwa tambahan frekuensi adalah hal yang mutlak. Memang, tidak ada makan siang yang gratis dalam berbisnis.[dni]

1 Komentar

  1. hp 3G wah blh tuh….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s