151008 Lion Perkuat Armada

Maskapai swasta nasional, Lion Air, menjelang tutup tahun ini akan memperkuat armadanya dengan menambah pesawat dari jenis baling-baling dan jet.

Pada Desember nanti Lion akan kedatangan delapan pesawat sewaan dari tipe baling-baling jenis ATR 72 seri 210. Dan pada Desember pula pesawat jet jenis B737-900 akan dimiliki oleh Lion sebanyak 27 unit karena adanya tambahan sebanyak lima unit.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menjelaskan, penambahan pesawat jenis baling-baling tersebut sebagai upaya dari perseroan untuk lebih serius menggarap pasar kawasan timur Indonesia (KTI).

“Nantinya kita akan mengoptimalkan sistem operasi pengumpan dan pengambil (Hub and spoke) antara Wings Air dengan Lion Air. Home base pesawat baling-baling nantinya ada di Manado, Medan , Denpasar, Medan , Irian, dan Balikpapan ,” jelasnya.

Jika delapan pesawat yang datang pada Desember adalah jenis lama, lanjutnya, dalam dua tahun ke depan akan ada 27 pesawat ATR seri 500 dan 600. “Nah, kalo yang banyak itu semuanya pesawat baru,” tuturnya.

Sementara itu, juru bicara Lion Air Hasyim Arsyal Alhabsi mengungkapkan, perseroan menunda pengoperasian rute Jakarta-Jeddah meskipun sudah mengantongi izin dari pemerintahan kedua negara.

“Kita tunda karena untuk masuk ke pasar belum siap dan pesawat pun belum ada yang bisa dioperasikan,” katanya.

Sedianya, Lion merencanakan akan melayani rute Jakarta-Jeddah pada Oktober ini. Pasar yang dibidik dari kalangan pebisnis dan ONH plus.[dni]

151008 Tarif Penyeberangan Belum Direvisi

Tarif penyeberangan kelas ekonomi pada 72 lintasan penyeberangan antarprovinsi ternyata belum dinaikkan oleh regulator untuk periode Juni tahun ini.

Padahal, sesuai dengan regulasi tarif penyeberangan kelas ekonomi harus mengalami revisi setiap enam bulan sekali. Regulator pada akhir Juni lalu telah membuat perhitungan menaikkan tarif sebesar lima hingga persen dan berlaku pada Juli lalu.

Kebijakan menaikkan tarif dilakukan terakhir kali pada Januari lalu. Saat itu kenaikan rata-rata 4,46 persen dari tarif sebelumnya. Kenaikan tertinggi di lintas Gorontalo-Wakai (18,13 persen) dan Balikpapan-Taipa (0,24 persen). Sedangkan lintasan yang tak mengalami kenaikan adalah Ujung Kamal dan lintasan di daerah Ambon, Unimoa-Waipirit

Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Pada Lebaran lalu para pengusaha di jasa penyeberangan masih menggunakan tarif lama. Alhasil, mesekipun terjadi lonjakan penumpang, tetapi belum memberikan keuntungan bagi pemilik kapal.

Tercatat, selama 14 hari musim mudik lalu berhasil angkutan sungai dan penyeberangan mampu meraup pendapatan sebesar 23,6 miliar rupiah untuk rute terpadat Merak-Bakauheni.

Angka tersebut meningkat 133 persen dibandingkan tahun lalu yang meraup pendapatan sekitar 17,7 miliar rupiah.

Lintasan Merak-Bakauheni merupakan jalur terpadat saat mudik lalu. Tercatat penumpang yang diseberangkan sebanyak 909.264 orang, kendaraan roda dua (42.991 unit), dan kendaraan roda 4 (79.046 unit).

Sedangkan secara keseluruhan di 17 rute penyeberangan Angkutan Sungai dan Penyeberangan (ASDP) pada lebaran lalu menyeberangkan 3.111.400 orang atau naik 20,83 persen dibandingkan tahun lalu sekitar 2.575.006 orang.

Dirjen Hubungan Darat Soeroyo Alimoeso mengakui hingga saat ini memang belum dilakukan penyesuaian tarif penyeberangan karena belum adanya usulan dari para pengusaha.

“Sesuai regulasi setiap enam bulan sekali memang dilakukan penyesuaian tarif. Masalahnya hingga sekarang belum ada usulan dari Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap). Kami sendiri sudah melakukan kajian,” katanya di Jakarta, Selasa (14/10).

Dikatakannya, selama belum ada usulan dari para pengusaha maka yang berlaku adalah tarif lama. ”Kami menunggu saja usulannya,”jelasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Penarifan dan Usaha Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Bambang Haryo mengakui, belum memberikan usulan secara tertulis kepada regulator untuk menyesuaikan tarif.

”Tetapi secara lisan kami sudah berulang kali menyampaikan keluhan,” katanya.

Diungkapkannya, masih menahan dirinya para pengusaha untuk mengusulkan perubahan tarif karena ingin melihat terlebih dahulu dampak perubahan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan situasi krisis ekonomi bagi pelaku usaha.


”Perubahan kondisi ekonomi tersebut belum bisa diprediksi dampaknya bagi kami. Ini yang sedang dikaji,” katanya.


