101008 IISIA Waspadai “Muntahan” Ekspor

Para pengusaha baja yang tergabung di dalam Indonesian Iron and Steel Indistry Association (IISIA) meminta pemerintah untuk mewaspadai masuknya produk baja “muntahan” ekspor yang berasal dari negara Asia Timur ke dalam negeri.

 

“Muntahan” ekspor yang dimaksud adalah masuknya produk yang   seharusnya dari negara asal dikirim ke Amerika Serikat (AS), namun melihat kondisi ekonomi negara tersebut yang sedang krisis, pengiriman sengaja  dibelokkan ke Indonesia.

 

Negara yang diwaspadai melakukan tindakan semacam itu adalah China. Hal ini mengingat produksi bajanya bisa mencapai 500 juta ton per tahunnya. Angka itu bak langit dan bumi dengan produksi nasional yang hanya berkisar   6,36 juta ton atau naik enam persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai enam juta ton.

 

“Pemerintah harus melindungi produsen dalam negeri dari tindakan yang merugikan mereka. Saya rasa ini sudah dihimbau oleh Presiden. Tinggal bawahannya harus mengimplementasikan secara konsisten,” kata  Direktur Eksekutif Komite Indonesian Iron and Steel Indistry Association (IISIA), Hidajat Triseputro kepada Koran Jakarta, Rabu (9/10).

 

Diungkapkannya, selama ini memang  telah ada produk hasil impor ilegal yang beredar di pasar tanpa diketahui besaran yang pasti jumlahnya. ”Barang itu ada dan bisa dirasakan tetapi tidak bisa dihitung. Terus terang ini menganggu pengusaha nasional,” katanya.

 

Biasanya produk tersebut masuk dengan menumpang impor barang untuk industri. Seperti pipa dan seng yang diimpor dimana serial number-nya disamakan tetapi dicampur antara kebutuhan komersial dan industri. ”Polanya seperti itu yang ditemukenali di lapangan,” katanya.

 

 Dikatakannya, saat ini pengusaha nasional sangat bergantung kepada komitmen dari pemerintah mengingat dampak dari krisis ekonomi di AS bisa saja menjalar ke sektor baja nasional.

 

 ”Produksi kita banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur nasional, ekspor tidak lebih dari 20 persen. Biaya proyek itu hampir semuanya  dari anggaran belanja negara. Kita harapkan pemerintah tetap komitmen untuk menjalankan proyek agar industri baja tetap bernapas,” jelasnya.

 

Sementara untuk pembangunan yang dibiayai oleh swasta, Hidajat mengharapkan, Bank Indonesia tidak terlalu tinggi menaikkan suku bunga. ”Jika BI rate tinggi biasanya terjadi pengetatan uang. Ini bisa membahayakan sektor hilir di baja,” katanya.

 

Ketika ditanya tentang meningkatkan nilai ekspor baja, Hidajat mengatakan, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi mengingat saat ini nilai tukar rupiah sedang turun. ”Layaknya krisis pada 1998, justru ekspor meningkat karena produk Indonesia punya nilai kompetitif di luar negeri yakni harganya lebih murah. Kita lihat saja perkembangannya ke depan,” tuturnya.

 

Berdasarkan catatan, utilitas pabrik baja nasional pada tahun lalu baru mencapai 60 persen. Hal ini tak dapat dilepaskan dari masih rendahnya konsumsi baja yang baru mencapai 30 Kg per kapita per tahun. Berbeda dengan  negara tetangga seperti Malaysia yang bisa mencapai tiga setengah kali lipatnya.   

 

Rendahnya konsumsi baja tersebut membuat nilai pasar dari baja nasional pada tahun lalu hanya mencapai 60 hingga 66 triliun rupaih  untuk  sektor hulu dan hilir dengan asumsi harga baja sekitar 10 hingga 11 ribu rupiah per kilogramnya.[dni] 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s