111008 Belum Juga Membaik

Jumlah pemudik  tahun ini boleh saja meningkat. Begitu juga dengan penggunaan moda transportasi. Tetapi tidak demikian dengan kualitas layanan dan keselamatan yang diberikan.

 

”Jika terkait keberhasilan pelaksanaan angkutan lebaran. Dari data yang ada, kondisi angkutan lebaran tahun ini tidak lebih baik dibanding  tahun lalu. Ini akan kita evaluasi kenapa masih terjadi,” ujar Wakil Ketua Komisi V DPR RI Yoseph Umarhadi di Jakarta, belum lama ini. 

 

Menurut dia, terdapat  tiga parameter yang telah ditetapkan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan angkutan lebaran. Ketiga parameter itu yakni tingkat kecelakaan dan korban yang rendah, tingkat kemacetan, dan tingkat kenyamanan dan keamanan.

 

Sebelumnya,  Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit sudah memperkirakan  angkutan Lebaran 2008 belum maksimal. Salah satunya ditandai dengan pendeknya waktu persiapan.  Seharusnya  masa persiapan minimal enam bulan, bukan hanya dua bulan. 

 

“Pemerintah harus mengubah paradigma. Rencana operasi penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun ini baru ditandatangani Menhub pada 25 Agustus 2008. Jadi, waktunya memang sangat singkat dan tidak ada terobosan yang berarti padahal jumlah pemudik meningkat,” katanya.

 

Jika melihat data kecelakaan selama musim mudik tahun ini, tercatat terjadi 1.320 kasus kecelakaan dengan korban jiwa mencapai 616 jiwa. Umumnya pelanggaran dilakukan oleh sepeda motor sebanyak 26.656 unit dan mobil pribadi 5.197 unit. Kerugian yang diderita akibat kecelakaan tersebut mencapai sekitar 4,85 miliar rupiah.

 

Sedangkan tahun lalu total kecelakaan lalu-lintas selama arus mudik dan arus balik mencapai 1.875 kasus dan menelan 798 nyawa dengan  total kerugian mencapai  3,28 miliar rupiah.

 

Sementara untuk penetapan tarif, tercatat 98 pelanggaran di moda Bus. “Sebanyak 23 perusahaan dengan melibatkan 34 bus terindikasi melanggar tarif batas atasa. Umumnya untuk rute di jalur Jawa,” ungkap Koordinator Posko Terpadu Angkutan Lebaran 2008 Iskandar Abubakar di Jakarta, Jumat (10/10).

 

Pelanggaran tarif batas  juga terjadi oleh maskapai udara. Di bandara Soekarno-Hatta, dua maskapai, Mandala Airlines dan Kartika Airlines, melakukan hal tersebut.

 

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menjanjikan, operator yang melanggar aturan akan dievaluasi secepat mungkin. “Sanksinya bisa pengurangan rute atau pencabutan. Ini sudah cukup keras karena itu bisa membuat operator kehilangan pelanggannya,” katanya.

 

Berkaitan dengan penilaian pelayanan angkutan mudik Lebaran tahun ini secara keseluruhan, Jusman menilai sudah  cukup baik. “Berdasarkan survei yang dilakukan pasca Lebaran, tingkat kepuasan masyarakat mencapai 60 persen,” katanya.[dni]

 

111008 Setelah Ritual Itu Berlalu

Akhirnya ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia berakhir sudah. Ya, musim mudik yang selalu datang menjelang tutupnya bulan Ramadan, dianggap   telah berakhir Pada Jumat (10/10) oleh negara.

 

Data yang dikeluarkan Departemen Perhubungan menyebutkan pada tahun ini  terjadi peningkatan jumlah pemudik sebesar 4,57 persen atau sekitar 22.271.436 orang dibandingkan tahun lalu dengan 21.296.339 penumpang.

