091008 Roaming Semu Mulai Bersinar

Pada Lebaran lalu ada fenomena menarik yang patut dicatat. Penggunaan jasa pesan singkat (SMS) dan suara milik operator yang mengantongi lisensi Fixed Wíreles Access (FWA) mengalami peningkatan secara signifikan.

 

Tercatat, Bakrie Telecom sebagai pemegang merek dagang Esia mengalami lonjakan SMS pada hari H Lebaran sebanyak  54 juta SMS alias naik 35 persen dari biasanya mengirim 40 juta SMS per hari oleh sekitar lima jutaan pelanggannya.

 

Sementara Telkom yang mengusung TelkomFlexi  mengaku ada peningkatan dua hingga tiga kali lipat pengiriman SMS oleh pelanggannya hanya saat hari Lebaran.

 

Flexi yang digunakan 9 juta pelanggan menurut Telkom ternyata berhasil  mengirim 189 juta SMS saat hari Lebaran dibandingkan hari biasa yang bermain di angka 63 juta SMS per hari.

 

Jika dihitung secara kasar berbasiskan penawaran tarif interkoneksi secara rata-rata untuk layanan SMS, maka dalam waktu satu hari Bakrie Telecom berhasil meraup 7,452 miliar rupiah dan  Telkom  26,08 miliar rupiah  hanya dari jasa SMS.

 

Nilai rupiah  tersebut didapat dengan mengambil rata-rata tarif SMS berdasarkan penawaran biaya interkoneksi yakni 138 rupiah dan dikalikan dengan total perolehan kiriman SMS masing-masing operator

 

Angka tersebut baru dari jasa SMS. Belum lagi dari suara yang diklaim juga ada peningkatan. Kasak-kusuk mengatakan ada kenaikan trafik suara di kedua operator untuk wilayah mudik meskipun pelanggannya meninggalkan basis area gemuk selama ini, Jakarta.

 

Memang, angka tersebut jika dibandingkan dengan perolehan jasa SMS Telkomsel dan Indosat saat Lebaran tidak ada apa-apanya.  Indosat dari jasa SMS  berhasil meraih keuntungan total sekitar 147 miliar rupiah sejak H-2 hingga H+1. Sementara Telkomsel diperkirakan meraup 69 miliar rupiah hanya saat hari Lebaran saja.

 

Indosat mulai dari dua hari menjelang Lebaran hingga H+1. Indosat dengan 32 juta pelanggan yang dimilikinya  pada dua hari menjelang Lebaran melayani 214 juta SMS. Berikutnya  pada H-1 terdapat sekitar 314 juta SMS, saat Lebaran terkirim 312 juta SMS, dan pada H+1 terdapat  225,3 juta SMS.

 

Sedangkan Telkomsel mengklaim sebanyak 58 juta pelanggannya  mengirimkan 500 juta SMS saat Lebaran lalu atau naik dua kali lipat dari rata-rata 250 juta SMS per hari.  

 

Kinerja dari jasa SMS operator FWA justru menyaingi XL. Operator ketiga terbesar  yang memiliki 22,9 juta pelanggan pada hari H-1 dan Lebaran berhasil mengirimkan total lebih dari 200 juta SMS. Jika dilihat lebih jauh, maka kenaikan jumlah pengiriman SMS di XL hanya sekitar 66 persen dibandingkan hari-hari biasa dimana operator ini melayani 60 juta SMS.

 

Hal itu membuat  selama dua hari,  XL berhasil mendapatkan pendapatan dari jasa SMS sebesar 27,6 miliar rupiah. Angka itu hanya berselisih sekitar satu miliar rupiah dari raihan Telkom.

 

Roaming Semu

Keberhasilan pemilik lisensi FWA mengeruk keuntungan yang hampir menyerupai pemegang lisensi seluler tahun ini tentu tak dapat dilepaskan dari mulai bersinarnya layanan roaming semu yakni  inovási call forwarding.

