011008 Ancaman Itu Berasal dari Tirai Bambu

Maraknya merek telepon seluler (ponsel) dari negeri China mulai terjadi sejak tahun lalu. Tepatnya ketika operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) melakukan penetrasi pasar dengan strategi menjual kartu perdana dan ponsel dalam satu paket (Bundling).

Bundling yang mencatat penjualan paling fenomenal adalah milik Bakrie Telecom (Esia) dengan ponsel China , Huawei. Saat itu, ponsel CDMA Huawei seri C2601 terjual 500 ribu unit hanya dalam waktu 2,5 bulan.

Sementara untuk ponsel China berbasis teknologi GSM, nama Hitech pantas dikedepankan. Hitech pada tahun lalu meluncurkan dua seri ponsel TV tuner di tengah maraknya fitur TV mobile yang ditawarkan oleh operator melalui 3G. Menggunakan strategi tidak perlu mengeluarkan uang untuk menonton TV, ponsel-ponsel TV milik Hitech terjual lebih dari 20.000 unit dalam empat bulan.

Lembaga riset GfK mengungkapkan hingga triwulan pertama 2008, ponsel China di Indonesia telah menguasai pangsa pasar hingga 9 persen.

GM Sales & Marketing Jumbo Group Tan Bunarta yang menjadi agen penjual ponsel China merek Startech dan Hitech mengatakan, tingginya animo masyarakat menggunakan ponsel dari China karena dari sisi fungsi multimedia kemampuannya sama dengan merek terkenal.

“Sekarang ini dengan banyaknya penawaran dari operator yang menawarkan panggilan murah ke sesama memicu konsumen memiliki lebih dari satu ponsel. Nah, ceruk pasar inilah yang disasar oleh ponsel China ,” katanya kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Inovasi yang membuat segmen tersebut menjadi mudah digarap produsen ponsel China apalagi kalau bukan sistim dual mode (aktifnya dua jaringan dalam satu ponsel) yang laris seperti kacang goreng di pasar. “Fitur ini membuat pelanggan bisa berlangganan banyak operator sementara ponsel yang dibawa tidak terlalu banyak,” tuturnya.

Kepala Pemasaran Smart Telecom Tom Alamas Dinharsa mengatakan, masyarakat sekarang mulai percaya pada ponsel dari China. ”Ponsel ini diposisikan sebagai suplemen alias ponsel tambahan. Dan Anda jangan anggap sepele ponsel dari China, Haier dan ZTE itu sudah meraksasa di dunia. Mereka sudah bisa membuktikan dirinya mampu bersaing,” katanya.

Menanggapi ancaman dari ponsel China , juru bicara Nokia Mobile Phone Indonesia Regina Hutama Poli mengaku tidak khawatir sama sekali. ”Kami memang memperhatikan apa yang terjadi di pasar. Tetapi, apa mereka (ponsel China) itu merupakan ancaman, saya rasa belum hingga tahap demikian,” ujarnya.

Dia menilai, pertumbuhan pasar ponsel China saat ini sebagai dinamika pasar biasa. “Masih terlalu dini menyatakan ini mereka tumbuh pesat, ini baru sekedar tren. Jadi tak akan membuat Nokia mengubah strategi pemasaran,” katanya.

Dijelaskannya, dalam mekanisme pasar terbuka seperti di Indonesia, konsemenlah yang menjadi juri paling adil. ”Konsumen kan membeli karena tertarik harganya. Namun, membeli barang elektronik itu kan tidak beli putus. Harus ada purna jual dan lainnya. Inilah kekuatan Nokia yang tidak dimiliki ponsel China,” katanya.

Regina pun menampik, Nokia tidak memiliki produk dengan harga murah layaknya ponsel China, ”Kami memiliki range produk yang beragam untuk semua segmen. Dan harganya pun kompetitif” ungkapnya.

