050308 Jalan Berliku Menuju Era Dompet Digital

Pada akhir November 2007 lalu, Telkomsel menawarkan suatu inovasi yang belum pernah ada di dunia seluler Indonesia yakni menyediakan layanan dompet digital yang dikemas dengan merek T-Cash.

 

Dompet digital adalah layanan yang  memungkinkan ponsel  berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang  yang bisa digunakan  bertransaksi dengan cara yang mudah, cepat, dan aman. 

 

Di luar negeri, layanan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru. Terutama di negeri yang penetrasi selulernya mendekati titik jenuh seperti   Jepang, Hong Kong, Afrika Selatan, atau Filipina.

 

Layanan ini berbeda dengan SMS Banking atau Mobile Banking dimana ponsel hanya jadi semacam pengganti alat Electronic Device Capture (EDC) atau Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Bahkan juga bukan pulsa yang menjadi pengganti uang.

 

Dalam dompet digital, setiap transaksi yang dilakukan akan langsung mengurangi saldo yang tersimpan dalam rekening ponsel. Sedangkan untuk proses kliringnya diselesaikan melalui back office bank rekanan operator. Sederhananya, cara kerja dari dompet digital ini mirip dengan kartu bermain di arena video game. Dimana kita diwajibkan mengisi saldo di kartu terlebih dulu, baru   bisa bermain.

 

“Di Taman Safari Afrika Selatan, saya sampai kaget melihat orang  bisa bertransaksi melalui dompet digital. Mereka tidak membawa apa-apa cukup menggesekkan ponsel ke mesin pemindai setelah itu  masuk ke wahana. Sungguh luar biasa,” ungkap Direktur Utama Telkomsel, Kiskenda Suriahardja.

 

Kiskenda mencoba menularkan ketakjubannya pada masyarakat Indonesia. Tak tanggung-tanggung, dana sebesar US$ 50 juta dibenamkan oleh Telkomsel guna mengembangkan layanan ini. Dia optimistis, dalam waktu dua tahun dana itu akan kembali jika sepanjang tahun ini ada 5 juta pelanggan yang menggunakan layanan tersebut.

 

“Kita berasumsi sehari ada tiga kali transaksi dari setiap pelanggan. Untuk tahap awal T-Cash bisa digunakan di Modern Photo dan Indomaret,” jelasnya.

 

Dia menyakini, jika dompet digital ini berhasil diimplementasikan akan mampu membuat masyarakat yang belum memiliki rekening bank menjadi bankable, serta akan mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat.

 

Sedangkan bagi industri  akan membuat penurunan pendapatan per bulan dari pelanggan  menjadi tertahan berkat volume transaksi value added services (VAS) yang meningkat. Sementara untuk dunia bank ini akan menghemat biaya investasi mereka membuka cabang di daerah terpencil.

 

“Jangkauan seluler mencapai pelosok. Tak mungkin bank membuka cabang di kaki gunung. Jika dompet digital diterapkan mereka bisa bertransaksi tanpa harus ke bank. Ini akan memacu pertumbuhan ekonomi mikro,” katanya.

 

Associate Operation officer International Finance Corporation, A Bido Budiman mengatakan, dari 80 juta pelanggan seluler di Indonesia saat ini baru setengahnya yang memiliki rekening bank. “Berarti ada setengahnya lagi yang menjadi potensi layanan ini. Bayangkan jika berhasil mewujudkan hal itu,” jelasnya.

 

Model Bisnis  

Bido mengatakan, di luar negeri layanan ini memiliki tiga model bisnis yakni operator telekomunikasi yang menjadi pemimpin (Led by operator), Bank yang menjadi pemimpin (Led by Bank), atau dijalankan oleh pihak ketiga (led byIndependent Service Provider led).

 

Model bisnis operator telekomunikasi yang menjadi pemimpin adalah operator bertindak sebagai penyedia jaringan dan bank hanya membereskan settlement administrasi. Model bisnis ini diterapkan di Filipina oleh operator Globe dengan merek dagangnya G-Cash.

 

Sementara model bisnis bank yang menjadi pemimpin adalah Bank yang menawarkan produk dimana jaringan operator hanya menjadi pendukung. Model seperti ini di jalankan di Afrika Selatan. Terakhir adalah menyerahkan kepada pihak ketiga untuk mengelola, model ini dijalankan di Tanzania.

