Tarif SMS Tetap Mahal

Tarif SMS untuk lintas operator hingga akhir tahun ini diperkirakan tetap akan mahal karena pemerintah mempertahankan pola sender keep all (SKA) bagi layanan tersebut.

 

Menkominfo, Muhammad Nuh menjelaskan, dipertahankannya pola SKA karena pemerintah menilai SMS bagian dari layanan nilai tambah operator sehingga belum diatur dalam undang-undang.

 

“Formulasi tarif interkoneksi baru yang dikeluarkan kemarin memang tidak menyentuh SMS meskipun   kita sudah menghitung tarif  produksi SMS sekarang menurun menjadi   Rp 52,” jelasnya di Jakarta, Jumat (8/2).

 

Untuk diketahui, pola SKA merupakan skema pentarifan yang tidak meminta bagi hasil dalam operasionalnya, meskipun dari sisi teknis membutuhkan interkoneksi.  Jadinya, setiap SMS yang dikirim pelanggan, uang masuk ke operator pengirim tanpa dibagi ke operator penerima. Skema ini dipilih operator karena  beranggapan setiap pengiriman SMS akan dibalas dengan SMS juga.

 

Namun, belakangan pola SKA ini  memunculkan dugaan terjadinya kartel tarif karena SMS untuk lintas operator seragam yakni Rp 250-Rp 350. Padahal,  biaya produksi SMS berdasarkan Draft Penawaran Interkoneksi  (DPI) 2006 sebesar Rp 74.

 

Para operator berkilah seragamnya tariff SMS untuk menjaga jaringan mereka dari pengiriman SMS sampah. Dugaan kartel tersebut saat ini sedang diperiksa Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan terperiksa sembilan operator berikut Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI). Sembilan operator itu adalah Telkomsel, Indosat, XL, Mobile-8, HCPT, Smart Telecom, Bakrie Telecom, Telkom, dan NTS.

 

Selanjutnya Nuh menjelaskan, jika tarif SMS diatur berdasarkan biaya (Cost based)    akan memberatkan operator dari sisi billing connection karena membutuhkan   investasi tambahan. ‘Ke depan rencananya akan diatur dalam cost based setelah kita memiliki atruan SMS dalam undang-undang, termasuk SMS premium,” katanya.

 

Secara terpisah, Anggota Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia, Srijanto Tjokrosudarmo mengatakan, tariff SMS hingga akhir tahun nanti tetap akan mahal yakni bermain di angka Rp 200 hingga Rp 250. “Operator akan berkilah mereka telah menurunkan tarif sebesar 20 persen, padahal kita tahu biaya produksi terbaru Rp 52,” katanya.

 

Dia meminta pemerintah tegas dalam mengatur tariff SMS karena layanan ini secara signifikan menjadi penyumbang pendapatan operator sebesar 30 persen.”Nominal SMS memang kelihatn kecil, tetapi di saat ari-hari pentisng seperti hari raya, operator bisa meraup miliaran. Dan itu hanya dalam satu hari lho,” jelasnya. [DN]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s