 

Para pemudik itu menggunakan seluruh moda transportasi yang ada, yakni udara, laut, darat, dan kendaraan pribadi. Namun, karena tahun ini pendapatan masyarakat Indonesia mengalami tekanan   akibat kebijakan pemerintah menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada pertengahan tahun ini, perilaku masyarakat memanfaatkan moda transportasi mengalami perubahan dibandingkan tahun lalu.

 

Jika tahun lalu moda udara alias pesawat terbang mengalami peningkatan yang positif, maka tahun ini masyarakat beralih kepada transportasi yang lebih ekonomis dan merakyat yakni moda darat dan laut.

 

Kapal laut pada tahun ini mengangkut 832.973 penumpang atau naik 11,83 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 744.798 penumpang.

 

Moda darat yang menjadi primadona adalah kereta api. Pada musim mudik sekarang, ular besi ini mengangkut 2.446.721 penumpang alias meningkat 8,26 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 2.278.457 penumpang.

 

Padahal, manajemen dari PT Kereta Api Indonesia (KA) hanya menargetkan peningkatan jumlah penumpang sebesar 5 persen dibandingkan tahun lalu. Jika hanya mengalami peningkatan sebesar 5 persen, manajemen perseroan telah memastikan ada uang masuk ke kas perusahaan sebesar 156 miliar rupiah. Tentunya angka tersebut menjadi meningkat, mengingat ada surplus tiga persen.

 

Belum lagi pada tahun ini PT KA juga mengalami panen dengan mengoperasikan kereta api  khusus untuk mengangkut sepeda motor. 

 

Berdasarkan catatan, ongkos pengangkutan sepeda motor dengan KA khusus yang dioperasikan mulai 25 September lalu itu sekitar  100 ribu rupiah per unit dari Stasiun Jakarta Kota ke semua tujuan di Jawa. Antara lain Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Bojonegoro, Lamongan, hingga Stasiiun Pasarturi di Surabaya.Menurut aturannya, setiap unit sepeda motor hanya bisa disertai pendamping sebanyak 4 orang, yang tarifnya dipatok  47 ribu rupiah  per penumpang.

 

 

Koordinator Posko Terpadu Angkutan Lebaran 2008 Iskandar Abubakar mengungkapkan, adanya kereta khusus tersebut membuat kecelakaan yang melibatkan sepeda motor dapat ditekan.

 

Pemudik yang menggunakan sepeda motor sendiri pada tahun ini mencapai 3.203.424 unit atau meningkat 9 persen dibandingkan tahun lalu sekitar 2.961.915 unit.

 

Sementara pemudik yang menggunakan mobil pribadi mencapai 5.094.844 unit atau meningkat 9 persen dibandingkan tahun lalu dengan sekitar 4.683.012 unit.

 

Naiknya penggunaan kendaran pribadi tersebut berdampak kepada tingginya jumlah penggunaan angkutan penyeberangan. Berdasarkan data Angkutan Sungai dan Penyeberangan (ASDP) terjadi kenaikan jumlah orang yang diseberangkan sebesar 20,83 persen atau 3.111.400 orang dibandingkan tahun lalu sekitar 2.575.006 orang.

 

Direktur Indonesia Ferry  Bambang Soerjanto mengungkapkan, titik penyeberangan yang paling tinggi terjadi di Merak-Bakauheni. Sebanyak 98 trip peneyberangan dilakukan melalui area tersebut. Padahal, tahun-tahun sebelumya wilayah operasi tersebut hanya mampu melayani 79 trip.

 

Moda darat yang masih belum menunjukkan kenaikan adalah bus umum. Pada tahun ini bus umum hanya mengangkut 6.043.901 penumpang atau turun 4 persen dibanding tahun lalu sekitar 6.258.100 penumpang.

 

“Jumlah penumpang bus itu turun terus karena banyak perusahaan yang melakukan mudik bareng gratis. Jadi, beberapa pengusaha menangguk, lainya merana,” kata Iskandar.

