030308 DPI Operator Dominan Harus Mendapat Persetujuan BRTI

Draft Penawaran Interkoneksi (DPI) milik operator dominan harus mendapatkan persetujuan dari regulator guna menjaga persaingan yang sehat di industri telekomunikasi.

 

DPI adalah dokumen yang memuat aspek teknis, operasional, dan  ekonomis dari penyediaan layanan interkoneksi yang ditawarkan oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi kepada penyelenggara jaringan  lainnya.

 

Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel, Gatot S Dewa Broto menjelaskan, kebijakan tersebut memiliki dasar hukum yakni Keputusan Dirjen Postel No. 219/DIRJEN/2007. Dalam aturan tersebut ditetapkan setiap penyelenggara  jaringan telekomunikasi dengan pendapatan usaha sebesar  25 persen  atau lebih dari total pendapatan usaha seluruh penyelenggara telekomunikasi dalam segmentasi layanan, diwajibkan DPI-nya mendapatkan persetujuan dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

 

Jika merujuk kepada  keputusan tersebut maka  Telkom, Telkomsel, dan Indosat diwajibkan DPI-nya disetujui BRTI. Telkom selama ini dikenal sebagai penguasa pasar   layanan   telepon tetap lokal, Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), dan Sambungan Langsung Internasional (SLI) dengan pangsa pasar di rata-rata di atas 60 persen. Indosat untuk SLI dengan pangsa pasar 50 persen. Sedangkan Telkomsel di seluler dengan pangsa pasar 56 persen.

 

Hingga 27 Februari lalu   XL,   Bakrie Telecom, Smart Telecom, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia,  Hutchison CP Telecommunicatios,   Mobile-8,  Telkom, Telkomsel, dan  Pasifik Satelit Nusantara telah menyerahkan DPI kepada regulator. Dua operator yang belum menyerahkan DPI yakni Natrindo Telepon Seluler (NTS) dan Batam Bintan Telecommunication.

 

“Kami masih menunggu DPI dari dua operator tersebut. Setelah semua DPI terkumpul, operator non dominan diberikan kesempatan untuk menilai DPI operator dominan,” katanya kepada KORAN JAKARTA, Senin (3/3).

 

Masukan dari operator non dominan, lanjutnya, diperlukan untuk menilai apakah operator dominan sudah membuka interkoneksi di titik-titik yang dianggap dibutuhkan oleh para non dominan. “Jadi, kita tidak membiarkan saja data tunggal dari operator dominan dimakan mentah-mentah. Kita menunggu masukan dari operator non dominan setelah 20 hari kerja,” katanya.

 

Anggota BRTI, Heru Sutadi membantah, keharusan DPI operator dominan disetujui regulator membuat mereka tidak mendapatkan medan persaingan yang seimbang. “Dalam sistem interkoneksi, operator dominan lebih berposisi sebagai penyedia akses,” katanya.

 

Dijelaskan, tingkat interkoneksi dengan operator dominan sangatlah tinggi. Misalnya, Telkomsel dengan 21.000 BTS yang memiliki 50 juta pelanggan. Hal ini berarti ada dua pertiga dari jumlah pelanggan operator non dominan yang akan berhubungan dengan jaringan Telkomsel. Jika Telkomsel membuka titik interkoneksi terbatas, tentunya tidak membuka ruang kompetisi bagi pesaing.

 

“Dari DPI yang ditawarkan akan ketahuan mana operator yang mempersulit akses, tidak transparan, atau diskriminasi kepada pesaing,” katanya.

 

Setelah regulator melakukan evaluasi, lanjutnya, akan diumumkan ke publik agar dapat dinilai komitmen dari setiap operator dominan.”Kita akan transparan untuk setiap kepentingan publik. Tidak ada dusta di antara kita,” tegasnya.

 

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI), Merza Fachys membenarkan, DPI itu tidak hanya berisikan dokumen tentang penawaran tarif interkoneksi,  tetapi lebih penting  info tentangg dimana saja titik-titik   interkoneksi yang dibuka,berapa besar kapasitasnya, serta routingnya.

 

Menurut dia, peran regulator tidak hanya menyetujui setelah mengetahui penawaran tersebut tetapi juga mengawasi setelah disetujui untuk menciptakan interkoneksi yang sehat. “Jangan seperti sekarang, DPI-nya apa, interkoneksinya dicekik berupa sedikitnya E-1 yang diberikan,” katanya. E-1 adalah kapasitas kanal yang dibutuhkan untuk membuka interkoneksi.

 

Dia mengharapkan, regulator sekarang lebih tegas jika menemukenali penawaran dari operator dominan  yang tidak maksimum dalam pembukaan kanal, atau kesengajaan merumitkan proses routing. “Lebih baik DPI seperti itu dikembalikan untuk direvisi. Soalnya itu sama saja dengan monopoli terselubung,” tegasnya.

 

Turun 20 Persen

 Berkaitan dengan penurunan tarif yang akan terjadi, Merza menduga operator dominan hanya akan menurunkan tarifnya sebesar 20 persen sesuai dengan permintaan pemerintah.”Saya yakin operator dominan akan pasang harga maximum seperti diminta pemerintah. Tetapi itu bisa dinegosiasi antaroperator nantinya,” jelasnya.

 

Tarif interkoneksi itu, lanjutnya,   harga yang ditawarkan untuk antaroperator sebagai bagian dari tarif pungut. Komponen lain untuk tarif pungut adalah biaya promosi dan margin.

 

Heru mengatakan, kebijakan tarif yang ditetapkan pemerintah saat ini sudah mengedepankan mekanisme pasar. Namun, munculnya dugaan kartel tarif dan tingginya margin keuntungan mengindikasikan macetnya mekanisme pasar.

 

Menurut Heru, dugaan tersebut mungkin saja benar adanya karena ketika biaya airtime dihapuskan, tetap saja masyarakat merasakan tarif mahal. Padahal Airtime menyumbang 10 persen untuk menentukan tarif pungut.  “Melihat gejala ini, bagaimanapun kita membuat kebijakan, jika tidak ada keinginan menurunkan tarif dari operator, lupakan saja itu (penurunan tarif) terwujud,” tegasnya.

 

Secara terpisah, VP Public & Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia mengatakan, Telkom siap menjalani regulasi yang ditetapkan termasuk keharusan DPI-nya disetujui regulator.”Kita ikut saja atiuran. DPI kami mengindikasikan penurunan tarif sesuai permintaan pemerintah yakni sebesar 20 persen,” jelasnya.[DNI]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s