 

Di Filipina, dompet digital ini mampu menolong 96,7 persen pengusaha menengah, kecil dan mikro-nya bertransaksi. Hal ini tak dapat dilepaskan karena 4,1 juta keluarga menengah ke bawah di Filipina beraktivitas di sektor riil.

 

Kiskenda mengatakan, untuk di Indonesia lebih baik menciptakan model sendiri yakni menghormati spesialisasi masing-masing pihak. Dengan kata lain, dia meminta Bank untuk berfungsi sesuai dengan porsinya dalam menyediakan dompet digital, sedangkan untuk penyediaan jaringan diserahkan ke operator. “Untuk pemasaran bisa dikerjakan bersama-sama,” katanya.

 

Tantangan

 Tidak ada jalan yang mulus untuk sesuatu yang baru dan hal ini pun disadari oleh keduanya. Di Indonesia yang paling berat tantangannya karena tidak ada regulasi yang mengatur produk ini. Memang, Telkomsel berani mengeluarkan produk ini setelah mengantongi izin mengeluarkan  Alat Pembayaran
Menggunakan Kartu (APMK) dari Bank Indonesia. Selain Telkomsel, Indosat pun sudah mengantongi APMK dan berencana akan mengeluarkan layanan dompet digital pada akhir kuartal pertama tahun ini.

 

Namun ternyata APMK saja belum cukup. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) langsung mengingatkan masyarakat bahwa APMK    tidak ada apa-apanya tanpa UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

 

“Di telekomunikasi itu akan ada UU  ITE  yang membahas juga tentang uang digital. Saya sarankan operator jangan terburu-buru menyelenggarakan layanan ini sebelum UU ITE disahkan pada tahun ini,” kata Anggota BRTI, Herry Nugroho.

 

Menurut dia, payung hukum ini menjadi penting agar masyarakat mendapatkan perlindungan jika ada kerugian yang diderita. “Jika operator berbasiskan APMK, siapa yang akan menangani keluhan pelanggan. BRTI tidak bisa masuk karena bukan kita yang menerbitkan izin,” jelasnya.

 

Dikatakan, untuk mempersiapkan aturan tentang uang digital, baru-baru ini BRTI telah berdiskusi dengan BI untuk mensinergikan aturan.” BI sendiri ketika dijelaskan konsep uang digital versi telekomunikasi jadi bingung sendiri. Kalau begini keadaannya, sebaiknya operator bersabar sebelum menjalankannya,” tegasnya.

 

Menurut Bido, sebenarnya domain uang digital ini lebih banyak kepada Bank Indonesia daripada departemen teknis, Pos dan Telekomunikasi. Karena itu, APMK saja sudah cukup. Namun, dia juga senang jika UU ITE secepatnya disahkan agar kepastian hukumnya menjadi berlapis.

 

“Yang perlu diperbaiki itu adalah aturan di Bank Indonesia yang hanya membolehkan transaksi antarindividu minimal sebesar US$ 1.00,” katanya.

 

Jika nominalnya hanya sebesar itu, katanya, tentunya akan tidak ada gunanya dompet digital bagi   usaha mikro karena  seharinya mereka miniimal bertransaksi   mencapai US$ 1.000. ”Bagi saya yang penting kita jalan dulu. Sambil jalan jika ada masalah diperbaiki,” katanya.

 

Telkomsel pun sepertinya menyadari hal tersebut. Terbukti, operator ini belum berani menggelar T-Cash secara online. Dengan kata lain, Telkomsel hanya memaksimalkan izin APMK-nya. “Kita berani menerapkan sepenuhnya layaknya di Afrika Selatan jika ada UU ITE,” kata Kiskenda.

 

Mengedukasi pelanggan, lanjutnya, merupakan langkah awal untuk membuat layanan ini dapat diterima masyarakat. Jika itu terwujud akan berdampak kepada besarnya keinginan dari merchant-merchant untuk bergabung dalam jaringan T-cash.”Budaya dan merchant yang luas syarat lain dari suksesnya layanan ini,” katanya.

 

UU ITE rencananya akan disahkan pada April nanti. Pembahasan rancangan UU ini sudah memakan waktu dua tahun. Jika pada April nanti, belum juga disahkan, maka semakin berlikulah jalan bagi anak bangsa menuju era dompet digital.[DNI]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s