Dikatakannya, saat ini para pengusaha sedang menstabilkan permintaan akibat adanya perubahan kondisi ekonomi. ”Setelah itu beres baru kita ajukan usulan. Supaya tahun depan bisa direalisasikan,” jelasnya.


Selanjutnya dikatakan, dalam usulan kenaikan tersebut nantinya para pengusaha meminta adanya pentarifan yang proporsional antara tarif sepeda motor dengan kendaraan roda empat.


Saat ini tarif sepeda motor hanya sepersepuluh dari tarif roda empat untuk milik pribadi. Pada musim mudik lalu meningkatnya pemudik menggunakan motor justru tidak menguntungkan pemilik kapal karena 30 persen tiket yang mereka miliki tidak bisa diklaim ke PT Indonesia Ferry.


”Pemudik sepeda motor itu masuk ke kapal terlalu cepat. Akibatnya petugas tidak berhasil menyobek kertas. Ini membuat kami tidak bisa menagih ke Indonesia Ferry,” tuturnya.[dni]

161008 Penggunaan Aplikasi Lokal Meningkat 40%

Penggunaan aplikasi buatan lokal oleh perusahaan multinasional diyakini akan meningkat sebesar 40 hingga persen akibat naiknya nilai tukar dollar AS belakangan ini.

Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin Indonesia G. Hidayat Tjokrodjojo menjelaskan, beralihnya para pelaku usaha ke aplikasi buatan lokal karena harga aplikasi buatan luar negeri mulai melonjak seiring naiknya nilai dollar AS.

Harga aplikasi buatan luar negeri untuk sistem operasi biasanya mencapai 200 dollar AS. Sedangkan aplikasi lokal hanya sekitar 20 persen dari harga yang ditawarkan buatan luar negeri.

”Selain itu untuk beberapa aplikasi tertentu memang lebih menguntungkan menggunakan aplikasi lokal karena sesuai dengan kondisi aturan negara,” katanya di Jakarta, Kamis (16/10).

Dijelaskannya, aplikasi lokal yang banyak digunakan oleh pasar adalah sistem akuntansi dan penggajian. Untuk sistem penggajian, nilai aplikasi berkisar dari 10 juta hingga satu miliar rupiah.

Sedangkan untuk potensi bisnis aplikasi (lokal dan luar negeri) di Indonesia pada tahun ini mencapai 500 juta dollar AS. Angka itu meningkat 20 persen dibandingkan tahun lalu.

Sebagian dari potensi bisnis aplikasi itu berasal dari aplikasi lokal dimana dua pemain besarnya adalah Sigma Cipta Caraka dan Jatis.

Direktur PT Andal Software Indra Sosrodjojo mengakui, adanya penguatan nilai tukar mata uang dollar AS akan menjadi peluang bagi pemain lokal.

”Namun yang menjadi kekhawatiran saya apakah pemain lokal mampu menyambut peluang tersebut. Tentunya untuk standar perusahaan internasional ada standarnya,” katanya

Komputer Naik

Selanjutnya Hidajat mengungkapkan, berkah lain dari krisis global adalah naiknya minat masyarkat menggunakan komputer untuk alat berkomunikasi.

”Komunikasi melalui surat elektronik meningkat dua kali lipat. Ini membuat penjualan komputer akan naik,” katanya.

Jenis komputer yang banyak diincar adalah komputer jinjing atau Laptop mengingat mampu menunjang fleksibelitas penggunanya. ”Untunglah untuk jenis Laptop ada pemain lokal juga. Jadi, mereka bisa memanfaatkan momen ini,” katanya.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Komputer Indonesia (Apkomindo) Hengky Tjokriadhiguno mengungkapkan, saat ini harga produk komputer jenis Laptop mengalami kenaikan sebesar 10 hingga 20 persen akibat naiknya harga dollar AS.

“Terjadi penyesuaian harga dengan nilai dollar AS. Rata-rata kenaikannya sebesar 10 hingga 20 persen ujar,” Hengky.

Menurut Hengky, meskipun ada beberapa merek yang terkesan menurunkan harga barang itu tak lebih dari permainan pemasaran. “ Ada yang sebelumnya membanderol dengan harga dollar AS tiba-tiba diubah menjadi rupiah. Bisa juga sebaliknya. Jadi terkesan ada penurunan harga,’ katanya.

Ketika ditanya akankah krisis mengubah performa penjualan komputer hingga akhir tahun nanti, Hengky menyakini target 2,5 juta unit akan tetap tercapai.

“Bulan-bulan penjualan yang lakunya banyak kan sudah lewat. Sisa tahun ini hanya menghabiskan stok,”tuturnya.

Pada kesempatan lain, Direktur PT Masterdata Kharisma Mandiri Soegiharto Santoso menambahkan, krisis ekonomi tidak akan mempengaruhi permintaan kepada komputer karena saat ini sudah menjadi kebutuhan dari masyarakat.

“Penjualan komputer juga terpengaruh isu di media massa . Karena itu saya minta jangan dibilang harga naik, masyarakat jadi enggan ke toko. Situasi sebenarnya adalah penyesuaian harga,” jelasnya.

Masterdata Mandiri adalah salah satu distributor dari komputer merek Asus. Rata-rata satu bulan merek Asus terjual di pasaran sebanyak 8 hingga 9 ribu unit melalui tiga distributor utama.[dni]