301008 Omzet Barang Elektronik Capai Rp 18 triliun

Omzet penjualan barang-barang elektronik diyakini akan mencapai 18 triliun rupiah hingga akhir tahun nanti, meskipun terjadi penurunan nilai rupiah terhadap dollar AS belum lama ini.

Angka tersebut berarti terjadi kenaikan sebesar 20 persen dibandingkan tahun lalu dimana omzet mencapai 16 triliun rupiah. Barang-barang elektronik yang dimaksud adalah peralatan rumah tangga diluar alat komunikasi dan komputer.

“Kita masih optimistis target omzet tahun ini bisa tercapai. Kenaikan dari nilai dollar AS itu kan baru terjadi beberapa waktu lalu. Selama 10 bulan terakhir ini penjualan pedagang lumayan bagus,” ujar Sekjen Electronic Marketer Club (EMC) Handojpo Soetanto kepada Koran Jakarta, Rabu (29/10).

Dijelaskannya, akibat dari kenaikan nilai dollar AS, maka beberapa produk elektronik yang sifatnya Completely Build Up (CBU) langsung mengalami kenaikan di pasar. Contoh dari barang-barang elektronik CBU adalah kulkas tiga pintu, TV LCD, dan lain-lain.

“Kenaikannya sebesar 10 hingga 15 persen, menyesuaikan naiknya dollar AS,” jelasnya.

Sedangkan untuk produk elektronik yang bahan bakunya separuh diimpor dan masih menggunakan bahan baku dalam negeri seperti kulkas satu pintu, tidak mengalami kenaikan yang besar. “Kenaikannya secara gradual yakni lima persen setiap minggu. Tetapi pada akhirnya nanti akan menyesuaikan juga dengan naiknya barang CBU yakni mencapai 15 persen,” tuturnya.

Menurut dia, tidak beraninya para pedagang untuk langsung menaikkan harga barang yang separuh impor karena pasarnya lumayan besar dan sangat sensitif dengan kenaikan harga. “Jika langsung dinaikkan drastis, bisa ditinggal pasar nanti para pedagangnya,” jelasnya.

Melihat fenomena dari kenaikan nilai tukar dollar AS tersebut, Handojo meminta, pemerintah untuk memberikan beberapa insentif bagi para pedagang seperti menghilangkan PPnBM bagi produk impor dan menciptakan kekuatan daya beli masyarakat.

Menciptakan daya beli masyarakat tersebut bisa dengan menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi agar sektor riil bergerak dan daya beli masyarakat menguat. “Sebenarnya kebutuhan masyarakat akan produk elektronik itu besar. Masalahnya di daya beli yang berkurang. Nah, solusinya buatlah stimulus,” pintanya.

Dia memperkirakan, jika keadaaan krisis berlanjut maka pada kuartal pertama tahun depan penjualan dari barang elektronik tidak akan secemerlang tahun sebelumnya. “Bisa jadi omzet penjualan tahun depan akan mengalami penurunan,” tandasnya.

Pada kesempatan lain, Presdir National Gobel, Rahmat Gobel mengakui, industri elektronik mengalami pukulan paling berat dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Hal ini karena 50 persen komponen barang tersebut berasal dari impor dan 80 persen barang yang beredar di pasar domestik adalah barang selundupan.

“Akibatnya pasar domestik yang gemuk tidak dinikmati oleh pemain lokal tetapi oleh importir nakal,” jelasnya.

Dia meminta, pemerintah untuk serius mengantisipasi masuknya barang selundupan dan mulai menentukan jenis teknologi yang akan dikembangkan ke depannya di Indonesia. “ Kalau tidak pasar kita akan habis oleh asing,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s