281008 Antara Luna Maya dan Simpanse

Biar kata mirip buaya, bagi ku kau Luna Maya
Ooh I Love You Bibeh…
 
Syair lagu milik band pengusung aliran retro Changchuters tersebut dapat dikatakan
sebagai gambaran dari perang komunikasi antaroperator telekomunikasi saat ini. Ya,
apapun dilakukan oleh operator agar pelanggannya tetap mengatakan I Love U Bibeh ke
produknya.
 
Karena itulah, untuk setiap komunikasi pemasarannya, operator rela merogoh kocek
lumayan dalam guna menggandeng artis sebagai ikon produknya. Semua ini agar
pelanggan merasa terwakilkan sikapnya melalui produk yang digunakannya, sama dengan
sang artis yang menjadi ikon.
 
Namun tidak demikian dengan XL. Jika sebelumnya XL setia menggunakan artis cantik
Luna Maya sebagai endorser untuk produk prabayarnya, entah kenapa,  program
reformasi Tarif Telpon Semaumu menggunakan  seekor simpanse sebagai ikon.
 
Digunakannya seekor simpanse tersebut menjadi bahan diskusi yang menarik di industri
seluler. Semua ini karena XL menggunakan ikon di luar pakem yang berlaku yakni
artis-artis cantik nan aduhai.
 
Lihat saja, Indosat selalu mewarnai iklannya dengan wanita-wanita cantik. Hal yang
sama juga dilakukan oleh Telkomsel yang tidak hanya menggunakan Indra Bekti ditemani
oleh  Sandra Dewi dan  Happy Salma secara bergantian. 
 
“Kami hanya ingin melakukan komunikasi pemasaran yang langsung ke sasaran. Luna
Maya belum kita tinggalkan. Ini hanya ingin membuat shock pasar sesaat saja,” ujar
GM Pemasaran XL Riza Rachamdsyah di Jakarta, belum lama ini.
 
Dijelaskannya, komunikasi pemasaran yang menggunakan simpanse tersebut untuk
menegaskan program terbaru milik XL tidak memerlukan pelanggan berfikir ratusan kali
untuk memutuskan menggunakan produk XL. “Jadinya, kita ingin mencitrakan melalui
simpanse itu tidak usah banyak mikirlah untuk pakai XL,” katanya.
 
Praktisi Komunikasi dari Universitas Indonesia Fauzie Suaib menilai langkah XL yang
menggunakan binatang sebagai ikon produknya sebagai langkah kreatif yang harus
diapresiasi.
 
“Sebagai hasil pemikiran kreatif saya rasa itu wajar saja. Saya sendiri menganggap
itu sebagai suatu hiburan,” jelasnya.
 
Namun, lanjutnya, jika dikaitkan dengan etika dan kepatutan yang berlaku di publik,
maka langkah XL tersebut bisa menjadi bahan perdebatan yang panjang. “Etika kan
berlaku untuk komunitas. Nah, masalahnya setahu saya di periklanan belum ada etika
yang mengatur boleh atau tidaknya seekor simpanse dijadikan ikon. Karena itu bagi
saya sebagai bentuk komunikasi pemasaran ini hal yang biasa saja,” tuturnya.
 
Sementara itu, Wakil Direktur bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer
menjelaskan, seorang ikon yang ditampilkan  dalam suatu iklan operator selalu
diidentikkan sebagai perwakilan dari pelanggannya.
 
Biasanya endorser adalah bentuk personifikasi dari produk yang ingin ditampilkan
oleh satu operator. “Kami menggunakan Agus Ringgo karena ingin menampilkan citra
Esia sebagai produk yang mudah dan ramah bagi pelanggan. Hal itu sesuai dengan citra
yang selalu ditampilkan oleh si Artis dalam sehari-hari atau komunikasi iklan
kami,” katanya.
 
GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana mengatakan, bagi Telkomsel ikon harus bisa
mewakilkan citra produknya. “Kami biasanya mengontrak si Artis jangka panjang.
Jadi, kita bangun citra produk  melekat ke si Artis begitu juga sebaliknya. Masalah
ada yang menggunakan ikon dalam bentuk lain, itu hak mereka. Publik yang akan
menilai mana ikon  yang mewakili atau sebaliknya melecehkan mereka,”
katanya.[doni ismanto]

2 Komentar

  1. menjadi sebuah fenomena baru ketika sebuah perusahaan berani untuk bertindak out of the box. namun yang menjadi permasalahan saya kali ini adalah pernahkah ada penelitian yang dilakukan berkaitan dengan penggunaan endorser diluar selebritis maupun ordinary people (orang biasa)?

    kira-kira dengan adanya tindakan yang dilakukan oleh XL tersebut akan berpengaruh terhadap citra merek yang dimiliki XL?

    apa saja yang menjadi indikator dari penggunaan hewan sebagai endorser?

    • Yah, ini menarik sekali untuk diketahui. Tetapi menurut ilmu IMC, bertindak out of the box boleh, asalkan tidak menciderai pelanggannya saja.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s