061108 Sektor Riil Dukung Obama

small_obama_imageKemenangan Senator Barack Obama untuk menduduki kursi Presiden Amerika Serikat
periode 2008-2012 tidak hanya disambut gembira oleh masyarakat negeri Paman Sam
tetapi juga pelaku usaha sektor rill di Indonesia.
 
“Kemenangan Obama itu tidak hanya mempengaruhi perekonomian AS, tetapi juga
Indonesia. Hal ini karena negara kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh
ekonomi AS,” ujar Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa
di Jakarta, Rabu (5/11).
 
Dia menyakini, kebijakan Obama untuk menaikkan pajak orang-orang kaya akan membantu
perekonomian AS karena dana hasil pajak itu  bisa digunakan untuk menambah
kebutuhan pendanaan Paman Sam yang cukup besar saat ini.
 
“Ini akan mempercepat stabilnya perekonomian di negara tersebut. Kalau mereka
sudah stabil, berbagai hasil produksi sektor riil Indonesia seperti kerajinan tangan
bisa di ekspor lagi ke sana,” tuturnya.
 
Obama, lanjutnya, akan mampu melakukan hal tersebut karena sebagian tim ekonomi yang
digunakannya adalah  tim ekonomi Bill Clinton, presdien AS sebelum George W. Bush.
“Terbukti, saat Clinton memimpin dulu. ekonomi AS baik,” katanya.

Erwin juga mengharapkan, pemerintahan yang dipimpin  Obama nantinya bisa mengubah
pola pikir dan strategi AS dalam melihat perekonomian global dan keamanan dunia,
“Selama ini AS kurang memperhatikan kepentingan negara-negara berkembang, semoga
Obama bisa membawa perubahan ke negara berkembang dan daerah Timur Tengah,”
jelasnya.[dni]

051108 Perdagangan Internasional Turun

containershiploadingAktivitas   perdagangan Internasional yang  terpantau  dari   terminal  konvensional  pelabuhan  Tanjung Priok  hingga kuartal ketiga 2008  mengalami  penurunan  26,9 persen atau  sekitar  1.529.879 ton.

Arus  ekspor  pada kuartal ketiga  tahun  ini  hanya mencapai   4.151.482 ton, sedangkan periode  sebelumnya mencapai 5.681.361 ton. Sedangkan untuk  impor   naik yaitu mencapai 9.393762681.361  ton atau sekitar 1,72  persen 

Juru  bicara  PT  Pelindo  II  cabang  Pelabuhan  Tanjung Priok Hambar  Wiyadi mengungkapkan, penurunan tersebut dipengaruhi sejumlah produk ekspor  seperti semen dan klinker.

”Naik  turunnya perdagangan  internasional  yang  masuk melalui pelabuhan tersebut  disebabkan  menurunnya impor beberapa komoditi seperti gula pasir, beras, gandum, jagung, kacang kedelai, makanan ternak, dan bahan kimia,” katanya di Jakarta, Senin (4/11).

Dijelaskannya, meskipun untuk perdagangan internasional mengalami penurunan, tetapi perdagangan  domestik  terjadi kenaikan  sebesar    2,20 persen  atau  sebesar 32.488.170 ton  dibanding  periode  yang sama  tahun lalu  yang hanya  mencapai 31.787.557 ton.

Bahkan sampai kuartal ketiga, kapal-kapal bermuatan barang strategis yang cukup dominan diantaranya kapal bermuatan CPO rata-rata perbulan 70 unit   dan kapal bermuatan hewan rata per bulan mencapai enam hngga  tujuh unit kapal, dimana sampai dengan triwulan I 2008 total hewan sapi yang diimpor asal Australia mencapai 197.953 ekor.

Khusus  perdagangan antarpulau, arus barang yang dibongkar mengalami kenaikan sebesar 11,34 persen atau 1.340.614 ton. Dimana sampai kuartal ketiga ini arus barang yang dibongkar mencapai angka 13.160.646 ton, sedangkan pada tahun lalu hanya sebesar 11.820.032 ton.

Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan seperti beras antar pulau, CPO, Steel Plate, alat berat, dan besi tua serta komoditas bahan galian berupa Batu Bara dan Pasir.

Sementara itu, arus  petikemas melalui dermaga umum Pelabuhan Tanjung Priok dalam periode yang sama mencapai 940.958 Teus atau 786.389 Box, terdiri dari petikemas 20 kaki 631.820 Box dan petikemas 40 kaki  154.569 Box.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu mencapai 930.159 Teus atau 782.926 Box, mengalami kenaikan sebesar 10.799 Teus atau 0,14  pesen. Selanjutnya arus kunjungan kapal mencapai 13.923 unit atau 70.175.120 GT (Gross Tonase) terdiri dari kapal luar negeri sebanyak 4.122 unit atau 47.448.775.1225.120 GT, kapal dalam negeri 9.529 unit atau 22.305.279 GT dan kapal negara atau tamu lainnya mencapai 272 unit atau 421.066 GT.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu dalam periode yang sama hanya sebesar 13.461 Unit atau 67.486.213 GT, berarti  mengalami kenaikan sebesar  3,43 persen atau 462 unit-nya  dan 3,98 persen atau 2.688.907 GT-nya.