 

Secara teknis call forwarding ádalah teknologi yang memungkinkan panggilan atau pengiriman SMS untuk nomor  telepon  tetap (pontap) diterima pelanggannya meskipun sedang  berada di luar kode area nomor tersebut. Jika disederhanakan, layanan ini semacam fasilitas roaming ala penyelenggara  seluler. 

 

Telkom menamakan inovasi  tersebut dengan nama FlexiCombo. Sementara Bakrie Telecom menamakannya Esia Go Go. Keduanya diperkenalkan pada kuartal ketiga  2006 lalu. Terakhir, Indosat yang sebelumnya terkesan menentang layanan sejenis, ikut-ikutan menyelenggarakannya untuk StarOne.

 

Saat pertama kali diperkenalkan layanan ini belum begitu diminati pelanggan. Namun, pada Lebaran tahun lalu tanda-tanda layanan ini bisa menjadi senjata untuk memikat pelanggan tetap setia menggunakan layanan FWA mulai terlihat.

 

Tercatat, layanan SMS TelkomFlexi mulai meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa saat Lebaran 2007. Hal ini karena aktivasi Flexicombo yang meningkat secara signifikan.

 

Bagi pelanggan FWA, adanya roaming semu ini sangat membantu  mengingat secara prinsip lisensi, roaming   mutlak diselenggarakan operator seluler.

 

Jika mengacu pada Kepmenhub No. 35/2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas, FWA adalah  penyelenggaran telekomunikasi yang diperbolehkan sesuai dengan kode area miliknya.

 

Singkatnya, jika pemilik Flexi dan Esia menggunakan nomor dengan kode area 021 (Jakarta), seharusnya pelanggan hanya boleh menggunakan nomor tersebut hanya di wilayah tersebut, tidak boleh membawanya ke luar kode area.

 

Di sinilah bedanya dengan seluler. Di seluler  prefix number yang digunakan berlaku nasional, maka layanan ini  bisa memanfaatkan teknologi roaming otomatis tanpa perlu aktivasi call forwarding.

 

“Untuk kenyamanan berkomunikasi memang  call forwarding menguntungkan pelanggan. Tetapi sebenarnya jika ditelisik pentarifannya tidaklah semurah jika nomor digunakan dalam kode area sendiri,” ungkap Sekjen Indonesia Telecommunication Users Group (IDTUG) Muhammad Jumadi Idris kepada Koran Jakarta, Rabu (8/10).

 

Dijelaskannya, karena berada di luar kode area yang berlaku adalah tarif lokal kota setempat ditambah biaya call forwarding. Misalnya, untuk Telkom dikenakan biaya call forwarding 250 rupiah per menit atau   50 per menit untuk sesama pengguna Esia.

 

Bahkan ketika pelanggan menggunakan telepon pun pulsa dipotong. Sementara di seluler hal tersebut sudah tidak terjadi karena operator sudah menggratiskan biaya roaming.

 

Jika mengacu pada paparan dari Jumadi tersebut, maka siap-siap saja mata terbelalak melihat pendapatan yang diterima kedua operator di atas dari inovasi tersebut.

 

 Pasalnya,  Telkom saja mencatat ada  1.001.517 nomor yang diaktifkan fasilitas Combo-nya. Angka tersebut   melonjak signifikan  dibandingkan hari biasa yang rata-rata mencapai 60.000 nomor.

 

Jika diasumsikan ada peningkatan trafik suara dua kali lipat saat Lebaran lalu maka pululan miliar mengalir deras ke kantong Telkom hanya dari biaya call forwarding.

 

Seluler Pasrah

Melihat sepak terjang dari layanan FWA melalui call forwarding yang menunjukkan sinar terang pada Lebaran tahun ini, para pemain seluler hanya bisa pasrah.

 

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengatakan inovasi tersebut sejak pertama kali diluncurkan telah menuai kritik panas. Hal ini karena bertentangan dengan Kepmenhub 35/2004 terutama  pasal dua, tiga dan empat.

