291008 Aksi Billy yang Merusak Segalanya

Kredibilitas dan integritas yang dibangun selama delapan tahun oleh sebelas orang terpilih di negeri ini memasuki titik nadir pada pertengahan September lalu.

 

Ya, pada Selasa (16/9) diberitakan eksekutif Lippo Grup, Billy Sindoro dan Anggota KPPU Muhammad Iqbal, tertangkap tangan sedang bertransaksi terkait keluarnya putusan lembaga tersebut yang menguntungkan anak usaha Lippo, Direct Vision (DV) pada Agustus lalu.

 

DV adalah perusahaan   dilaporkan oleh tiga pemain TV berbayar yakni   Indovision, TelkomVision, dan Indosat Multimedia (IM2) pada 14 September 2007.  Pasal yang dituduhkan ke DV adalah     melanggar pasal 16 dan pasal 19a Undang-undang No 5 Tahun 1999 tentang persaingan usaha tidak sehat. 

 

KPPU dalam putusannya melalui majelis komisi yang diketuai oleh Tri Anggaraini dengan  anggota Muhammad Iqbal dan Benny Pasaribu memutuskan DV tidak bersalah dalam kasus tersebut. Sementara untuk Astro diwajibkan tetap sebagai partner dan mensupply Liga Inggris ke Direct Vision.

 

Putusan terakhir yang mewajibkan Astro tetap berpartner itulah yang dianggap banyak kalangan sebagai ’angin’ dari putusan KPPU. ’Angin’ tersebut tentunya masuk dari seorang Billy Sindoro.

 

Untuk diketahui, Billy sebelumnya adalah CEO di PT First Media Tbk yang menjadi induk usaha dari DV. Entah kenapa, Billy pada pertengahan Juni lalu dialihkan hanya sebagai ’eksekutif’ di Lippo grup.

 

Banyak kalangan yang mengaku dekat dengan petinggi Lippo Grup mengakui, Billy adalah seorang yang jago dalam melobi pejabat negara untuk memuluskan bisnis grup perusahaan yang dipimpin oleh Taipan James Riady tersebut. ”Lobi dilakukan secara profesional. Kalau   sampai ada penyuapan, itu namanya bukan lobi,” kata beberapa pengusaha kepada Koran Jakarta belum lama ini.

 

Ketua KPPU Syamsul Maarif ketika dikonfirmasi tentang tertangkapnya Iqbal kala itu mengaku sangat terpukul sekali. Bagaimana tidak, sebelum adanya penangkapan, KPPU telah mendapatkan pukulan telak dari Mahkamah Agung (MA) yang mengebiri putusannya tentang

monopoli Temasek.

 

“Saya tidak menyangka sama sekali adanya kasus ini. Iqbal yang saya kenal tidak demikian. Namun, baiknya semua diserahkan ke proses hokum. Asas praduga tak bersalah harus dijunjung,” tegasnya.

 

Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi menegaskan, harus dibedakan anatara kasus yang menimpa individu dengan lembaga. “Putusan itu dibuat oleh lembaga. Dan jika ada oknum yang melakukan perbuatan melanggar hukum, jangan disamaratakan. Ibaratnya, jika ingin membunuh tikus, jangan lumbungnya dibakar,” katanya.

 

Junaidi pun hingga kini masih menyakini Iqbal tidak bersalah,”Saya belum percaya jika tidak ada ketetapan hukum”.

 

Kompatriot Iqbal, Tri Anggaraini pun menyakini putusan yang dibuat oleh majelis komisi hasil pimpinannya telah bekerja maksimal.”Putusan DV itu dibuat berdasarkan UU anti monopoli. Saya siap mempertanggungjawabkan,” tegasnya.

 

Sementara Pengamat ekonomi Pande Radja Silalahi dan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta, jika kredebilitas dari KPPU ingin ditegakkan, maka susunan keanggotaan harus direformasi. “Susah mendapatkan kepercayaan publik, jika orang-orang lama masih bercokol. Yang ada dipertanyakan terus hasil putusannya,” kata mereka.

 

Akh, Billy memang telah merusak segalanya.[doni ismanto]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s