Kenaikan yang tajam justru terjadi pada arus kapal  dalam negeri sebanyak 13,97  persen atau 1.168 unit, jika dibandingkan dengan tahun lalu hanya sebesar 8.361 unit atau 20.646.780 GT.

Namun  arus kapal luar negeri mengalami penurunan 6,97 pesen atau 309 unit dari 4.431 unit pada tahun lalu menjadi 4.122 unit. Jika dibandingkan dengan GT mengalami kenaikan sebesar 2,01 persen atau 936.221 GT, dimana pada tahun lalu hanya 46.512.554 GT menjadi 47.448.775 GT pada periode tahun ini.

Ketua Umum Indonesia Shipowner Asociation (ISA) menjelaskan, penurunan ekspor disebabkan oleh beberapa hal seperti situasi keuangan dan ekonomi dunia yang sedang resesi cukup berat dan Indonesia pun belum begitu kompetitif dalam persaingan di pasar international disebabkan oleh ekonomi biaya tinggi dan kurangnya upaya marketing.

”Pelabuhan besar seperti Tanjung Priok,Tanjung Perak, dan lainnya tidak efisien dan berbiaya tinggi. Regulator selama ini diberi masukan oleh pelaku pasar tidak mau mendengarkan. Keputusan yang dibuat selalu sepihak dan menang sendiri,” jelasnya.[dni] 

051108 Penurunan BBM Industri Belum Menolong Sektor Riil

spbuPenurunan Bahan Bakar Minyak (BBM) industri oleh Pertamina sekitar 19 persen untuk penjualan bulan ini dinilai belum mampu menolong sektor riil selamat dari ancaman krisis global.

Demikian kesimpulan pendapat yang diperleh dari Deputy Chairman Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto, Ketua Umum Indonesia Shipowner Asosiatiation (ISA) Jaka A Singgih, dan Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismi ketika dihubungi secara terpisah tentang perubahan harga BBM industri oleh Pertamina berlaku 1 November 2008.

“Jika Pertamina menurunkan BBM itu selama kurun waktu enam bulan baru bermanfaat bagi sektor riil. Namun, jika ada perubahan lagi itu membuat sektor riil susah membuat perencanaan,” kata Djimanto.

Menurut Djimanto, besaran penurunan yang dilakukan Pertamina belum ideal, “Sebaiknya harganya sama atau lebih rendah daripada negara sumber impor barang modal, bahan baku maupun barang jadi”.

Dijelaskannya, selama ini komponen BBM dalam biaya produksi antara 0,5 hingga 50 persen harga per unit produksi. Industri yang banyak “memakan” BBM adalah petrokimia, transportasi, perikanan tangkap, chemical, dan tanur pembakaran. “Beberapa dari industri tersebut banyak menggunakan pembangkit listrik, karena itu biaya BBM bergantung sekali,” jelasnya.

Sementara untuk industri manufaktur, pertanian, pertambangan, dan perdagangan hanya mengonsumsi sedikit BBM. “Namun saya mengakui penurunan BBM tersebut potensial dapat menurunkan harga jual produk dengan asusmsi cost component lain tidak naik seperti bunga bank, upah, intermediasi keuangan, dan biaya sosial lainnya,” katanya tanpa bersedia menyebut besaran penurunan harga.

Ernovian mengungkapkan, penurunan dari BBM tersebut akan berarti jika tarif listrik diturunkan oleh PT PLN. Hal ini karena industri banyak mengonsumsi listrik seperti tekstil sebesar 70 persen.

Sementara itu, Jaka meminta Pertamina untuk menurunkan harga proporsional dengan penurunan harga pasar. “Jika dengan harga yang ditawarkan Pertamina itu belum kompetitif. Misalnya, dibandingkan dengan Singapura. Di negeri tersebut BBM untuk kapal lebih murah 15-20 persen dibandingkan Indonesia ,” katanya.

Menurut dia, jika Pertamina bisa memberikan harga yang kompetitif, akan menolong industri pelayaran karena selama ini biaya di pelabuhan Indonesia jauh lebih tinggi dan produktivitasnya lebih rendah jika dibanding dengan negara tetangga seperti Hong Kong dan China .

“Dia mengkhawatirkan jika kondisi tersebut berlanjut akan membuat kapal-kapal dari pelayaran internasional yang mempunyai kapasitas besar dan jaringan luas akan memilih untuk menyinggahi pelabuhan lain seperti di Malaysia ,Singapura, dan Hong Kong ,” jelasnya.

Sebelumnya, Pertamina melalui situs resminya mengumumkan harga BBM non subsidi periode 1 November 2008 mengalami perubahan harga. Premium turun 18,0 persen, minyak tanah turun 16 persen, minyak solar turun 19,9 persen, minyak diesel turun 20,2 persen, diesel V10 turun 20,9 persen,  dan minyak bakar turun 23,8 persen dari harga sebelumnya.

Perubahan harga tersebut disebabkan MOPS dalam rupiah mengalami penurunan berkisar 16 persen hingga 23,8 persen dari harga sebelumnya dan nilai tukar rupiah melemah 5,14 persen dari perhitungan harga sebelumnya.[dni]