 

Pasal-pasal tersebut secara tegas mengatakan  Penyelenggaraan jaringan tetap lokal tanpa kabel dengan mobilitas terbatas merupakan bagian dari penyelenggaraan jaringan tetap lokal dengan mobilitas terbatas dibatasi maksimum pada satu kode area layanan jaringan tetap lokal.

 

Berikutnya ditegaskan, penyelenggara jaringan tetap lokal tanpa kabel dengan mobilitas terbatas dilarang membuka fasilitas jelajah antar kode wilayah layanan yang berbeda. Dan  setiap nomor pelanggan hanya dapat terdaftar pada satu daerah operasi dan tidak dapat digunakan di luar daerah operasinya.

 

“Saya yakin bahwa di hati nurani semua pihak , baik regulator maupun pemain , sangat menyadari bahwa ada yang salah dalam implementasi FWA selama  ini. Namur, dalam setiap diskusi ataupun  forum-forum resmi selalu ada pihak-pihak  yang selalu mencari pembenarannya dengan menggunakan logika teknik maupun bisnis,” sesalnya.

 

 

Menurut Merza, secara  kasat mata jelas sekali ada pelanggaran aturan mengingat FWA memberikan fasilitas roaming. “Tetapi semua berkilah itu bukan roaming tetapi mengganti nomor baru. Kalau  yang membuat dan punya peraturan  tidak merasakan aturannya tersebut sudah dilanggar, terus  kami-kami ini  bisa apa”? tanyanya

 

Segendang sepenarian dengan Merza, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro hanya bisa pasrah melihat kondisi saat ini. “Regulator sudah  menetapkan bahwa “roaming” FWA dengan pemberian nomor lokal dapat diterima. Terus kita mau apa lagi,” katanya.

 

Secara terpisah, Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi mengaku tidak khawatir dengan sepak terjang pemain FWA melalui innováis call forwarding karena setiap layanan memiliki segmen masing-masing.

 

“Tetapi memang alangkah eloknya jika playing field kompetisinya sama. Ini tentu akan lebih menguntungkan pelanggan,” katanya.

 

Kesetaraan cara bersaing yang disuarakan Hasnul tentunya tak dapat dilepaskan dari ketimpangan skema  tarif FWA selama ini yang berada di area abu-abu. 

 

Untuk diketahui, karena menyelanggarakan layanan Pontap maka FWA hanya membayar biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi seperdelapan dari seluler. Ujung-ujungnya, FWA dapat memberikan tarif pungut lebih murah ke pelanggan ketimbang seluler. Dan operator FWA melalui komunikasi pemasarannya berhasil mengaburkan  prinsip lisensi sehingga semakin memojokkan pemain seluler mengingat tarif mereka lebih mahal. 

 

Menanggapi hal itu, Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengajak semua pihak untuk lebih bijaksana melihat kondisi yang ada sekarang ini,”Ini isu lama. Kenapa diangkat lagi. Di tataran regulator sudah firm kok. Selain itu semua punya segmen masing-masing”.

 

Menurut Rakhmat, masalah call forwarding tidak perlu ditakutkan karena secara sistem tetap kalah ketimbang roaming milik seluler. “Kan setiap pindah kota harus diaktifkan melalui SMS. Tidak senyaman seluler penggunaannya. Selain itu tujuan dari layanan ini untuk menjamin kenyamanan pelanggan berkomunikasi, apa salahnya,” katanya.

 

Sebaliknya VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menegaskan, fasilitas call forwarding memang untuk membangun citra bahwa TelkomFlexi bisa menunjang mobilitas pelanggan.

 

“Kenaikan jumlah aktifasi combo itu menunjukkan kerja keras membangun citra positif itu berhasil Sekarang pelanggan paham kalau Flexi bisa dibawa kemana-mana,” katanya. [dni]

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s