GM Marketing LG Elektronik Indonesia Andre Tan menyakini, ponsel China porsinya di pasar Indonesia tak lebih dari 10 hingga 15 persen dari pangsa pasar. “Jangan lupa, merek terkenal juga punya produk dengan harga kompetitif layaknya ponsel China . Dan di Indonesia, konsumen masih melihat merek, jika harga yang ditawarkan nyaris sama oleh satu produk,” jelasnya

Secara terpisah, praktisi seluler Herman TKK mengatakan, masyarakat di Indonesia harus hati-hati dengan ponsel dari China karena di negeri tersebut sedang marak home industry ponsel yang memungkinkan setiap perusahaan dari luar negeri menempelkan mereknya sendiri di ponsel tersebut. ”Anda harus pesan minimum 5.000 unit, baru bisa beli. Setelah itu Anda jual di Indonesia. Masalah purna jual tanggungan pembeli sendiri. Produk seperti inilah yang pertama masuk ke Indonesia sehingga membuat citra ponsel China menjadi buruk,” katanya.[dni]

011008 Pasar Ponsel: Kami Masih Berhalo-halo

Pada tahun lalu, penjualan Telepon seluler (ponsel) di seluruh dunia mencapai angka 1,15 miliar unit. Angka tersebut meningkat 16 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 990,9 juta unit.

Menurut Gartner Research Center pada akhir kuartal keempat tahun 2007, penjualan ponsel mencapai angka 330 juta unit sehingga menggenapkan total penjualan menjadi 1,15 miliar unit.

Angka penjualan tersebut mayoritas dikontribusi oleh negara berkembang seperti China , Indonesia , dan India yang dipandang sebagai pasar yang potensial. Hal ini karena di negara-negara tersebut segmen pertama kali menggunakan ponsel (entry level) masih besar.

Sementara di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa Barat, konsumen lebih suka membeli ponsel dengan fitur multimedia yang canggih TV tuner, GPS, touchscreen dan kamera resolusi tinggi.

Memasuki tahun 2008, Gartner memprediksi bahwa penjualan ponsel tidak akan lagi mampu menyamai angka tersebut seiring dengan perkembangan pasar yang mulai stabil. Hal ini akan terlihat jelas pada pasar di Eropa Barat dan Amerika. Sedangkan pertumbuhan ponsel terbesar masih akan dikontribusi dari pasar negara berkembang.

Tercatat, penjualan ponsel di Eropa Barat diprediksi akan mencapai 188 juta unit alias turun hingga 1,5 persen dari tahun lalu. Sedangkan di Amerika Utara, penjualan ponsel akan mencapai 185,7 juta unit pada tahun 2008, hanya sedikit meningkat 5,3 persen dari tahun lalu. Sedangkan penjualan di Jepang mencapai 47,7 juta unit, atau turun 9,1 persen dari tahun 2007.

Gartner memperkirakan pada 2008 ini penjualan ponsel akan meningkat sekitar 11 persen atau menjadi 1,28 miliar unit akhir tahun ini. Pada kuartal pertama tahun ini penjualannya telah mencapai 294,3 juta unit.

Sementara pada kuartal kedua penjualan ponsel mencapai 300 hingga 305 juta unit. Dari tren penjualan tersebutlah diperkirakan untuk total penjualan ponsel selama tahun 2008 akan mencapai 1,28 miliar unit.

Di Asia Pasifik sendiri, diperkirakan penjualan ponsel telah mencapai 472,5 juta unit pada tahun ini. Angka itu mengalami peningkatan sebesar 17,9 persen dibanding penjualan tahun 2007 lalu.

Kondisi di Indonesia

Indonesia sebagai negara yang dianggap sedang berkembang, pasar ponsel juga menunjukkan angka yang menggembirakan. Dapat dikatakan, penjualan produk ini tak lekang oleh krisis ekonomi alias semangat berhalo-halo masih kencang di negeri ini.

Padahal, di Indonesia grafik penjualan ponsel berjalan anomali dengan penjualan kartu perdana milik para operator. Jika operator mampu menjual kartu perdana secara total bisa di atas lima jutaan dalam waktu satu bulan, tidak demikian dengan ponsel.

Rata-rata penjualan ponsel di Indonesia hanya sekitar 1,3 juta unit setiap bulannya.

Pada tahun lalu tercatat ponsel yang terjual di Indonesia sebanyak 18 juta unit, tentunya tidak sebanding dengan pertumbuhan pelanggan seluler yang menembus angka puluhan juta.

