091008 Inovasi yang Sarat Kontroversi

Ketika pertama kali diperkenalkan oleh Telkom pada kuartal ketiga 2006 lalu, layanan FlexiCombo langsung disambut kontroversi. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) langsung turun tangan dan menyatakan layanan tersebut melanggar aturan.

 

“Saat itu kita langsung meminta Telkom  melakukan perbaikan layanan yang dimilikinya. Khususnya masalah penomoran dan masa berlaku agar sesuai dengan regulasi,” tegas Anggota Komite BRTI Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Selasa (7/10).

 

Dijelaskan Heru, layanan FlexiCombo pada awalnya jelas-jelas sekali melanggar aturan yakni Kepmenhub No. 35/2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas. Telkom saat itu memberlakukan nomor kode area kota asal bisa berlaku di luar kota. Selain itu masa berlakunya tidak jelas.

 

“Estela diawasi secara lebih ketat dan diperbaiki baru kita memperbolehkan layanan itu digelar kembali,” jelasnya.

 

Heru mengakui, fenomena dari call forwarding tidak dapat dicegah mengingat teknologi mendukung hal tersebut. “Teknologi CDMA  adalah  wireless mobile.  Jadi mau dikebiri seperti apapun dengan regulasi, teknologi ini tidak bisa ditahan untuk bisa di-mobile-kan,” tuturnya.

 

“Solusi yang mungkin diterapkan adalah menjalankan lisensi tunggal alias unified access (UA) seperti di India,” jelasnya.

 

UA adalah lisensi yang memungkinkan operator menyelenggarakan dua layanan, seluler dan Fixed Wireless Acsess (FWA) secara bersamaan. “Masalahnya di India operator disana dari limited mobility ingin menjadi full mobility. Tetapi di Indonesia yang terjadi sebaliknya. Inilah peliknya,” katanya.

 

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengakui UA adalah solusi yang terbaik. Tetapi untuk menjalankan hal tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan mengingat  saat ini FWA dan seluler sudah merupakan on-going business sehingga perubahan skema regulasi yang signifikan bisa mempengaruhi nilai perusahaan.

 

“Hampir semua operator adalah perusahaan publik. Nantinya dikhawatirkan beleid tersebut  merugikan atau menguntungkan operator tertentu saja,” katanya. 

 

Masalah lain yang akan menghambat adalah tentang penomoran.   Komplikasi sistem penomoran FWA dan seluler  sangat  berbeda.   FWA mengikuti penomoran PSTN dgn kode area, sementara seluler dengan prefix yang sama secara nasional. Hal ini   akan mempengaruhi hirarki topologi jaringan dan pada akhirnya mempengaruhi sistem interkoneksi. “Lagi-lagi  karena sudah komersial dan on-going business maka perubahan penomoran tidak gampang dilakukan,” jelasnya. 

 

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys menegaskan, masalah call forwarding tersebut hanya bergantung kepada kemauan dari regulator menegakkan aturan.

 

“UA itu terlalu besar untuk mengatasi masalah sederhana ini. Ibaratnya ingin membunuh nyamuk tetapi menggunakan granat,” katanya.

 

Menurut Merza,  regulator hanya perlu  mengembalikan FWA kepada khittah yakni telepon lokal yang tidak bisa menjelajah kemana-mana. “ Kebutuhan FWA yang sesuai lisensi itu  tetap ada mengingat ketersediaan telepon tetap lokal masih rendah dan dibutuhkan waktu dan biaya yg cukup besar untuk mengadakannya,” katanya.

 

Jika  penyelenggara FWA ingin ber-roaming ria, Merza menyarankan, operator tersebut mengantongi dua lisensi yakni  seluler dan FWA  layaknya Mobile-8 Telecom dengan Fren dan Hepi. ‘Itu kan jelas biaya hak penggunaan (BHP) frekuensinya. Jadinya persaingannya jelas,” katanya.

 

Merza mengkhawatirkan, jika kondisi abu-abu ini dibiarkan  akan  membuat masyarakat tidak bisa membedakan lisensi seluler dan FWA. Hal ini karena  keduanya bisa digunakan untuk berkomunikasi sehingga tidak jelas faktor pembedanya.

 

“Sekarang ini kan seperti pembodohan publik. Pembedaan hanya karena satu nomornya panjang, lainnya pendek. Sampai kapan kondisi ini dibiarkan. Yang lebih mengherankan saya untuk masalah call forwarding kenapa regulator tidak segalak masalah lainnya. Ada apa ini?” tanyanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s