 

Udara Merana

Hal yang mengejutkan adalah menurunnya jumlah penumpang pesawat udara. Sebelumnya, banyak pihak optimistis sekali moda tersebut akan mengalami kenaikan jumlah penumpang sebesar 9 persen dibandingkan tahun lalu.

 

Apa lacur, kenyataan berbicara lain. Tahun ini moda angkutan udara hanya mengangkut 1.518.173 penumpang atau turun 18 persen dibandingkan tahun lalu dengan 1.842.789 penumpang.

 

Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin mengungkapkan,  pengguna moda transportasi udara selama  Lebaran tahun ini hanya berasal dari masyarakat menengah ke atas.

 

Menurut dia, masyarakat menengah ke bawah memilih menggunakan moda transportasi lain menyusul pengenaan tarif penerbangan yang lebih tinggi dibandingkan hari biasa.

 

Hal tersebut tak dapat dilepaskan dari kebijakan maskapai  untuk mengurangi kerugian ditengah melonjaknya harga bahan bakar pesawat.  Selain itu,  pengenaan tarif penerbangan lebih tinggi juga  untuk menutupi biaya operasional.

 

“Ini karena saat mudik Lebaran pesawat berangkat penuh penumpang tetapi di waktu pulangnya kosong,” papar Burhanuddin.

 

Dia menduga, setidaknya 150.000 penumpang pesawat selama Lebaran tahun ini yang berasal dari masyarakat menengah ke bawah beralih menggunakan moda kereta api atau kapal laut.

 

Burhanuddin memperkirakan, turunnya penggunaan moda udara selama Lebaran akan  mempengaruhi total jumlah penumpang selama tahun ini.  “Total jumlah penumpang selama 2008 saya perkirakan tertekan,” ungkapnya.

 

Dia juga memprediksikan pendapatan maskapai nasional selama Lebaran tahun ini tak jauh berbeda dengan Lebaran 2007. Sebelumnya, salah satu maskapai nasional, Garuda Indonesia memprediksi  mampu meraup 825 miliar rupiah selama masa Lebaran ini. Hal itu berdasarkan tingkat isian yang mecapai 90 persen ketika memasuki seminggu sebelum Lebaran.

 

Jika untuk mudik ke daerah asal masyarakat tidak menggunakan pesawat udara. Tidak demikan halnya bagi yang ingin berlibur ke luar negeri. Tercatat,  di empat bandara  yakni Soekarno-Hatta Jakarta, Polonia Medan, Juanda Surabaya dan Ngurah Rai Denpasar di hari tertentu selama Lebaran tahun ini menunjukkan  kenaikan sebesar 25 persen.

 

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan fenomena kenaikan arus penumpang angkutan udara internasional terjadi karena banyak pemudik yang memilih berlibur ke luar negeri.  Selain itu, harga tiket pesawat ke luar negeri yang tak terpaut jauh dengan harga tiket penerbangan domestik memicu juga eksodus pemudik ke luar negeri.

 

 

Peningkatan jumlah penumpang tujuan luar negeri diakomodasi sejumlah maskapai asing menambah frekuensi penerbangan internasional seiring tingginya calon penumpang yang akan berlibur ke mancanegara.

 

Sedikitnya tujuh maskapai asing yang mengajukan penerbangan tambahan ke sejumlah kota di Indonesia selama musim angkutan Lebaran tahun ini. Ketujuh maskapai itu, yakni Singapore Airlines, China Airlines, Korean Air, Silk Air, Cathay Pacific, Air China, dan Malaysia Airlines.

 

Melihat fenomena penggunaan moda transportasi selama mudik tahun ini, memperlihatkan masyarakat mulai rasional dalam menjalankan ritualnya. Ini semua tak dapat dilepaskan dari keinginan mengelola pendapatan agar selama di kampung halaman masih bisa berbagi dengan kerabat. Bukannya kantong makin tipis hanya untuk moda transportasi.[dni]