Berbanding terbaliknya penjualan ponsel ini karena frekuensi masyarakat Indonesia berganti nomor lebih tinggi dibanding membeli ponsel. Lihat saja tingkat pindah layanan (churn rate) kartu prabayar yang bisa mencapai 20 persen. Tentu itu membuat perputaran penjualan kartu perdana lebih cepat dibandingkan penjualan ponsel.

Merek yang menguasai pasar saat ini adalah Nokia menguasai 50 persen pangsa pasar, diikuti Sony Ericcson 20 persen, selanjutnya Samsung, dan Motorolla, serta ponsel dari negeri China.

Tahun ini, meski ada hantaman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau krisis ekonomi global yang datang belum lama ini, para produsen ponsel yakin penjualan akan naik hingga 30 persen atau sekitar 23 juta unit pada akhir tahun nanti.

Product Marketing Manager LG Electronic Indonesia John Halim mengungkapkan, jenis ponsel yang akan mendominasi pasar Indonesia umumnya datang dari kategori low end atau ponsel seharga satu jutaan rupiah.

“Sebanyak 50 persen ponsel yang dijual akan datang dari segmen tersebut,” jelasnya kepada Koran Jakarta, belum lama ini

Sedangkan untuk segmen menengah, lanjutnya, menguasai 30 persen pangsa pasar. Segmen menengah tersebut biasanya ponsel yang dibanderol seharga satu hingga dua juta rupiah.

“Untuk ponsel dengan harga di atas dua juta menikmati 25 persen pangsa pasar. Dan sisanya kategori smartphone. Diperkirakan smartphone tersebut akan terjual 30 ribu unit,” katanya.

GM Pemasaran LG Electronic Indonesia Andre Tan menambahkan, krisis ekonomi global yang terjadi sebenarnya memberikan pengaruh kepada penjualan ponsel sejak September lalu.

“Sebenarnya sejak awal Oktober terjadi penurunan penjualan sebesar 30 persen dari rata-rata penjualan setiap bulannya. Namun, karena bulan-bulan sebelumnya, khususnya menjelang Lebaran terjadi lonjakan pembelian, maka industri tetap yakin target pertumbuhan 30 persen itu tercapai,” tuturnya.

Menurut dia, tercapainya pertumbuhan penjualan ponsel akhir tahun nanti tak dapat dibantahkan dengan meningkatnya permintaan pasar low end.

“Ini mungkin linear dengan strategi operator yang banyak bermain di segmen bawah. Produsen ponsel pun ikut bermain di sana ,” jelasnya.

Business Development Manager Nokia Mobile Phone Usun Pringgodigdo mengungkapkan, kendala yang dihadapi oleh produsen ponsel sebenarnya masalah nilai tukar rupiah yang melemah.

“Kita kan banyak membeli ponsel di luar negeri dengan menggunakan dollar AS. Sementar di sini jualnya pakai rupiah. Kalau kurs fluktuatif, harga barang pun akan seperti itu di pasar,” jelasnya.

Pengamat Telematika Miftadi Sudjai menyakini penjualan ponsel di Indonesia tidak akan suram meskipun adanya krisis ekonomi global yang terjadi saat ini.

”Sekarang itu yang terjadi penyesuaian harga akibat kurs dollar AS sedang gonjang-ganjing. Pasar di Indonesia masih sangat besar. Hal ini karena penetrasi dari telepon nirkabel baru 40 persen dari total populasi penduduk. Akan berbeda ceritanya jika penetrasi sudah mencapai 80 persen,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, perilaku konsumen di Indonesia sangatlah unik. Masyarakat Indonesia menjadikan benda mungil tersebut tidak hanya sekadar benda untuk bergaya tetapi sudah menjadi penyerta hidup.

Memang benar, kenyataannya saat ini ponsel bukan lagi alat untuk berhalo-halo, tetapi juga menjadi konvergensi melalui beragam fasilitas seperti Organizer, Calculator, MP3 player, Game, Movie Player, Kamera, Data transfer, Music Editor, dan Internet Browser yang membuat hidup semakin hidup.[dni]

”Nah, karena dari tingkat kebutuhan bukan lagi sebagai aksesori tetapi sudah menjadi kebutuhan pokok, maka ponsel akan tetap diburu masyarakat,” jelasnya.[dni]