011108 Dephub Tak Kunjung Tutup Pelabuhan Liar

Departemen Perhubungan (Dephub) tak kunjung juga menutup pelabuhan liarmeskipun

permintaan untuk melakukan aksi tersebut telah didengungkan Direktorat Jenderal Bea

dan Cukai, serta para pengusaha sejak dua minggu lalu.
Kabar terakhir yang didapat dari Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal adalah

masih terus dilakukan koordinasi dengan para Administratur Pelabuhan (Adpel) guna

menentukan pelabuhan yang masuk kategori liar.
Padahal, sebelumnya telah  keluar  instruksi Direktur Jenderal Hubungan Laut

Departemen Perhubungan No.UK.11/24/ 19/DJPL-08 tanggal 24 Oktober 2008.
Dalam instruksi tersebut disebutkan, penertiban dilakukan terhadap pelabuhan yang

beroperasi tanpa memiliki izin atau pelabuhan yang yang telah memiliki izin tetapi

penggunaannya tidak sesuai dengan perizinannya.
“Hari ini akan ada rapat lagi dengan para Adpel untuk membicarakan masalah

teknisnya,” ujar Jusman di Jakarta, Jumat (31/10).
Jusman mengungkapkan, pelabuhan yang akan ditutup nantinya adalah pelabuhan tanpa

izin dan memiliki izin sementara. “Jumlahnya antara versi Bea dan Cukai serta di

lapangan berbeda-beda. Bea dan Cukai bilang ada 46 di Batam, tetapi itu harus

diverifikasi terlebih dulu,” jelasnya.
Jusman menegaskan, departemennya sebagai pihak yang bertanggungjawab atas izin

pelabuhan akan segera melaksanakan himbauan dari Presiden untuk menutup pelabuhan

liar. “Saya ini anak buah Presiden, tentu akan melaksanakan perintah atasan,”

tegasnya.
Namun, ketika didesak kapan aksi sebenarnya dilaksanakan, Jusman malah balik

mengatakan, untuk sementara pemerintah telah memberikan solusi pembatasan beredarnya

barang-barang selundupan.
Solusi tersebut adalah membatasi jenis pelabuhan dan bandara yang diperbolehkan

masuknya komoditi mainan anak-anak, tekstil, garmen, dan elektronik. Pintu masuk

dari komoditi itu hanya boleh melalui pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung

Perak, Belawan, dan Makassar. Sementara untuk bandar udara hanya dibuka pintu

masuknya di Soekarno Hatta, Juanda, dan Makassar.
Menanggapi hal itu, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismi

mengaku kecewa dengan belum adanya juga aksi nyata dari Dephub.
“Terus terang saya kecewa sekali. Padahal dari hasil rapat minggu lalu telah

ditentukan  yang memiliki hak menutup pelabuhan tersebut adalah Dephub. Kenapa lama

sekali bergeraknya,” katanya.
Dikatakannya, masuknya barang selundupan tekstil dari pelabuhan liar  telah

merugikan negara puluhan miliar rupiah. Tercatat, kerugian pada 2005 sebesar 633

juta dollar AS, 2006 (752 juta dollar AS), 2007 (310 juta dollar AS). Kerugian itu

berdasarkan perhitungan hilangnya potensi pajak PPN sebesar 10 persen dan PPH 2,5

persen.
Data dari bea dan cukai per September 2008 juga  mengungkapkan, nilai baja impor

ilegal yang masuk ke pasar nasional senilai 1,2 miliar rupiah.  Sedangkan selama

periode Januari-Sepetember 2008 terjadi peningkatan impor baja ilegal sebesar 20

persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Indonesian Iron and Steel Indistry Association (IISIA) juga  mencatat total impor

baja canai panas ilegal ke Indonesia pada 2007 sebanyak 900 ribu ton. Angka itu

membuat kerugian negara mencapai 810 juta dollar AS.
Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi ketika dikonfirmasi tentang belum ditutupnya

pelabuhan liar oleh dephub menegaskan wewenang untuk menutup tersebut bukan di

direktoratnya. ”Tidak tepat Anda bertanya kepada saya. Saya sudah mengerjakan

tugas dengan menginformasikan ke Dephub. Jadi, jangan dibolak-balik lagi logika

berpikirnya,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s