011108 Akhirnya, Telkom Akui Penurunan Tarif Pukul Kinerja Keuangan


PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya mengakui penurunan biaya
interkoneksi sebesar 20-40 persen pada April lalu memukul kinerja keuangan operator
pelat merah tersebut.

Hal itu terlihat pada kinerja kuartal ketiga tahun ini dimana laba bersih pemimpin
pasar itu hanya sekitar 8,9 triliun rupiah atau turun 9 persen dibandingkan periode
yang sama tahun lalu sebesar 9,8 triliun rupiah.

Penurunan juga terjadi pada laba usaha sebesar 13,66 persen atau meraup 17,179
tiliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu 19,897 triliun rupiah.

Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno menjelaskan, melambatnya kinerja keuangan
hingga kuartal ketiga tahun ini akibat adanya krisis global dan penurunan biaya
interkoneksi.

“Krisis global membuat kami rugi selisih kurs dan beban bunga meningkat karena
suku bunga naik. Ini karena sebagian belanja modal (Capital Expenditure/Capex)
dibiayai oleh utang,” jelasnya di Jakarta, Jumat (31/10).

Diungkapkannya, kerugian akibat dua faktor tersebut sekitar 75 hingga 85 miliar
rupiah. Sementara faktor lain adalah meningkatnya beban sewa frekuensi di luar
perhitungan perseroan. “Sebelumnya kami perkirakan perhitungan frekuensi berbasis
bandwith, ternyata sebagiana ada yang berdasarkan izin stasiun radio (ISR).
Besarannya sekitar 400 miliar rupiah,” tuturnya.

Sementara dari sisi laba usaha terjadi penurunan karena melambatnya pendapatan usaha
perseroan. Tercatat pada kuartal ketiga tahun ini Telkom meraup 44,6 triliun rupiah
atau hanya naik 2,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 43,647
triliun rupiah.

Sudiro mengakui, faktor penurunan biaya interkoneksilah yang membuat pendapatan
usaha Telkom melambat, meskipun dari sisi jumlah pelanggan dan menit pemakaian
terjadi peningkatan.

Tercatat, Telkomsel pada triwulan III meraih 60,5 juta pelanggan atau naik 36 persen
dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 16 juta pelanggan. Sedangkan
pelanggan TelkomFlexi sebesar 9,15 juta pelanggan atau naik 63 persen dibandingkan
periode yang sama tahun lalu.

“Telkomsel yang selama ini berkontribusi sebesar 62,1 persen melakukan pemotongan
tarif hingga 75 persen sejak adanya beleid baru itu. Ini membuat belum didapatnya
keseimbangan baru meskipun dari sisi fundamental terjadi kenaikan,” jelasnya.

Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja mengungkapkan, laba bersih  pemain
seluler terbesar di negeri itu pada triwulan III 2008 mencapai 9,08 triliun rupiah
atau turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 9,7 triliun
rupiah,” katanya.

Penurunan laba akibat melonjaknya beban perusahaan seperti biaya jaringan dan sewa
frekuensi.

Fundamental Kuat
Chief Operating Officer Telkom Ermady Dahlan meminta dalam melihat kinerja Telkom
saat ini tidak hanya dari sisi keuangan, tetapi fundamental perusahaan yang kokoh,
seperti jumlah pelanggan yang meningkat dan bisnis baru mulai menunjukkan kinerja
postif.

“Di broadband internet terjadi lonjakan pelanggan dan pendapatan. Begitu juga
untuk TV kabel,” katanya.

Tercatat, pendapatan data dan internet pada kuartal ketiga tahun ini sebesar 10,8
triliun atau naik 6 persen dibandingkan periode lalu sebesar 10,2 triliun rupiah.
Hal itu berkat raihan jumlah pelanggan internet Speedy mencapai 593 ribu satuan
sambungan layanan hingga kuartal ketiga lalu.

Kiskenda menambahkan, sebagai incumbent di pasar telekomunikasi adalah wajar dari
sisi keuangan mengalami pukulan karena adanya “warisan” privilege yang harus
disesuaikan. Warisan yang dimaksud adalah tarif yang tinggi tanpa diganggu
regulator.

“Dulu kita lebih pro ke pemegang saham dengan tarif yang tinggi. Sekarang kita pro
ke masyarakat dengan memberikan tarif murah. Konsekuensinya tentu ada dari semua
ini,” jelasnya.

Ermady menyakinkan, hingga akhir tahun nanti pendapatan Telkom tetap akan mengalami
pertumbuhan karena perseroan telah berjalan di jalur yang benar seperti
mengembangkan unit bisnis baru yakni broadband internet dan triple play atau
mengembangkan sayap dengan mengakuisisi perusahaan lain.

“Saat ini kita juga sedang mengaji untuk mengakuisisi operator di Iran dan Timur
Tengah lainnya,” ungkapnya.

Sudiro menambahkan, sisa waktu di tahun ini akan dioptimalkan oleh perseroan untuk
melakukan ekspansi jaringan dan menggenjot pertumbuhan pelanggan. Hal ini karena
penyerapan Capex hingga kuartal ketiga tahun ini baru mencapai 50 hingga 55 persen.

“Tahun ini Capex kita sebesar 2,5 miliar dollar AS. Memasuki kuartal keempat ini
saya yakin penyerapannya sebesar 95 persen,” tuturnya.

Masalah krisis ekonomi sendiri sebenarnya tak dikhawatirkan oleh manajemen mengingat
jumlah kewajiban perseroan didominaso oleh mata uang dalam negeri. “Dari total
hutang senilai 16-17 triliun rupiah sebanayak 65 persen dalam bentuk rupiah sisanya
valas,” jelasnya.

Secara terpisah, Analis dari Sinarmas Sekuritas Alfiansyah mengungkapkan, pasar
sebenarnya sudah memprediksi kinerja keuangan dari Telkom hingga akhir tahun nanti
tidak begitu baik.

“Ketika beleid interkoneksi baru keluar, semua sudah memprediksi. Tetapi Telkom
kan selalu bilang tidak akan bermasalah. Sekarang semua terbukti,” katanya.

Namun, dia memperkirakan, sebagai emiten yang tergolong blue chip, saham Telkom
tetap akan mampu menopang kinerja indeks saham.

“Telkom kan sedang melakukan buyback saham semoga ini bisa mengimbangi sentimen
negatif dari kinerja keuangan mereka pada kuartal ketiga ini,” katanya sambil
menambahkan hingga penutupan bursa saham Telkom ditutup senilai 5.400 rupiah. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s